TEPIAN » Komentar atas Berita dan Tulisan
Pada Bulan Ramadhan, Kita Kembali Menjadi Manusia Lagi 5 Oktober 2006 19:59:33 | Share
Bulan Ramadhan kita kembali menjadi manusia lagi. Kita diingatkan kembali bahwa kita ini bukan mesin. Kita yang biasanya ingin makan, ya makan, kepingin minum, ya minum, pada bulan ini harus berpikir lagi.
Demikian uraian Gus Mus tentang makna Ramadhan yang pernah dimuat oleh Harian Kompas tahun 2004 silam. Berikut kutipan seutuhnya.
PENGAJIAN di Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Senin (18/10) dini hari baru saja selesai. Meskipun harus mendampingi dan membimbing santrinya dari pagi sampai dini hari selama bulan puasa ini, masih ditambah lagi menerima sejumlah tamu, tidak ada guratan kelelahan pada wajah KH Achmad Mustofa Bisri. Sambil lesehan, duduk di tikar tempat ia biasa mengajar santrinya, ia pun menerima Kompas dengan keramahan yang khas.
Mustofa Bisri kini "sendirian" mengasuh pondok itu, setelah KH Cholil Bisri, kakak kandungnya, meninggal beberapa saat lalu. "Putra Kiai Cholil juga terlibat. Jadi, lumayan terbantu," papar Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) itu.
Memilih ingin bersama dengan santri dan keluarganya selama bulan Ramadhan, membuat kiai yang dikenal juga sebagai penyair dan pelukis itu tak bisa meninggalkan Rembang, kota kecil yang terletak sekitar 115 kilometer arah timur Kota Semarang. Ia memilih lebih memerhatikan keluarga dan santrinya, setelah-katanya-11 bulan sebelumnya hanya bertemu dengan mereka dalam hitungan menit karena kesibukan dan berbagai kepentingan.
"Ramadhan itu situasinya berbeda," papar pria kelahiran Rembang, 10 Agustus 1944, itu. Walau demikian, keinginannya berkumpul dengan keluarga selama puasa ini tidak sepenuhnya terpenuhi. Anak lelaki satu-satunya-pasangan Mustofa Bisri dan Siti Fatmah mempunyai tujuh anak, enam orang di antaranya perempuan-Mochamad Bisri Mustofa, memilih tinggal di Madura, menjadi santri di sana. "Tinggal Almas (anak keenam) yang di sini," papar kakek dari empat cucu itu.
SEBENARNYA, apa makna Ramadhan?
Orang memaknai Ramadhan berbeda-beda. Saya sendiri menganggap puasa itu sama dengan yang lain, merupakan anugerah dari Tuhan. Karena, selama sebelas bulan kita sibuk dengan berbagai macam yang kadang-kadang tidak ada kaitannya dengan kita sendiri. Bahkan, kadang kita tidak mikir diri sendiri. Karena kemurahan Tuhan, setelah sebelas bulan itu, kita diberikan satu bulan untuk merenung. Sebelas bulan yang lalu kita mengejar apa atau mungkin tidak mendapatkan apa-apa.
Ramadhan itu situasinya berbeda sekali. Gaya hidup kita berubah. Bahkan, jadwal makan kita berubah. Bulan Ramadhan kita kembali menjadi manusia lagi. Kita diingatkan kembali bahwa kita ini bukan mesin. Kita yang biasanya ingin makan, ya makan, kepingin minum, ya minum, pada bulan ini harus berpikir lagi.
Jadi semacam memaknai kehidupan kita kembali. Intinya adalah pengendalian diri. Kita dalam bulan puasa itu harus memikirkan apa yang kita lakukan agar tidak seperti yang kemarin. Ada pengendalian diri.
Jadi, semacam bulan permenungan? Dalam situasi dunia yang seperti ini, apakah orang masih bisa dengan baik memaknai bulan puasa sebagai bulan permenungan?
Justru dalam keadaan seperti ini, permenungan itu menjadi sangat penting. Karena orang dalam satu bulan itu, paling tidak dia bisa membikin jarak dengan dirinya sendiri, berdialog dengan dirinya sendiri secara intens. Apakah kemarin itu kegiatan kita, segala macam itu, sejauh mana mendukung makna dari kehadiran kita di dunia ini. Kita setiap saat dilatih untuk menahan diri. Selama ini sama sekali kita los begitu saja, enggak pakai nahan-nahan, enggak pakai pengendalian. Dalam situasi yang semacam ini kita seolah-olah bikin jarak dengan diri kita sendiri yang kemarin.
