mantan kiai nu menggugat sholawat dan dzikir syirik
Assalmu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Yai sebelmunya saya minta maaf jika pertanyaan saya mengganggu aktifitas dan kegiatan yai mustofa, begini gus beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan ke took buku dan secara tidak sengaja saya menemukan buku berjudul “Mantan kiai nu menggugat sholawat dan dzikir syirik (Nariyah, al-fatih, munjiyat, thibbul qulub)”. Saya sangat tertarik makanya tanpa pikr panjang saya langsung membelinya. Ternyata yang dibahas dibuku ini semua mengungkap kesyirikan dari sholawat dan dzikir yang biasa say abaca, termasuk sholawat yang sudah banyak di kenal kalangan nu yaitu sholawat nariyah, dikatakan dibuku ini sholawat nariyah tersebut mengandung arti yang syirik karena memohon pertolongan kepada rasullulah Muhammad.saw,
“Wahai allah! Curahkanlah rahmat yang sempurna dan kesejahteraan yang sempurna kepada sayyidina Muhammad sebanyak jumlah kedipan mata, hembusan nafas dan sebanyak seluruh apa yang engkau ketahui. Yang dengannya segala ikatan menjadi lepas (segala kesulitan akan terselesaikan, bukan dengan allah tapi karena rasulullah), segala kesedihan akan lenyap karenanya(jadi bukan karena pertolongan, rahmat, atau karunia allah) dan dengannya segala cita-cita tercapai, dengannya pula segala kebutuhan akan terenuhi, dan dengan wajahnya yang mulia awan berubah menjadi hujan”.
Begitulah yang ditulis dalam buku yang di tulis H.Mahrus Ali ini (ditulis didalam buku tersebut bahwa beliau adalah alumni Ponpes Langitan Tuban). Saya pernah baca bahwa yang membuat sholawat nariyah syirik adalah kata “bihi”, jika “bihi” diganti denga “biha” maka artinya akan berubah dan unsur kesyirikannya akan hilang. Tetapi menurut buku ini itu tetap jelek karena membaca sholawat tersebut dengan syarat allah melenyapkan kesulitan kita, kesedihan kita. Jadi membaca sholawat tersebut kurang ikhlas, ini namanya Su’ul adab.tiada dalilnya. Sebenarnya masih banyak yang dibahas dalam buku ini namun tidak mungkin saya ungkapkan semuanya.
Bagaimana menurut gus mus tentang hal ini? terus terang ini sangat mengganggu saya karena tidak sesuai dengan apa yang saya yakini selama ini.
Demikian dulu yai, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terima kasih. Serta saya sangat berharap gus mus mau menjawabnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Penanya : Syaiful Arifin (Arifin) pada 26 Nopember 2007 14:43:14
Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatuLlahi wabarakatuH.
Buku itu sudah diconter dengan buku hasil kajian kiai-kiai Jember dan Jawa Timur. Ketika diundang di UIN Surabaya untuk berdiskusi tentang pendapat-pendapatnya, si pengaku mantan kiai nu itu tidak mau datang. Coba Anda hubungi Lajnah Ta'lif Wan Nasyr Jawa Timur atau Penrbit "Khalista" Surabaya (telpon: (031) 8415832.
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.