Kiai Bisri Mustofa 22 Desember 2006 19:48:37 | Share
K.H. Bisri Mustofa adalah seorang kiai kharismatik pendiri pondok pesantren Raudhatut Thalibin Rembang JawaTengah. Ia dilahirkan di Kampung Sawahan Gang Palen Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915. Sewaktu kecil ia diberi nama Mashadi oleh kedua orang tuanya, Yaitu H. Zainal Mustofa dan Chodijah. Selanjutnya setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1923 ia menganti nama dengan Bisri.
Pada masa kecil KH. Bisri Mustofa merupakan sosok anak yang malas belajar dan mengaji di pondok pesantren. Bahkan ia lebih menyukai bekerja untuk mencari uang daripada mengaji. Akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, sampai pada akhirnya ia bersedia untuk mengaji di pesantren dan menekuni ilmu-ilmu agama. KH. Bisri Mustofa belajar dan menekuni ilmu-ilmu agama di pesantren kasingan Rembang yang diasuh oleh Kiai Cholil. Di pesantren inilah ia kemudian menekuni ilmu-ilmu agama selanjutnya menjadi bekal yang paling berharga di dalam kehidupannya.
Selain di pesantren Kasingan Rembang ia juga mengaji pasanan (pengajian pada bulan puasa) di pesatren Tebuireng Jombang asuhan KH Hasyim Asy’ari. Selain itu KH. Bisri Mustofa juga pernah mengaji untuk memperdalam ilmunya di kota suci Makkah pada tahun 1936 kepada Kiai Bakir, Syaikh Umar Khamdan Al-Magrib. Syaik Maliki, Syyid Amir, Syaikh Hasan Masysyath, dan kiai Abdul Muhaimin.
Selain sebagai guru, Kiai Cholil adalah mertua KH Bisri Mustofa karena ia dinikahkan dengan putrinya yang bernama Marufah. Pernikahannya dengan Ma’rufah ini, KH. Bisri Mustofa dikaruniai delapan orang anak, yaitu : Cholil, Mustofa, Adieb, Faridah, Najichah, labib, Nihayah dan Atikah. Kehidupan KH Mustofa Bisri mengalami berbagai dinamika seiring dengan berjalannya waktu dengan kondisi zaman waktu itu. Ia mengalami pahitnya hidup pada zaman penjajahan jepang, masa awal kemerdekaan sampai pemberontakan G 30 S. PKI.
Setelah wafatnya Kiai Cholil, KH Bisri Mustofa ikut aktif dalam mengajar santri-santri di pondok pesantren kasingan Rembang tersebut bubar pada masa pendudukan jepang, kemudian KH Bisri Mustofa meneruskan pesantren tersebut di Jl. Leteh Rembang yang diberi nama pesantren Raudhatut Thaliban. KH Bisri Mustofa adalah seorang kiai yang mendididik para santrinya dengan penuh kasih sayang meskipun ia adalah seorang yang sangat sibuk, akan tetapi jarang sekali ia meningalkan waktu mengajar para santrinya.
Selain sebagai kiai yang mengasung pesatren KH. Bisri Mustofa adalah seorang politikus handal yang disegani semua kalangan. Sebelum NU keluar dari Masyumi KH. Bisri Mustofa adalah seorang aktifis Masyumi yang sangat gigih berjuang akan tetapi setelah NU menyatakan diri keluar dari Masyumi, ia pun keluar dari Masyumi dan berjuang di NU. Pada pemilu 1955 KH. Bisri Mustofa terpilih menjadi angota konstituante yang merupakan wakil dari partai NU setelah ada Dekrit presiden pada tahun 1959 yang membubarkan dewan konstituante dan dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (MPRS), KH. Bisri Mustofa juga ditunjuk sebagai anggota MPRS dari unsur ulama. Kemudian pada pemilu 1971 iapun tetap konsisten berjuang di partai NU yang selanjutnya menghantarkan dirinya menjadi angota MPR dari daerah Jawa Tengah.
Sewaktu pemerintahan Orde Baru Menerapkan fusi atas partai-partai yang ada waktu itu, sehinga partai NU pun harus berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), KH. Bisri Mustofa pun akhirnya bergabung di PP dan memperjuangkan partai tersebut. Pada pemilu tahun 1977 ia pun masuk daftar calon legislatif (caleg) dari PPP dari daerah pemilihan Jawa Tengah. Akan tetapi ketika masa kampanye kurang seminggu lagi tetapnya Hari Rabu tanggal 17 Februari 1977 ( 27 Shafar 1397 H) menjelang waktu Ashar KH Bisri Mustofa dipanggil kehariban Allah SWT untuk selama-lamanya.
KH Bisri Mustofa dikenal sebagai tokoh yang handal berpidato. Ia adalah seorang orator. Dalam setiap kampanyenya ia pasti jadi juru kampanye adalan partainya. Kemampuan panggung KH Bisri memang tak terbantah dan diakui oleh siapa pun. Benar apa yang digambarkan KH. Syaifuddin Zuhri bahwa KH. Bisri adalah orator, ahli pidato yang mengutarakan hal-hal sebenarnya sulit menjadi gamblang. Mudah diterima oleh orang desa maupun kota. Yang membosankan menjadi mengasyikkan. Kritikan-kritikan tajam meluncur begitu saja dengan lancar dan menyegarkan pihak yang terkena kritik tidak marah karena disampaikan secara sopan dan menyegarkan. Selain itu ia pun menghibur dengan humor-humornya yang membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal.