Apakah Anda melihat sebagian besar kaum Muslimin sudah memaknai puasa seperti itu?
Sayangnya, tidak. Saya katakan tadi di awal, orang berbeda-beda memaknai puasa. Ada yang menganggap puasa ini sebagai kewajiban. Artinya, jika tidak diwajibkan tidak usah dilakukan. Sehingga, kadang-kadang puasa hanya berarti mengubah jadwal makan saja. Kalau kemarin makannya siang, sekarang makannya dini hari. Kadang-kadang menunya juga berubah, lebih wah. Mereka tidak bisa menangkap makna daripada puasa itu sendiri. Artinya, puasa hanya merupakan rutinitas setiap tahun dari kehidupan mereka. Padahal, puasa itu untuk pengendalian diri, untuk permenungan. Kalau tidak diartikan seperti ini, puasa pun menjadi rutinitas. Nanti di bulan Syawal akan kembali lagi pada aktivitas sebelumnya.
Bagaimana Anda melihat kebiasaan, misalnya selama bulan puasa ini banyak orang lalu menggelar buka puasa bersama di hotel, restoran, atau di tempat lain?
Entah mulainya kapan, tetapi sampai sekarang ini ada kecenderungan orang kepada simbol agama. Jadi, yang bersifat simbol lebih disukai daripada makna yang sesungguhnya. Buka puasa bersama itu kan seperti seremoni biasa saja. Tarawih sama-sama, berbuka sama-sama. Ramai-ramai, dan itu sudah dikatakan syiar Islam. Tetapi, yang permenungan ke dalam itu saya enggak tahu apakah dilakukan juga. Sebab, kalau kita tidak melakukan permenungan ke dalam, kita tidak mendapatkan kedekatan dengan Tuhan. Kalau tidak dekat dengan Tuhan, apa yang kita lakukan itu menjadi ritual belaka. Apa yang kita lakukan selama puasa menjadi semacam seremonial juga. Kita ramai-ramai berbuka puasa bersama. Apa yang kita dapat? Sekadar ngumpul atau apa? Semestinya ada sesuatu yang lebih mulia yang kita dapatkan.
Merayakan simbol itu sampai hari ini masih lebih kuat…
Itu kesukaan orang beragama di Indonesia. Saya katakan tadi, entah mulainya kapan, orang Indonesia ini senang kepada simbol. Misalnya, senang membangun masjid. Masjid di mana-mana. Orang membangun masjid enggak karu-karuan. Kita enggak tahu apa tujuannya bikin masjid itu. Apa beribadat atau untuk jadi kebanggaan. Saya lihat ada yang berlomba-lomba baik-baikan membangun masjid. Sedangkan orang yang beribadat itu hanya pada bulan puasa dan Idul Fitri. Di hari biasa, enggak ada (isinya).
"Seperti pada puasa ini. Ketika puasa, warung dipaksa tutup semua pada siang hari. Ini kan lucu. Itu tujuannya apa? Ini menunjukkan mereka itu sebetulnya kalau ada warung enggak begitu kuat puasa atau bagaimana? Aneh. Padahal, dalam Islam orang yang bepergian jauh boleh tidak puasa'.
Seperti pada puasa ini. Ketika puasa, warung dipaksa tutup semua pada siang hari. Ini kan lucu. Itu tujuannya apa? Ini menunjukkan mereka itu sebetulnya kalau ada warung enggak begitu kuat puasa atau bagaimana? Aneh. Padahal, dalam Islam orang yang bepergian jauh boleh tidak puasa. Kalau saya ke Jakarta, warungnya tutup semua kan harus menanak nasi sendiri. Mungkin ini yang namanya kekecilan diri atau tidak percaya diri. Tidak percaya akan kuat puasa, kalau ada warung yang buka.
