Asslmälękm Ww,
Gus Mus yg Trhormat,
bberapa tahun trakhir ini, dunia islam umumnya & islam di indonesia khususnya dpusingkan dg adanya ajaran ahmadiyah yg bner2 nyata kekafirannya & JIL yg trlalu bebas smpe2 mlampaui kaidah ajran islam &kmasukn ajrn barat, spt boleh mnikah beda agama,
yg paling membingungkn lagi adalh munculnya ulama bsar NU yg bner2 membela ahmadiyah & JIL tsb.
Ini kan sngat brbahaya,
zaman dlu j, sufi yg kebablasan dhukum mati, spt husein al khallaj, syeikh siti jenar,
lalu gmn yg skrg?
Mhn pnjelasan & sikap Gus Mus sndri dlm mnghadapinya,
trima kasih
Penanya : Sirojuddin Shodiq Alfarothy (Shodiq) pada 15 Januari 2009 09:28:20
Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatuLlahi wabarakatuH.
Seperti kata Anda, orang mulai memusingkan ajaran Ahmadiyah (baru) beberapa tahun terakhir ini. Termasuk dan apalagi JIL. Semua ini baru muncul setelah apa yang disebut 'era reformasi'. Setelah orang Indonesia kemaruk keterbukaan. Ibarat burung; lama dikurung tiba-tiba dilepas. Nabrak-nabrak.
Terus terang saja, pengetahuan saya tentang Islam masih sangat minim sekali. Terhadap keislaman saya sendiri, saya masih belum yakin apakah sudah benar sesuai yang diridhai oleh Allah SWT. Karena itu saya tidak berani menilai keislaman bahkan keberagamaan orang lain; apalagi mengkafirkan dan menghalalkan darah orang. Jangan-jangan ketika saya menyalahkan orang, ternyata hakikatnya dalam pandangan Allah justru sayalah yang sesat. Karena kebenaran yang mutlak hanya milik Allah sendiri, saya sangat takut memutlakkan kebenaran pendapat saya; takut terjerumus syirik tanpa saya sadari. Na'udzu billahi mindzalik..
Inilah sikap saya. semoga Allah mengampuni saya dan saudara-saudara saya seiman..
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.