TERATAI » Kisah Ringan Teladan
“Kawin Emas” Kiai Ilyas Ruhiyat: Istri Pertamanya, Pesantren 21 Juli 2006 03:17:40 | Share
14 Juli 2006 lalu, ajengan KH Ilyas Ruhiyat, mantan Rais Aam PBNU memperingati 50 tahun pernikahannya dengan Hj. Dedeh Tsamrotul Fuadah. “Kawin Emas” kiai Ilyas dengan istrinya tersebut diperingati dengan syukuran yang sederhana dan unik. Uniknya, karena pada kesempatan tersebut diluncurkan buku biografi kiai Ilyai berjudul “Ajengan Cipasung” yang ditulis Iip D. Yahya.
Keberhasilan membina rumah tangga, telah mengantarkan sosok Kiai Ilyas menjadi panutan. Menjadi tokoh nasional, dengan serangkaian jabatan amanah melekat pada dirinya. Hal yang membahagiakan pasangan ini, juga karena mereka telah berhasil mengantarkan anak-anaknya sukses dalam bidang pendidikan. Si cikal Acep Zamzam Noor jebolan ITB, juga pernah dua tahun menimba ilmu di Italia, lebih dikenal sebagai seniman. Anak keduanya, Ida Nurhalida meraih master di UPI Bandung, dan si bungsu Enung Nursaidah Rahayu juga master pendidikan biologi. "Hal yang menggembirakan, semua anak-anak kami setelah selesai sekolah, sekarang kumpul kembali di Cipasung," kata Nyonya Dedeh.
Nama Kiai Ilyas dengan daerah Cipasung sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Prof Jokob Sumardjo, guru besar STSI Bandung, bagai biji yang tumbuh di tanahnya sendiri. Ia tidak pernah meninggalkan kampung itu sehingga Cipasung identik dengan Kiai Ilyas.
Ilyas kecil memang lahir di Cipasung, tanggal 13 Januari 1934. Ayahnya adalah ulama besar di Tasikmalaya, K.H. Ruhiat, dan ibunya Aisyah. Kiai Ruhiat berusaha meminta anaknya yang satu ini agar bisa menghafal semua kitab, agar bisa menjawab semua persoalan. Selain ngaji ke ayahnya, Ilyas sering juga mengikuti pengajian Kiai Saefulmillah, Abdul Jabar, Ustaz Bahrum.
Ilyas ingin meneruskan ke Mesir, belajar di Universitas al-Azhar. Tapi, semua itu harus disimpan dalam kenangan. Karena saat usainya ke 22 tahun, Ilyas diminta untuk menikah dengan Dedeh, putra ajengan K.H. Mapruh, asal Rancapaku.
Kiai Mapruh ini adalah teman Kiai Ruhiat, sewaktu aktif di NU. Dedeh, kelahiran 6 April 1942, waktu itu baru lulus SD. Dedeh juga ingin melanjutkan sekolah. Tapi, karena satu sama lain menghormati serta patuh kepada orang tuanya, mereka menikah tepat pada tanggal 14 Juli 1956.
"Saya sebelumnya tidak kenal dengan Apih (Kiai Ilyas-red), hanya tahu saja sering datang memberikan ceramah. Makanya, kaget juga ketika tahu dijodohkan dengan Apih ini," kata Hj. Dedeh.
Hal yang mengharukan, selama menikah tidak pernah Ilyas memarahi istrinya. "Selama 50 tahun hidup bersama, Apih ini tidak pernah membentak, atau memaki saya. Apih sayang sekali kepada kita, sabar serta penuh perhatian kepada kami atau kepada anak-anak. Selalu menghargai sikap saya, juga mengayomi, " ujarnya.
Kiai Ilyas Ruhiyat sendiri pada tahun 1990-an menjadi ulama NU yang sangat disegani di tingkat nasional. Pada Muktamar NU tahun 1995 di Cipasung, Tasikmalaya, Kiai Ilyas mendapat amanah untuk memimpin NU bersama Gus Dur. Pada masa itu, Kiai Ilyas mampu membawa NU melewati masa-masa sulit karena menolak intervensi Orde Baru. Kiai Ilyas pernah menolak permintaan pemerintah yang memohon kesediaannya menjadi anggota MPR. Independensi NU saat itu tidak lepas dari peranan Kiai Ilyas sebagai Rais Aam PBNU.
Kesibukannya mengajar, ceramah dan mengurus NU itulah yang menyebabkan Kiai Ilyas sering meninggalkan istrinya, Hj. Dedeh. Kadang ia merasa jadi istri yang ketiga. Istri pertamanya, pesantren, kedua NU. Selamat ulang tahun pernikahan ke 50 Pak Kiai! (Alf/ Diolah dari Pikiran Rakyat)
| KOMENTAR |
Belum ada komentar untuk tulisan ini |
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar | « Kembali ke arsip Teratai
|