Sebetulnya, kalau warung banyak yang buka dan kita tetap melaksanakan ibadah puasa, berarti makna pengendalian diri kita menjadi lebih. Artinya, kita memang betul-betul mampu mengendalikan diri. Urusannya apa, kita meminta orang lain untuk membantu puasa kita. Puasa sendiri kok minta bantuan orang lain.
Bikin masjid juga gitu. Minta orang. Kalau ingin berbuat baik dengan bikin masjid supaya nanti diganti di surga, ya keluarkanlah hartamu. Jangan mengadang orang di jalan supaya ikut membangun masjid. Simbol semacam ini disukai orang. Saya juga tidak mengerti, bagaimana orang itu berpuasa, bahkan berhaji, tetapi korupsi jalan terus. Seolah-olah itu tidak ada kaitannya.
MUSTOFA Bisri merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memasuki bidang pemerintahan. Karena itu, meskipun pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dia tidak pernah mau lagi dicalonkan. Alasannya, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan rakyat. Bahkan, dalam Pemilu 2004, meskipun sudah ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jateng, dia mengundurkan diri sebelum pemilihan digelar.
"Saya harus bisa mengukur diri sendiri. Mungkin lebih baik saya tetap berada di luar, memberikan masukan dan kritikan dengan cara saya," jelas alumnus Al Azhar University, Kairo (Mesir) itu. Karena itu, ia akan kritis terhadap siapa pun yang memerintah negeri ini, seperti yang digambarkan dalam puisinya yang berjudul Kau Ini Bagaimana atawa Aku Harus Bagaimana:
Kau ini bagaimana…
Kau bilang aku merdeka
Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berfikir
Aku berfikir, kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana…
Dalam bulan puasa ini, terjadi peralihan pemerintahan di negeri kita. Anda melihat ini sebagai sebuah kebetulan atau ada pesan dari Yang Kuasa sehingga bangsa ini mau merenung, menahan diri, dan menguatkan kebersamaan seperti makna puasa?
Orang Jawa itu selalu gathuk-gathuke, mengait-kaitan sesuatu. Dulu, pas proklamasi kemerdekaan pas bulan Ramadhan. Sekarang ada transisi pemerintahan juga pas Ramadhan. Kalau saya selalu menganggap hal itu sebagai anugerah. Anugerah, karena dalam saat kita melakukan perpindahan kekuasaan, kita diberi waktu untuk merenung, berpikir lebih jauh untuk diri kita, untuk sesama kita, untuk bangsa kita, sehingga kalau orang mau merenung mau dialog dengan dirinya sendiri, maka kesejatian dirinya itu akan muncul.
Saya ini manusia, manusia yang bermasyarakat. Kita menjadi sadar dan melihat kembali, apakah yang saya lakukan selama ini sesuai norma masyarakat atau tidak. Bisa saja kemarin saya terlalu disetir kepentingan untuk saya sendiri, kepentingan kelompok saya sendiri, dan mungkin mengabaikan kebersamaan. Kita seharusnya berpikir ke situ.
Saya pernah bersama dengan sejumlah pejabat negara. Saya disuruh memimpin doa. Seusai doa, di antara pejabat tinggi itu ada yang bertanya kepada saya, kok sampeyan tidak mendoakan sampeyan sendiri atau keluarga sampeyan. Biasanya orang mendoakan keluarga, anak, dan segala macam. Saya jawab, sampeyan mendengarkan doa saya atau enggak tadi? Saya kan mendoakan bangsa ini. Saya doakan Bangsa Indonesia itu, ya termasuk anak saya, istri saya, keluarga saya, keturunan saya. Mereka semua itu masuk. Tetapi, kalau saya doakan saya sendiri, keluarga saya, belum tentu bangsa ini masuk. Saya bisa saja baik sendiri di tengah-tengah keterpurukan bangsa ini. Ini apa enaknya. Ini logikanya sederhana, tetapi sebagian pejabat kita tak mengerti. Bagaimana?
Artinya, dengan transisi pada bulan puasa, semestinya pemerintahan yang baru diingatkan untuk lebih menahan diri dan lebih peduli kepada rakyat. Begitukah?
Iya. Setidak-tidaknya, saya mengharapkan begitu. Karena ini anugerah Tuhan, jadi yang memegang kekuasaan hendaknya merenungkan kebersamaan kita dalam menahan diri ini. Ini yang harus kita lanjutkan dalam kepentingan bersama. Ini anugerah Tuhan. Kita diberi kesempatan untuk merenung, tidak seperti kemarin.
