Petunjuk Pemanfaatan Website
Agenda Buku Tamu
F.A.Q » Frequently Asked Question
Kembali ke halaman depan
Halaman Utama Percik » Kata-kata Mutiara Telaga » Kajian Tasawuf dan Tafsir Gemericik » Humor ala Gus Mus Embun » Budaya Teratai » Kisah Ringan Teladan Tepian » Komentar atas Berita dan Tulisan Rumput » Dunia Santri Gerimis » Doa-doa Tunas » Kiprah Pemuda Muara » Catatan Kritis dan Analisis Aktual
« Februari 2010 »
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28            

PERCIK » Kata-kata Mutiara
»Lupa Kepada Allah (16 Desember 2009 19:47:54)
»Mengakui Kesalahan (5 Desember 2009 10:35:53)

TELAGA » Kajian Tasawuf dan Tafsir
»Kitab dan Buku (15 Desember 2009 11:28:54)
»Mati Syahid dan Pemahaman Imporan (21 Oktober 2009 16:00:20)

GEMERICIK » Humor ala Gus Mus
»"Ora Usah Melu Macam-macam" (7 Desember 2009 13:04:04)
»Cara Keledai Membaca (1 September 2009 12:37:43)

EMBUN » Budaya
»PESONA (26 Desember 2009 00:55:45)
»NEGERKU (27 Oktober 2009 11:29:42)

TERATAI » Kisah Ringan Teladan
»Aria Bima Tidak Ingin Anaknya Manja (11 Januari 2010 12:49:33)
»Selamat Jalan Pak Said Budairy (30 Nopember 2009 22:09:08)

TEPIAN » Komentar atas Berita dan Tulisan
»Gus Mus: Gus Dur Layak Masuk Guiness Book of Record (8 Februari 2010 22:52:17)
»Gus Mus: Gus Dur Tokoh Paling Populer Abad Ini (2 Januari 2010 16:35:27)

RUMPUT » Dunia Santri
»KH ZAINUL ARIFIN; Mengenang Seabad Sang Wakil Perdana Menteri (14 Nopember 2009 10:09:40)
»Cerita Ringan Ulil Abshar Abdalla: Puasa Hari Pertama di Boston (5 September 2009 13:16:06)

GERIMIS » Doa-doa
»DOA IJAZAH RASULULLAH SAW KEPADA SHAHABAT ABU BAKAR ASH-SHIDDIEQ R.A. (30 Nopember 2008 08:31:08)
»Doa Ma'tsurat (16 Agustus 2008 11:39:51)

TUNAS » Kiprah Pemuda
»Pesantren Kilat MataAir Sukses Masuk PTN 2009: "From Pesantren to PTN" (28 Januari 2010 07:03:25)
»Trend Pesantren Mahasiswa, Kuliah Plus Nyantri (16 Desember 2009 14:50:54)

MATA AIR » Napak Tilas
»FID-DUNYA HASANAH WAFIL-AKHIRATI HASANAH (16 Nopember 2009 10:17:04)
»Idul Fitri dan Menjaga Kebersamaan (2 September 2009 10:44:48)

MUARA » Catatan Kritis dan Analisis Aktual
»Fenomena Gus Dur (8 Februari 2010 15:18:28)
»Selamat Jalan Wahai Kesederhanaan (Sebuah kenangan tentang Gus Dur) (11 Januari 2010 14:10:41)

Telah Terbit Majalah MataAir Edisi 32 "Buku-buku Penebar Teror". Dapatkan di Gramedia se-Jakarta
TUNAS » Kiprah Pemuda

Young Intellectual Icon
27 September 2005 21:37:34 | Share

Berbeda dengan intelektual publik yang suka gembar-gembor walaupun sebenarnya miskin basis keilmuan dan metodologi, intelektual ikon cenderung lebih tertarik untuk melakukan studi secara mendalam dan melakukan verifikasi secara akurat sebelum mengeluarkan pendapat dan mempublikasikan gagasannya. Entah dalam bentuk teori ataupun sekedar analisis dalam merespon kondisi aktual.

Aktivitas dan tanggungjawab moral yang diemban intelektual ikon memang sangat besar dan melelahkan. Karena itu mencari intelektual ikon di tanah air tidak mudah. Tidak seperti mencari sarjana dengan almamater yang tidak jelas. Karena menjadi intelektual ikon tidak cukup hanya dengan mengandalkan uang.

