Setelah rentetan musibah kemarin tgl 1-10-2005 di Bali dan yang lalu-lalu......(Mandala Air Lines, Bencana Alam, dll.)
Apakah kita sudah membutakan Hati untuk mengabaikannya dengan urusan-urusan yang semakin padat dan meng-Ghofilkan diri dengan makhom dan fitrah kita masing-masing, dan hanya sekedar berucap "Innalillah wainna ilaihi roji'un atau sekedar ber-istighfar"
mungkin inilah fitrah manusia begitu juga dengan saya yang gemar akan kelalaian dan kesombongan.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Penanya : alfan subagio (alfan) pada 3 Oktober 2005 10:22:56
Jawab:
Wa'alaikumussalam warahmatuLlahi wabarakatuH.
Ya, seharusnya musibah-musibah itu sudah cukup untuk menyadarkan mereka yang mempunyai nurani. Tapi Allah jua Yang kuasa menggerakkan hati untuk sadar.
Mudah-mudahan Ramadan ini, dapat kita jadikan momentum untuk merenungkan itu semua.
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.