Kemarin mungkin kita tidak mempunyai pertimbangan yang banyak. Tetapi, sekarang kita merasa lapar saja teringat pada sesama kita. Mudah-mudahan ini terus berlanjut. Mereka yang memegang kekuasaan akan berusaha sekuat tenaga berjuang jangan sampai ada yang lapar di negeri ini lagi. Juga kita doakan yang memimpin negeri ini akan lebih memerhatikan kepentingan sesama sehingga tidak ada yang papa di Indonesia. Itu sangat indah kalau semuanya begitu. Sehingga, semua mengerucut untuk kepentingan bersama. Semuanya memikirkan kepentingan Indonesia. Dengan demikian, otomatis kepentingan masing-masing akan terakomodir. Ini bisa direnungkan dalam waktu sekarang.
Dengan permenungan itu, pemerintahan baru yang terbentuk diharapkan juga menjadi lebih jujur, ya?
Iya. Diharapkan lebih jujur pada diri sendiri untuk menyatukan kepentingan Indonesia. Ini semestinya sangat berpeluang dihayati oleh pemerintahan baru karena kita kini dalam kondisi permenungan. Ramadhan ini adalah ibadah.
Anda sendiri akan memosisikan di mana dalam kekuasaan ini? Tetap konsisten berada di luar lingkaran, seperti saat ini?
Saya katakan tadi, orang itu boleh mengambil posisinya masing-masing. Kalau sampeyan kepengin jadi menteri, sebagai anggota DPR, atau apa saja, ya terserah. Tetapi, yang paling pokok tujuan kita sama, yaitu untuk kebaikan bersama. Itu yang paling penting. Misalnya, saya akan mengambil sikap sebagai orang di luar yang akan terus mendukung, tetapi dukungan saya bukan dalam hal yang praktis atau teknis. Saya bisa misalnya mengingatkan, meskipun tidak institusional.
Dalam menghadapi pemilihan presiden putaran kedua, saya pernah menulis, ini seperti kita melihat badminton yang finalnya sama-sama Indonesia. All Indonesian final. Karena, kalau yang satu akan jadi, satunya jadi penyeimbang. Dalam Al Quran juga diingatkan selalu pentingnya keseimbangan agar dunia ini tetap eksis. Kalau tidak ada penyeimbang, ini akan susah sebetulnya. Kita lihat misalnya ketika masih ada Uni Soviet, Amerika Serikat enggak seperti sekarang. Merajalela. Golkar dulu pada masa Orde Baru tidak punya penyeimbang, tetapi kini ada keseimbangannya sehingga lebih baik.
Anda tetap akan berada di luar kekuasaan?
Orang kadang-kadang enggak ngerti kemampuannya. Sebetulnya orang itu gampang saja kalau dia mengerti kadar dirinya, kemampuannya. Orang tidak akan mendapatkan masalah, kalau tidak menyadari batas kemampuannya. Saya selalu mengukur diri sendiri, saya bisanya apa. Kalau saya bisanya mendoa, ya saya akan mendoa. Kalau semua orang misalnya mau mengukur dirinya sendiri, insya Allah baik bagi dirinya, baik juga bagi orang lain. Kalau tidak tahu ukurannya, ya kita bisa menemui kesulitan.
MUSTOFA Bisri bukan sekadar ulama, penyair, dan pelukis. Ia adalah juga seorang budayawan. Melalui karyanya, ia sering kali menunjukkan sikap kritisnya terhadap "budaya" yang berkembang dalam masyarakat. Tahun 2003, ketika goyang ngebor pendangdut Inul Daratista menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, penulis lebih dari 15 judul buku ini justru memamerkan lukisannya yang berjudul "Berdzikir Bersama Inul". Inilah caranya untuk mendorong "perbaikan" budaya yang berkembang saat itu.
Bagaimana Anda melihat perkembangan kebudayaan kita saat ini?
Saya melihat kita sekarang hampir semuanya menghendaki demokratisasi. Itu isu yang paling nyaring. Tetapi, saya sulit membayangkan itu akan mudah terjadi di negeri kita ini karena kita sudah lama tidak diajari berbeda. Justru yang selalu dicekokkan pada kita selama 32 tahun adalah budaya keseragaman. Bahkan, cat rumah pun pada masa lalu harus seragam. Ini memang berat.
