Jelang Muktamar NU, Makassar 2010: Pemimpin NU Harus Sosok Muda dan Enerjik 19 Oktober 2009 14:17:29 | Share
Sosok pemimpin NU ke depan hendaknya seorang yang muda dan enerjik. Demikian diungkapkan Mustasyar atau Penasihat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mustofa Bisri atau Gus Mus di Jakarta, Sabtu (17/8).
"Agar lebih baik dan terjadi regenerasi. Anak muda itu penuh vitalitas, pemikirannya relatif lebih jernih dan tak terkontaminasi hal yang remeh-temeh," tegas Gus Mus.
Menurut Gus Mus, kepemimpinan NU hasil muktamar mendatang juga harus mampu menata organisasi NU sehingga benar-benar berjalan layaknya organisasi.
Lebih lanjut, Kiai asal Rembang ini menambahkan, sebaiknya pengurus NU di jajaran tanfidziyah, termasuk ketua umum, berusia muda, di bawah 60 tahun, agar lebih dinamis. Sementara tokoh yang sepuh, cukup di jajaran syuriah.
Dalam pandangannya, Muktamar mendatang merupakan momentum bagi NU untuk kembali menjadi pendorong kekuatan masyarakat madani.
Untuk ketua umum, lanjutnya, juga harus cakap dalam ilmu agama, termasuk bisa membaca kitab kuning, serta dibesarkan di lingkungan pesantren. Dirinya menilai bahwa pemimpin NU mendatang harus sosok yang tidak gampang tergoda politik kekuasaan, apalagi dengan memanfaatkan organisasi itu.
''Malah bagus kalau punya pesantren. Jadi ketua umum NU ini biar beda sama ketua umum PPP, PKB, atau ketua umum lainnya,'' tegasnya. (min/nuonline)
KOMENTAR
Mohammad Amin (Amin) menulis: usul : perlu juga diatur di MUktamar NU Januari 2010 nanti agar pimpinan BANOM NU usianya tidak terlalu tua, seperti GP ANSOR, IPNU-IPPNU & FATAYAT.
mochammad mardiansyah (ardi atau odink) menulis: comment:
tolong juga agar untuk ke depan Ketua Umum PBNU yg baru harus jauh2 dr perkoro yg nmnya politik karena akhir2 ini umat sudah jarang yang mau mendengar pitiduh2 poro panutan mereka
sofwan eka kurniawan (sofwan / wawan) menulis: mari kita selalu berdoa untuk kemajuan dan kebaikan NU, karena NU merupakan warisan Para Sesepuh kita yang senantiasa mengayomi ummat dan Bangsa ini.
Lailiyah Rahmawati (Layli) menulis: Yap...smoga sj di muktamar nnti yg terpilih adl yg mmiliki kredebilitas&loyalitas tinggi kepada NU, bkn menang terpilih jd ketua krn "isi amplopnya" akhrnya ktka jd bknnya sbuk mmasalahtkan umat malah mmanfaatkn umat utk kepentingan pribadi, apalagi klo sampe "nyegur2" di politik hnya karna ingin dekat dg pejabat yg mnjajnjikan bs "ditariki" sumbangn utk mmbesarkan bangunan pondok pesantrennya...Dan yg pling sy harapkan ketua PBNU kelak adl yg visi-misinya terselip utk proses pengkaderan dg mmanfaatkn lahan yg sdh ada, jgn mngatasnamakn "pengkaderan" dg mmbntuk wacana mndirikn lembaga kepemudaan yg br, lantas buat apa IPNU-IPPNU, GP.Ansor, Fatayat, ISNU,PMII klo trnyata dianak tirikan di tengah jln???
Yanto Riyanto (Yayan) menulis: kembalikan NU ke Organisasi Kemasyarakatan yang ngopeni wong cilik untuk dididik bukan dijadikan ajang untuk meraup keuntungan politik. Mbok yoo pada sadar NU kuwe nganggo kata-kata ulama sing maksude wong-wong kuwe wis pada ngerti nek wis ngerti aja kuwe kaya wong ra ngerti (bodho). begitu
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.