Tokoh muda tunas kali ini akan menampilkan young intelectual icon yang jumlahnya di negeri ini dapat dihitung dengan jari. Terlahir dengan nama Jawa deles, Sumanto. Dan agar lebih keren dan nyantri di embel-embeli Al Qurtuby. Barangkali karena nama itu, sosok yang satu ini tampil ceplas-ceplos, berani menentang mainstream, cerdas tapi toleran.

Sumanto Al Qurtuby sejak awal kuliah di IAIN Walisongo sudah bergaul dengan berbagai aliran pemikiran agama, filsafat, sosiologi dan lain-lain terutama selama belajar intensif bersama Justisia (Majalah Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang). Jadilah sosok anak muda yang anti kemapanan, termasuk dalam bidang pemikiran keagamaan. Dengan sendirinya fundamentalisme dan kekerasan atas nama agama sama sekali tidak mendapat tempat yang semestinya di hati dan otak pemuda Sumanto.

Bahkan, Sumanto Al Qurtuby semakin menapakkan jatidiri dan pilihan hidupnya dengan malang melintang dalam aktivitas dan pergaulan yang bagi sebagian besar masyarakat tergolong nyleneh, bergaul dengan pendeta, bahkan juga dengan kaum homoseksual. Untuk lebih mudah meramu aktivitas keseharian, bersama teman-teman sebayanya di IAIN Walisongo, Sumanto mendirikan ILHAM Institute (Institut Lintas Humaniora dan Agama/Institute of Cross Religion and Humanity), lembaga "interfaith" yang tujuan utamanya untuk merajut pergaulan yang "beyond belief" dan "beyond ethnic identity".

Salah satu bukti ketekunan dan kecermatannya dalam melakukan studi ilmiah, serta hobbynya menentang mainstream adalah tesis yang mengantarkannya meraih gelar Magister Sosiologi Agama dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Tesis Sejarah yang berisi penelusuran terhadap peran serta Tionghoa dalam penyebaran Islam di Indonesia itu berhasil memecah kebekuan teori masuknya Islam ke tanah air. Dalam situasi dan kondisi politik yang kurang berpihak kepada masyarakat etnis Tionghoa, Teori yang dikemukakan Sumanto bahwa Masyarakat etnis Tionghoa berperan besar dalam penyebaran Islam di Indonesia, menjadi angin segar bagi warga Tionghoa dan keturunannya.

Karena mayoritas masyarakat Indonesia memeluk agama Islam, konflik-konflik rasial di tanah air yang acap melibatkan etnis Tionghoa sebagai korban, dengan sendirinya akan tereliminasi, atau minimal akan terkurangi.

Keseriusannya dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama, semakin terlihat dari kegemarannya berceramah di gereja, sudah tak terhitung aktivitasnya menyampaikan ceramah di depan jamaah umat Kristen, tidak hanya di Jawa, tapi juga ke gereja-gereja di Papua, Maluku dan bahkan sampai ke gereja-gereja terpencil.

Sumanto memang termasuk pemuda pantang menyerah dan tidak pernah cepat merasa puas. Untuk menambah bekal pengetahuan yang dimilikinya, dia tidak segan-segan untuk jauh-jauh terbang ke negeri Paman Sam. Tahun ini, sembari mempersiapkan kelanjutan studi ke jenjang MA di bidang "peace building & conflict resolution" di Eastern Mennonite University, Virginia, USA & sekaligus jenjang doctoral (Ph.D) di Graduate Theological Union, Berkeley, USA, di sana Sumanto juga terlibat aktif dalam berbagai “pembicaraan serius” tentang perdamaian baik sebagai partisipan maupun sebagai resource person.

Pergaulan lintas agama dan etnis serta keseriusannya terlibat aktif untuk mewujudkan perdamaian, kerukunan umat beragama dan aktivitas-aktiviats sosial lainnya itu yang semakin memperkuat pengalaman dan basis pengetahuannya sebagai bekal menjadi intelektual ikon.