Sebenarnya mulai dari zaman kerajaan dulu sampai sekarang, hanya ada dua watak manusia, yaitu ada penjajah dan ada orang jajahan. Kita dahulu dijajah Belanda, lalu oleh Jepang, dan kemudian dijajah oleh bangsa Indonesia sendiri. Orang yang memiliki kelebihan, apakah itu kekuasaan, kekayaan, atau kepandaian sering kali lalu seperti penjajah. Sedang yang tidak punya kekuasaan, merasa sebagai orang jajahan. Budaya ketidakadilan kita itu kan sudah ke mana-mana.
Kalau kita tarik kepada konsep Islam, manusia itu adalah sama ngawula Gusti Allah. Tetapi, oleh Allah diangkat menjadi penguasa. Umumnya manusia sekarang lebih menyadari kepenguasaannya daripada kehambaannya. Kalau masing-masing orang merasa dua-duanya, tidak ada orang yang angkuh dan tidak ada juga orang yang rendah diri karena merasa tidak mempunyai kelebihan apa-apa. Sehingga, kita bisa berbicara bersama bukan dalam posisi antara penjajah dan orang jajahan. Demokrasi bisa tetap berjalan. Budaya ini belum berkembang. Tidak hanya penguasa dunia yang merasa lebih, penguasa agama juga gitu. Dia merasa lebih daripada yang lain
Tampaknya ada pesimisme terhadap perkembangan budaya kita, terutama yang mampu mendorong demokratisasi dan kebersamaan….
Ya, itulah budaya kita pada umumnya. Memang ini yang agak berat.
Lalu, kita mesti bagaimana kalau begitu?
Sebetulnya kalau kita mau menggali budaya sendiri, selalu ada yang dapat kita tampilkan. Kita punya budaya yang luhur, budaya Pancasila. Cuma, selama ini Pancasila itu hanya disingkat terus. Pak Harto dulu kalau pidato itu selalu paling tidak enam sampai sepuluh kali menyebut Pancasila, tetapi sama sekali saya enggak pernah dengar Pak Harto menguraikan Pancasila secara keseluruhan, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan seterusnya. Pejabat yang lain sampai sekarang juga begitu. Saya khawatir orang tidak pernah tahu isi Pancasila. Paling tidak, tidak menyadari lagi isi Pancasila. Padahal, kalau budaya Pancasila itu diuraikan, kan bagus sekali. Luar biasa. Saya pernah bikin puisi Pancasila, tetapi Kompas tidak berani memuatnya, ha-ha-ha....
| KOMENTAR |
latifabdul (latif) menulis: SETIAP MUSLIM WAJIB MELAKUKAN LATIHAN PUASA YANG INTENSIVE DARI ALLAH.
(Agar bisa mencapai manusia manusia yang bertaqwa atau manusia2 yang excelent).
SEKIRANYA ULAMA2 SALAH MEMBERIKAN MAKNA DARI PUASA, MAKA AKIBATNYA KEMISKINAN.
Bismilahirrahmanirr ahiim.
Oleh Latifabdul(21).
Puasa adalah suatu latihan yang intensif selama satu bulan yang di design oleh ALLAH sendiri untuk ciptaanNYA(manusia) , untuk dapat mencapai manusia2 yang mulia/terpuji/ taqwa/excelent. Kenapa manusia dilatih?
Sebab manusia itu sendiri membawa sifat-sifat bawaan dari kecil; seperti kikir, rakus, zalim, ingkar, lemah, dan kemudian manusia juga diganggu oleh makhluk halus bernama setan yang diizinkan oleh ALLAH sampai hari kiamat. Inilah ayat2 ALLAh yangmenjelaskan tentang sifat2 manusia;
Jadi Allah mengatakan dalam surat Al Ma'arijj ayat 19:
"Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat bawaan gelisah dan kikir. Bila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah dan bila mana mendapat keuntungan jadi kikir "
“Allah menciptakan manusia bersifat lemah” QS.4:28.
“Allah menciptakan manusia bersifat tergesa gesa” QS.17:11.
