TUNAS » Kiprah Pemuda
Trend Pesantren Mahasiswa, Kuliah Plus Nyantri 16 Desember 2009 14:50:54 | Share
 Beberapa tahun terakhir, makin marak didirikan Pesantren Mahasiswa di dekat kampus-kampus PTN yang ”sekuler”. Mungkinkah ini solusi bagi problematika kehidupan mahasiswa di kampus yang makin bebas dan jauh dari nilai-nilai Islam?
Model pesantren mahasiswa pertama yang cukup sukses adalah Pesantren Al Hikam di Malang yang lokasinya berdekatan dengan beberapa kampus di Malang seperti Universitas Islam Negeri Malang (UIN Malang), Universitas Brawijaya (Unbraw) dan lain-lain. Pesantren Mahasiswa Al Hikam yang digagas oleh KH Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU) sejak tahun 1992. Pesma Al Hikam diperuntukkan bagi mahasiswa-mahasiswa dari kampus umum (non agama). Mengapa hanya mahasiswa dari kampus umum? Karena, Pesma Al Hikam ingin menggabungkan dimensi positif perguruan tinggi dan pesantren, dimana keduanya harus dicapai bersama-sama untuk mewujudkan generasi yang mempunyai penguasaan ilmu pengetahuan dan terknologi serta memiliki kepribadian dan moralitas yang baik.
Menurut KH Hasyim Muzadi adalah sangat penting untuk dapat meletakkan nilai tauhid ke dalam wilayah keilmuan yang dikaji mahasiswa sehingga Ilmu pengetahuan dan Teknologi akan memperoleh signifikansi metafisik dan spiritual dari ajaran agama dan sebaliknya ajaran agama akan mendapatkan signifikasi dan justifikasi secara objektif dalam alur disiplin ilmiah.
Disamping itu juga tidak dapat disangkal bahwa produk pendidikan saat ini ditambah dengan budaya pragmatis yang berkembang di masyarakat Indonesia, menjadikan manusia (mahasiswa) bergerak di ruang yang sangat sempit.
Hal inilah yang menjadi salah satu keprihatinan Pesantren Mahasiswa Al Hikam, yang menurut bahasa KH Hasyim Muzadi, “Mahasiswa belajar di fakultas hukum akan tetapi jauh dari realitas keadilan, belajar di fakultas ekonomi tetapi tidak dididik untuk mensejahterakan rakyat, kuliah di fakultas agama tetapi asing dari perilaku agama.”
Kuliah Plus Nyantri
Meniru kesuksesan di Malang, KH Hasyim Muzadi pun kemudian mendirikan Pesantren Al Hikam II di Depok, berlokasi persis di kelurahan Kukusan samping Kampus UI Depok. Saat ini bangunan masjid telah berdiri dan rutin menyelenggarakan shalat berjamaah, shalat Jumat dan TPA bagi masyarakat sekitar. Walaupun belum ada mahasiswa yang nyantri, karena gedung asrama belum selesai dibangun, namun Pesantren Al Hikam II sudah banyak dimanfaatkan oleh sejumlah mahasiswa UI yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Depok. Terakhir, PMII UI mengadakan silaturahim dengan KH Hasyim Muzadi dan Konferensi Cabang di Pesantren Al Hikam II.
Sementara itu, tidak jauh dari Al Hikam II, sejak tiga tahun lalu telah berdiri Pesantren Mahasiswa Mutiara Bangsa yang didirikan KH Ahmad Jauhari. Pesma Mutiara Bangsa bahkan telah memiliki asrama sehingga sekitar 15 mahasiswa UI dari berbagai fakultas telah nyantri di pesantren tersebut. Senada dengan KH Hasyim Muzadi, pendiri Pesantren Mutiara Bangsa, KH Ahmad Jauhari ingin agar mahasiswa-mahasiswa UI yang notabene adalah kampus umum dapat memperdalam ilmu agamanya sehingga menjadi intelektual muda yang menguasai ilmu umum sekaligus mempunyai wawasan keagamaan yang utuh sehingga tidak mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran sesat dan radikal.
Sejak resmi menerima mahasiswa yang ingin nyantri tiga tahun lalu, sudah banyak orang tua mahasiswa yang ingin menitipkan anak-anaknya di pesantren. ”Banyak orang tua mahasiswa yang khawatir dengan pergaulan bebas di kost-kost-an, makanya mereka ingin anak-anaknya ”kost” sekaligus nyantri di Mutiara Bangsa”, urai KH Ahmad Jauhari yang juga pejabat di Departemen Agama. Sayangnya, Pesma Mutiara Bangsa belum menerima mahasiswa putri untuk nyantri, karena kapasitas asrama yang terbatas, ”Padahal permintaan orang tua mahasiswa putri untuk menyantrikan anaknya di Mutiara Bangsa sangat banyak”, tandas KH Ahmad Jauhari. Ia menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan asrama putri sudah berdiri, sehingga Pesma Mutiara Bangsa dapat menerima mahasiswa putri.
Seorang santri Pesma Mutiara Bangsa, Abdurrahman yang kuliah di Sastra Inggris UI mengatakan bahwa aktivitas sehari-sehari di Mutiara Bangsa seperti shalat berjamaah, pengajian tafsir Qur’an, Hadits, Fiqh dan lain-lain telah mencegahnya dari pergaulan bebas yang makin marak di kampus.
"Sepulang kuliah di UI, sore saya langsung pulang ke pesantren dan ngaji di sana”, urai Abdurrahman yang baru saja terpilih sebagai ketua umum PMII Depok. Dengan ”ngekost” di pesantren, Abdurrahman mengaku sangat beruntung karena dapat menambah ilmu agamanya walaupun ia kuliah di jurusan umum yang tidak ada materi kuliah agama. So, tunggu apalagi, daripada ngekost di kost-an biasa yang rawan pergaulan bebas, mending nyantri di Pesantren Mahasiswa, ilmu umum dapat, ilmu agama pun bertambah. (Alf)
| KOMENTAR |
Didin Riswanto (Kang DidinMERAHPUTIH) menulis: sip tujuan mulia wajib didukung |
habiburrohman (habib) menulis: sya pegen seperti itu sebenranya tapi keterbatasan biaya....membuat saya terpilihkan kuliah dengan sistem long distane.....apakah saya bisa menerima yang seprti itu.............kuliah ama nyantri...trima kasih |
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar | « Kembali ke arsip Tunas
|