Yth. Gus Mus. Sebenarnya saya ingin sekali silaturahmi dan sowan langsung ke panjenengan dan berbincang-bincang banyak ttg berbagai hal. Tetapi berhububung tempat saya jauh di Pontianak maka tidak bisa Gus. Saya sebenarnya asli Semarang, tetapi karena alasan pekerjaan maka tinggal saya di Pontianak 2 tahun terakhir ini. Saya sebenarnya awam dalam hal agama Islam, dan sedang mencari jatidiri Islam dalam diri saya. Terkadang saya juga kurang sreg dengan beberapa pemahaman kelompok Islam tertentu yang mungkin dalam beberapa hal& tindakan kurang dapat saya terima.
Gus Mus, saya ada beberapa pertanyaan yang mengganjal:
1. Apakah benar jika kita mau berterimakasih harus mengucap syukron atau jazakumullah?ini sebuah sunnah atau hanya tradisi saja?
2. Apakah benar jika bulan muharram/suro itu tidak boleh melakukan hajatan. Apakah ini ada dalil yg mendasarinya atau tidak?
3. Bagaimanakah jika kita bersalaman dengan wanita yg bukan muhrimnya, misalkan dalam resepsi pernikahan. Apakah berdosa?Biasanya saya bersalaman sedikit sebagian ujung jari menempel jika dengan wanita, ataukah tidak usah bersalaman saja saja?Tetapi saya pikir-pikir jika dengan niat yang baik utk salaman, menurut sy tidak apa-apa(ini menurut saya Gus), soalnya ada hadist yg haram menyentuh wanita yg bukan muhrim?apakah ini termasuk bersalaman juga?
Mohon dijawab ya Gus.
Gus, mohon doanya dari Gus Mus, supaya saya tetap bisa istiqomah. Semoga kapan-kapan kita bisa bertemu.
Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wa barakatuh.
Penanya : Praditya (Kepra) pada 29 Desember 2008 09:29:35
Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatuLlahi wabarakatuH.
Maaf mas Praditya; karena kesibukan, saya akan menjawab langsung dan lugas saja pertanyaan Anda:
1. Tidak benar. Itu hanya kebiasaan untuk lebih mengungkapkan rasa terimakasih.
2. Tidak benar. Tidak ada dalilnya.
3. Dalam kondisi dimana kita merasa tidak enak bila tidak salaman, saya kira cukup sopan bila kita menangkupkan kedua belah tangan kita sebagai penghgormatan.
Semoga kita diberi kemudahan untuk tetap istiqamah.
Wassalamu 'alaikum warahamatuLlahi wabarakatuH.
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.