“Allah menciptakan manusia zolim dan ingkar” QS.14:34.
“Allah menciptkan manusia ingin bermaksiat terus menerus”QS.75: 5
ALLAH mengatakan pula, bahwa setan itu sifatnya mengajak manusia ke arah yang tidak baik yang berlawanan dengan sifat-sifat mulia dan terpuji. ALLAH izinkan setan untuk menganggu manusia sebagai ujian2.
Oleh sebab itulah manusia dilatih begitu rupa agar orang-orang beriman dapat mengendalikan / mengontrol dirinya atau hawa nafsu nya. Sebagai ujian utk masuk syurga.
Seumpama, pemain bulu tangkis atau team sepak bola, kalau ia ingin menang dan sukses dalam pertandingan, maka yang harus dilakukan adalah latihan yang intensif berkelanjutan.
Orang-orang yang tidak mendapat latihan dan tidak tahu aturan-aturan main, maka ia dipastikan akan kalah dalam perjuangan atau pertandingan. Mendapat kehinaan.
Jadi buah atau manfaat dari latihan berpuasa adalah:
1. melatih diri untuk menahan / mengontrol nafsu dari makanan-makana yang halal dan seks di siang hari. Karena manusia itu sendiri bersifat rakus.
2. melatih diri disiplin, tepat waktu ,karena manusia itu sendiri tergesa gesa.
3. melatih diri jujur, amanah, karena manusia itu sendiri rakus dan kikir.
4. melatih diri untuk berdarma, menyayangi orang-orang miskin, fakir, dan makhluk lainnya serta melatih diri menahan nafsu amarah, karena manusia itu sendiri kikir dan gelisah.
5. melatih diri untuk bersabar, bersih, karena manusia itu sendiri tergesa gesa .
6. melatih diri supaya pandai mensyukuri pemberian Tuhan, karena manusia itu ingkar.
7. melatih diri supaya bekerja sungguh-sungguh mencari nafkah agar tidak kelaparan,
8. melatih diri untuk mendekatkan diri kepada Allah swt yang menciptakan kita, dan mohon ampunan dari kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuat selama ini.
9. Melatih diri untuk tidak berbicara yang mubazir dan menyakiti hati orang lain.
Demikianlah manfaat dari puasa. Itulah maksud Tuhan supaya manusia yang bersifat buruk tadi bisa berobah menjadi manusia-manusia TAQWA,mulia dan terpuji.
Sebab yang bisa membangun dan memakmurkan atau mensejahterakan umat, adalah orang-orang yang bersifat mulia,terpuji (taqwa) dan bisa mengontrol nafsu atau keinginannya dengan baik. Orang yang bisa mengenal sifat2 ALLAH dengan baik adalah orang yang mempunyai sifat mulia dan terpuji.
Kalau orang yang rakus adalah oarng2 yang tidak bisa mengontrol nafsunya, orang2 ini berbahaya dalam masarakat; lemah, kikir, sombong, pemalas, tidak sabar sudah barang tentu mereka tidak bisa berbuat baik dan berkarya yang bermanfaat. Malah mereka akan merusak ciptaan ALLAH atau alam semesta.
Lihatlah contoh-contoh orang-orang yang tinggal di hutan hutan, dan juga orang-orang yang tinggal di kota-kota besar, yang akhlaknya buruk, seperti merampok, mencuri, berzina, korupsi, suka berperang, suka menghina, memojokkan, menghujat, memfitnah orang rakus akan harta dan egois, Ulama2 radikal yang menzolimi sekte2 islam yang berbeda dengan mereka..Bukankah mereka merusak dan zolim?
Inilah perintah2 ALLAH tentang berpuasa;
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagai mana atas orang-orang sebelum kamu, semoga kamu bertaqwa."(QS 2: 183-187).
Apa ciri ciri orang bertaqwa adalah sebagai berikut ini;
Allah berfirman; "... Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.."Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. .(QS.65:2-3)
Artinya orang2 yang disayangi oleh ALLAH dan dipercaya oleh ALLAH untuk menerima rezeki atau kekayaan ALLAH yang kemudian digunakan untuk kemaslahatan masarakat.Jadi orang2 yang banyak rezeki dari ALLAH dari bermacam macam usahanya adalah orang2 beriman dan bertqwa. Orang berbusiness.
