Assalamu 'alaikum Gus Mus,
Alhamdulillah senang banget bisa terlibat dalam komunikasi ini. Saya baru beberapa hari ini mengenal Komunitas MataAir, itu pun dari majalah Mata Air, yang kemudian saya teruskan dengan mengajukan diri untuk menjadi agen Majalah Mata Air untuk wilayah Ungaran dan sekitarnya. Saya senang dengan cita-cita yang hendak menebar rahmat pada sesama. Nah, yang menjadi pertanyaan sekaligus permohonan dari saya adalah, apakah komunitas MataAir ini hanya berada di dalam dunia maya (media internet) ? Terus kalau saya baca tentang Komunitas ini, wilayah pembentukannya kan di Ibukota, lantas mungkin tidak kalau kami yang berada di luar Jakarta dan tidak ada hubungan spesial dengan Gus Mus (bekas santri di Rembang, tidak punya kedekatan dengan NU....) hendak mengembangkan Komunitas MataAir di wilayah kami ? Saya pingin banget atribut Komunitas ini bisa saya hadirkan di wilayah kami.
Kiranya demikian dan terima kasih.
Penanya : Supardi Annifari (pardi) pada 19 Desember 2008 23:47:53
Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Komunitas MataAir bukanlah organisasi. Ia merupakan komunitas anak-cucu Adam. Siapun yang merasa anakcucu nabi Adam dan setuju dengan motto: Menyembah yang Maha Esa; Menghormati yang lebih tua; Menyayangi yang lebih muda; Mengasihi sesama, bisa bergabung. Komunitas MataAir bersifat kekeluargaan dan tidak membatasi siapa pun yang akan menggunakan nama MataAir. Saudara-saudara kita di Jakarta, misalnya, mendirikan Yasasan MataAir Jakarta dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi sesama, seperti membuat web gusmus.net ini, majalah MataAir, pengajian rutin sebulan sekali, dsb. Di Surabaya ada MataAir Publishing yang menerbitkan buku-buku dengan tema yang kurang lebih sama: menebar kasihsayang. Demikian pula di Yogya dan daerah-daerah lain.
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.