Pemikiran keagamaan KH. Bisri Mustofa oleh banyak kalangan dinilai bersifat moderat. Sifat moderat KH. Bisri Mustofa merupakan sikap yang diambil dengan pendekatkan ushul fiqh yang mengendapkan kemaslahatan dan kebaikan umat Islam yang disesuikan dengan situasi dan kondisi zaman serta masyrakatnya. Oleh karena itu, pemikirannya sangat kontektual.
KH. Bisri Mustofa adalah seorang ulama Sunni yang gigih menperjuangkan konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Obsesinya untuk membumikan konsep Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang sampai tiga kali revisi untuk disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Dan masyarakat. Ia juga menyerukan adanya konsep amar ma'ruf nahi munkar yang dimaknai dan di dasari oleh solidaritasa dan kepedulian sosial. Obsesinya untuk menegakan amar ma'ruf nahi munkar ini ditujukan dengan sejajar konsep tersebut dengan rukun-rukun islam yang ada lima. Ia sering mengatakan bahwa seandainya boleh maka rukun islam yang ada lima itu ditambah rukun yang keenam yaitu amar ma'ruf nahi munkar.
Pemikiran-pemikiran KH. Bisri Mustofa itu biasanya dituangkan dalam bentuk tulisan yang disusunnya menjadi buku, kitab-kitab dan lain sebgainya. Banyak sekali hasil karyanya yang sekarang ini menjadi rujukan para ulama yang mengajar dipesantrwn dan pegangan bagi para santri. dari hasil penulis wawancara dengan KH. Chollil Bisri dijelaskan bahwa seluruh hasil karya KH. Bisri Mustofa yang telah dicetak kira-kira jumlahnya 176 buku/kitab.
Selain menjadi kiai yang alim, politikus yang handal, pengarang yang produktif. KH. Bisri Mustofa juga dikenal sebagai satrawan atau seniman. Hal ini dibuktikan dengan hasil karyannya yang berupa syair-syair atau puisi-puisi yang penuh dengan pesan-pesan moral bagi masyarakat. Ia juga pernah menulis drama tentang cinta kisah Nabi Yusuf dan Siti Zulaicha yang kemudian ia rekam sendiri dalam bentuk monolog.
Selain hal ekonomi dan perdagangan KH. Bisri Mustofa adalah sosok yang gigih kreatif dalam menagnkap peluang usaha atau bisnis. Ia memang didik menjadi keluarga pedagang yang secara langsung atau tidak langsung memberikan pelajaran baginya dalam hal pedagang atau keuletan dan kreatifitas hidupnya dapat dilihat dari perjalanan dari zaman Jepang sampai akhir masa hidupnya. KH. Bisri Mustofa juga pernah mendirikan Yayasan yang bergerak dibidang ekonomi dan perdagangan yaitu Yayasan Mu'awanah Lil Muslimin (YAMU'ALIM).
Pada tahun 197-an KH. Bisri Mustofa telah menikah untuk kedua kalinya dengan perempuan asal Jawa Tengah yang bernama Umi Atiyah. Dalam pernikahan dengan istri kedua KH. Bisri Mustofa dikarunai seorang anak laki-laki yang diberi nama Maemun. (A. Zaenal Huda)
KOMENTAR
wijiwilopo (wiji) menulis: semoga kegigihannya menjadi suri touladan buat generasi mendatang
Eko Farisul A'la (faris) menulis: semoga Alloh swt. mengampuni kesalahan-kesalahannya dan menerima amal-amalnya...........
lantas apalagi................
apa sejarah hanya sebatas sejarah?
hamam nasirudin (hamam) menulis: semoga gus mus tetap istiqomah menjadi suri tauladan yang baik
hamam nasirudin (hamam) menulis: namamu yang begitu harum akan menghilangkan busuknya keangkara murkaan dunia ini
Sapto Raharjo (Mbah Sapto) menulis: tERNYATA gUS mUS PUNYA BAKAT TERKENAL SUDAH SEJAK ZAMAN BAHELA. sEJAK DLM KANDUNGAN SDH PUNYA BAKAT TERKENAL. mAKA WAKTU KETEMU PAK hARTO PERTAMA KALI YG DICERITAKAN TDK HABIS SEBULAN ITU SDH TAKDIR, WAKTU KETEMU MENTERI AGAMA CM DIKASIH WAKTU 3 MENIT SAJA, ITU PUN JUG PROSES MENUJU KETERKENALANNYA ITU. mAT TERKENAL AJA DEH. YG SALUD MESKI TERKENAL TETAP TAWADU' DAN BERSAHAJA.
ariza fuadi (ariza) menulis: saya berharap bisa ketemu dengan gusmus suatu saat nanti dan bisa mengenalnya lebih dekat.salam takzim buat gus mus.
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.