Kalau seorang pegawai tidak mungkin mendapat rezeki yang banyak bukan? Contoh orang beriman dan bertaqwa misalnya Aa Gym, seorang usahawan yang banyak rezekinya. Nabi Muhammad saw dan istrinya juga orang2 pedagang ulung yang berprestasi. Kekayaannya digunakan untuk pembayaan dakwah. Aa Gym mengikuti sunnah Rasul dalam mencari nafkah.
___kalau seorang dokter,jadilah kemudian seorang pengusaha yang dapat menciptakan alat2 kedokteran atau membuat rumah2 sakit.
___kalau seorang insinyur, jadilah kemudian seorang pengusaha yang dapat menciptakan alat2 atau mesin2 yang berguna untuk pembangunan dan industri
___kalau seorang insinyur pertanian,jadilah seorang usahan tani dan perkebunan atau membuat makanan kaleng
___kalau seorang guru atau ulama,jadilah kemudian seorang pedagang seperti Rasululah saw
___demikian seterusnya harus berniat menjadi seorang pengusaha, wiraswasta.Karena orang2 inilah yang bisa menerima rezeki yang banyak dari ALLAH, orang yang bisa membayar zakat yang banyak, orang yang bisa membuka lapangan kerja dan memakmurkan umat manusia.Inilah yang disebut oleh ALLAH orang2 yang beriman dan bertaqwa yang dimudahkan oleh ALLAH rezekinya untuk kemaslahatan masarakat dan agama ALLAH.
Jadi maksudnya adalah janganlah selalu menjadi seorang pegawai sampai pensiun dalam suatu perusahaan atau pemerintah, kalau ingin menjadi orang2 yang beriman dan bertaqwa, orang yang akan mendapat hadiah syurga dunia dan akhirat.
Jadi kalaulah banyak orang2 yang bertaqwa seperti Aa Gym,10 000 orang saja,setelah menjalankan latihan puasa selama 1 bulan, maka jadilah masarakat Indonesia masarakat yang bertaqwa, maka ALLAH akan berikan kenikmatan2 kemakmuran dari langit dan bumi, Seperti ALLAH jelaskan di bawah ini;
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah
Kami akan melimpahkan (kemakmuran, kekayaan) kepada me-reka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendus-takan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiriQS.(7) : 96).
Jadi makna latihan puasa itu adalah menciptakan sebanyak mungkin orang2 yang usahawan2 yang excelent,yang terlatih, kesabarannya, tolerensinya, disiplinya, kejujurannya, dan senang bekerja keras untuk ALLAH untuk memakmurkan masarakat.Lihat tugas manusia beriman---->QS.11:61 dan QS,57:25.
Setelah manusia melaksanakan latihan2 puasa yang intensive, maka terbentuk akhlaq yang mulia seperti; takut kepada ALLAH,takut mengerjakan hal2 yang dapat merugikan orang lain, sudah disiplin waktu, besih tubuh dan jiwa dan terakir sudah dapat mengendalikan nafsu dengan baik dan benar.
Kemudian ALLAH mewajibkan kepada orang2 yang sudah terlatih ini untuk bekerja , membangun masarakat yang islami, membangun pradapan yang islami, mengolah bahan2 baku yang sudah diberikan oleh ALLAH di dalam dan dimuka bumi QS.57:25. Artinya memajukan ekonomi, technologi dan saint serta dapat mempertahankan agama ALLAH dari serangan musuh2nya.
Sebaliknya;
Walaupun dia kelihatan rajin melaksanakan shalat tarawih selama satu bulan, tapi perbuatan2nya tetap seperti sebelum puasa;
1.masih sering marah , tidak bisa menahan nafsu amarah
2. Masih malas bekerja untuk mensejahterakan keluarga dan masarakat.
3. Masih suka berkata kata buruk, fitnah, boros, kikir, sombong, bohong.
4. Kalau berjanji tidak tepat waktu dll
Maka latihan puasanya selama sebulan tidak efektif. Kenapa?
Dia melakukan puasa karena sudah menjadi budhaya. Malu kepada kawan2, keluarga, takut kepada orang tua dll
Maka puasanya menahan diri dari makanan yang halal, mimuman yang halah, hubungan sex dengan istri/suami yang halal adalah mendapat letih dan cape saja. Latihan berpuasa menahan makan dan mimun tidak berguna.Mubazir.