Maju terus sahabat ! (Amn)


KOMENTAR

Belum ada komentar untuk tulisan ini

Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar

« Kembali ke arsip Tunas

FID-DUNYA HASANAH WAFIL-AKHIRATI HASANAH
16 Nopember 2009 10:17:04
Oleh: A. Mustofa Bisri

Kepentingan pembangunan–seperti juga pada jaman revolusi, yaitu kepentingan revolusi–ternyata tidak hanya memerlukan dalil aqli, tapi juga dalil naqli. Apalagi jika masyarakat menjadi subyek–atau obyek–pembangunan justru “kaum beragama”.

Apabila pembangunan itu menitikberatkan pada pembangunan material (kepentingan duniawi), meski konon tujuannya material dan spiritual (kepentingan akhirat), maka perlu dicarikan dalil-dalil tentang pentingnya materi. Minimal pentingnya menjaga “keseimbangan” antara keduanya (material bagi kehidupan dunia dan spiritual bagi kehidupan akhirat).

Maka, dalil-dalil tentang mencari–atau setidak-tidaknya tentang peringatan untuk tidak melupakan–kesejahteraan dunia, pun perlu “digali” untuk digalakkan sosialisasinya.

Tak jarang semangat ingin berpartisipasi dalam pembangunan material-- yang menjadi titik berat pembangunan– ini mendorong para dai dan kyai justru melupakan kepentingan spiritual bagi kebahagiaan akhirat. Atau, setidaknya, kurang proporsional dalam melihat kedua kepentingan itu.

Ketika berbicara tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, biasanya para dai tidak cukup menyitir doa sapu jagat saja: Rabbanaa aatinaa fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah. Biasanya, mereka juga tak lupa membawakan Hadist popular ini: I'mal lidunyaaka kaannaka ta'iesyu abadan wa'mal liakhiratika kaannaka tamuutu ghadan, yang galibnya berarti “Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi dan beramallah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi”. Kadang-kadang, dirangkaikan pula dengan firman Allah dalam Surat al-Qashash (28), ayat 77:“Wabtaghi fiimaa aataakallahu 'd-daaral aakhirata walaa tansanashiebaka min ad-dunya....” yang menurut terjemahan Depag diartikan,“Dan carikan pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi…”.

(9 komentar) | Selengkapnya »

Napak Tilas lainnya:
»Idul Fitri dan Menjaga Kebersamaan (2 September 2009 10:44:48)
»KEKELOMPOKAN JAHILIYAH (27 Juli 2009 20:11:55)
»Model Ideal Kyai Indonesia (6 Juli 2009 09:55:46)
»Umat dan Perbedaan (19 Juni 2009 18:59:51)

Login Anggota
Email:
Password:
  
Lupa Password
Daftar Menjadi Anggota
Tentang Komunitas Mata Air

Palung » Galeria

Doctor Honoris Causa Gus Mus


"SK penganugerahan ini tidak akan dicabut;" kata Rektor...

Arsip Palung » Galeria

RIAK » Video

Lihat Detail | Arsip Riak

Jajak Pendapat
Muktamar NU akan berlangsung Maret 2010. Apa sebaiknya fokus program NU 5 tahun ke depan.
Politik, dengan mengupayakan ishlah PKB dan mendorong kader-kader NU berkompetisi dalam Pilkada
Ekonomi, dengan melakukan optimalisasi kopontren, BMT, BPR Nusumma atau Lembaga Keuangan Mikro Syariah sehingga warga NU dapat mengakses kredit mikro
Pendidikan, dengan memperluas akses santri/pelajar NU utk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan meningkatkan kualitas pesantren/madrasah
Toleransi Beragama, dengan mendorong keharmonisan antar umat beragama dan menempatkan NU sebagai perekat bangsa
Hubungan Internasional, dengan menjadikan NU sebagai mediator dan fasilitator bagi penyelesaian konflik di dunia Islam
Sosial-Keagamaan, dengan mendorong NU sebagai ormas Islam yang "wasathan", bukan fundamentalis dan tidak liberal
Lihat Hasil | Arsip
Kerikil »

 

Presiden SBY khawatir dimakzulkan karena Kasus Century

ingat pepatah lama; berani karena benar, takut karena salah
 

© 2005 GusMus.NET. Managed by Komunitas Mata Air. Powered by TRANSFORMATIKA.