Gus Mus, saya sungguh ingin bertanya :
1. Apa arti jabatan dan kekuasaan menurut Gus Mus?
2. Apa filosofi Kepemimpinan menurut Gus Mus?
3. Bagaimanakah Pemimpin yang baik?
4. Sebagai pemuda, bagaimanakah tips untuk Istiqomah dalam kebaikan?
Sekian Gus Mus. Matur suwun. Dan selamat menunaikan ibadah haji.
Salam ta'dzim,
Taufiq
Penanya : M. Taufiqurrohman (Taufiq) pada 14 Desember 2005 23:49:29
Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatuLlahi wabarakatuH.
Terimakasih atas doamu.
Jawaban saya:
1. Jabatan dan kekuasaan menurut saya adalah AMANAT dan TANGGUNG JAWAB.
2. Kepemimpinan bagi saya adalah PELAYANAN dan KETELADANAN
3. Pemimpin yang baik adalah yang MEMIMPIN bukan DIPIMPIN
4. Usahakan sikap sedang-sedang (tidak berlebihan) dalam segala hal, termasuk beribadah. Budayakan tawashau bilhaqqi watawashau bishshabri.
Kepentingan pembangunan–seperti juga pada jaman revolusi, yaitu kepentingan revolusi–ternyata tidak hanya memerlukan dalil aqli, tapi juga dalil naqli. Apalagi jika masyarakat menjadi subyek–atau obyek–pembangunan justru “kaum beragama”.
Apabila pembangunan itu menitikberatkan pada pembangunan material (kepentingan duniawi), meski konon tujuannya material dan spiritual (kepentingan akhirat), maka perlu dicarikan dalil-dalil tentang pentingnya materi. Minimal pentingnya menjaga “keseimbangan” antara keduanya (material bagi kehidupan dunia dan spiritual bagi kehidupan akhirat).
Maka, dalil-dalil tentang mencari–atau setidak-tidaknya tentang peringatan untuk tidak melupakan–kesejahteraan dunia, pun perlu “digali” untuk digalakkan sosialisasinya.
Tak jarang semangat ingin berpartisipasi dalam pembangunan material-- yang menjadi titik berat pembangunan– ini mendorong para dai dan kyai justru melupakan kepentingan spiritual bagi kebahagiaan akhirat. Atau, setidaknya, kurang proporsional dalam melihat kedua kepentingan itu.
Ketika berbicara tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, biasanya para dai tidak cukup menyitir doa sapu jagat saja: Rabbanaa aatinaa fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah. Biasanya, mereka juga tak lupa membawakan Hadist popular ini: I'mal lidunyaaka kaannaka ta'iesyu abadan wa'mal liakhiratika kaannaka tamuutu ghadan, yang galibnya berarti “Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi dan beramallah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi”. Kadang-kadang, dirangkaikan pula dengan firman Allah dalam Surat al-Qashash (28), ayat 77:“Wabtaghi fiimaa aataakallahu 'd-daaral aakhirata walaa tansanashiebaka min ad-dunya....” yang menurut terjemahan Depag diartikan,“Dan carikan pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi…”.