Orang2 ini adalah orang2 yang merugi..
Ada seseorang bertanya kepada saya," Pak Latif, mana yang afdal melaksanakan jumlah tarawih 8 rakaat atau 18 raka'at dan kemudian ditambah 3 witir?"
Jawabannya.Sesunggunya tidak ada perintah shalat tarawih di dalam Al Quran,jadi shalat tarawih itu tidaklah wajib. Karena tidak wajib,maka ada ulama2 melakukan shalat tarawih 8 dan 18, berdasarkan kepada perawi2 hadits. Apakah hadist ini shahih atau tidak, tidak bisa dibuktikan lagi,karena Rasulullah saw sudah tidak ada. Kalau kita beriman kepada Perawi2, atau ahli2 Hadits kita bisa kita jatuh Syirik. Dosa yang tidak bisa diampuni oleh ALLAH.
Oleh karena itu bagi saya agar menjauhi dosa Syirik,maka saya melakukan tarawih sesuai dengan kondisi saya pada waktu itu, tidak terikat dengan perawi2 atau Hadist2. Boleh 8, boleh 18, boleh lebih atau kurang yang penting ikhlas mengerjakannya,karena shalat itu sebagai tambahan saja .
Semoga tulisan yang pendek ini bermanfaat dan semoga latihan puasa kita yang kita lakukan selama satu bulan di berkahi oleh ALLAH swt amin.
Marilah saya anjak anda untuk berdoa;
Yaa ALLAH yaa Tuhan kami Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,yang Maha kaya raya dan maha Pemurah, terimakasih Yaa ALLAH 3x...atas kenikmatan2, rezeki, kesehatan, keimanan dll yang telah Engkau berikan kepada kami dan anak2 kami, Yaa ALLAH tunjukilah kami dan anak2 kami agar kami semua pandai mensyukuri semua pemberian22 Mu ini dengan baik dan benar,agar kami selalu dalam kasih sayangMu,cintaMu, yaa ALLAH yaa Tuhan kami.Yang Maha berkuasa.Kepada siapalagi kami bermohon yaa ALLAH kalau bukanlah kepada Mu yang menguasai siang dan malam. Yaa ALLAH yaa Tuhan kami berikanlah kepada kami ilmu seluas luasnya, rezeki sebanyak banyaknya dan jauhilah kami dari segala sakit penyakit agar hidup kami bermanfaat di dunia dan berati di akirat yaa ALLASH yaa Rabbi amin
Kesimpulan.
Jadi tujuan atau makna dari latihan berpuasa,menahan nafsu makan,minum dan hubungan sex di siang hari adalah untuk mencapai manusia2 yang bertaqwa, manusia2 yang excelent yang bisa menerima kekayaan2 ALLAH yang banyak dan kemudian di ditribusikan kepada kemaslahatn masarakat banyak.
Kalau orang2 yang berpuasa dan shalat Tarawih selama 1 bulan penuh,kalau tidak dapat menjadi orang2 bertaqwa atau tidak sukses dalam berusaha,tidak banyak rezeki dari ALLAH,artinya latihan puasanya tidak berhasil,karena tidak tahu akan makna latihan puasa yang dimaksud oleh ALLAH.Mereka berpuasa karena menjadi budhaya.Orang puasa,kita puasa pula, demikian kira kira. Golongan ini banyak sekali dalam masarakat islam yang perlu kita perbaiki,insya ALLAH.Inilah tugas2 anda semua, sekiranya anda menginginkan masarakat islam Indonesia masarakat yang bertaqwa,masarakat yang diberkahi oleh ALLAH dengan kekayaan2 dari ALLAH.
Demikian semoga ada manfaatnya,sekiranya ada yang benar itu datang milik ALLAH,dan kalau ada yangsalah mohon dimaafkan dan dikoreksi.
SELAMAT BERPUASA..KAWAN2 MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.
Wassalamu'alaikum wrwb
|
ABDAL MALIK (ABDAL) menulis: Berharap ada sedikit makna atas puasa yang telah dilakukan |
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar | « Kembali ke arsip Tepian
|