Gus Mus: Gus Dur Layak Masuk Guiness Book of Record 8 Februari 2010 22:52:17 | Share
Gus Mus menilai bahwasannya Gus Dur layak masuk Guiness Book of Record. Kalau hanya masuk MURI (Museum Rekor Indonesia), terlalu kecil bagi almarhum Gus Dur. Pernyataan menggelitik itu dilontarkan KH Mustofa Bisri saat memberikan mauidzoh hasanah di acara peringatan 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid di Tebuireng, Jombang, Ahad (7/2) malam.
Fenomena banyaknya peziarah yang datang ke makam Gus Dur, menurut Gus Mus, adalah yang pertama kali. Sebelumnya belum pernah ada tokoh dunia yang mengalaminya. Betapa tidak, mulai dari meninggalnya, yakni 30 Desember lalu hingga 40 harinya, makam mantan ketua PBNU itu tidak pernah sepi dari peziarah.
Para peziarah datang dari berbagai daerah dengan ikhlas. Mereka tidak ada yang menyuruh. "Bisa dibayangkan berapa juta orang yang datang ke makam Gus Dur untuk berziarah. Mulai dari wafat hingga 40 harinya, Tebuireng tidak pernah putus dari peziarah. Jadi Gus Dur itu layak masuk meseum rekor dunia atau Guiness Book of Record," kata Gus Mus yang disambut tepuk tangan hadirin seperti dilansir beritajatim.com.
Gus Mus lalu membandingkan dengan tokoh dunia lainnya semisal, Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, Jhon F Kenedy, serta Gamal Abdul Naser. Meski sederet nama tersebut tokoh dunia, namun makamnya tidak seramai Gus Dur.
Pria asal Rembang Jawa Tengah ini menceritakan, saat mantan presiden Mesir, Gamal Abdul Naser, tutup usia, ia ikut takziah. Saat itu ada sekitar 4 juta peziarah yang hadir. Namun seiring bergulirnya waktu, makam Gamal berangsur sepi peziarah. Kondisi itu tidak terjadi pada makam Gus Dur.
"Mulai wafat hingga 40 harinya, pusara Gus Dur tidak pernah putus dari doa peziarah. Menariknya, semua itu dilakukan dengan ikhlas," tambah kiai yang juga sastrawan ini.
Bahkan, kata Gus Mus, yang ikut mendoakan itu bukan hanya dari kalangan Islam saja. Namun lintas agama, etnis, dan lintas keyakinan. Saat ini 40 harinya Gus Dur ini saja, lanjut kiai asal Rembang ini, ia mendapat sembilan undangan acara.
"Ini artinya seluruh warga Indonesia malam ini ikut berdoa untuk Gus Dur," pungkasnya. (mad/nuonline)
KOMENTAR
Raden Praja Wiguna (Praja) menulis: SUBHANALLAH, inilah tanda-tanda Kebesaran ALLAH SWT. Sudah seharusnya kita meneruskan 'perjuangan' dan 'pengabdian' beliau.
dedy mardiansyah (dedy) menulis: Tempat agama adalah dalam pencarian batas-batas kepantasan hidup sebagai sebuah bangsa. Demikian kata beliau. Sementara tempat beliau, bagi saya, adalah dalam pendidikan batas-batas kepantasan hidup sebagai manusia Indonesia. Beliau itu adalah KH. Abdurrahman Wahid. Beliau itu, bagi saya, adalah Sang Maha Guru Manusia Indonesia.
CHOIRUL HUDDA (CHOIRUL/HUDDA/SALIM) menulis: Setuju Gus .... menurutku tidak hanya jumlah pelayat dan penziarah akan tetapi berbagai julukan yang disandang pun patut mendapat penghargaan yang tinggi...
kunjariyanto (kunjari) menulis: gusdur boleh wafat, tapi ide -idenya harus kita teruskan..*---
Lukman Faishol (Lukman) menulis: ALLAHUMMAGHFRLAHU WARHAMHU WA'AFIHI WA'FU'ANHU.... AMIIIN....
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.