Prof. Dr. Mahmud MD, Bercermin pada Wafatnya Gus Dur 4 Mei 2010 12:14:35 | Share
“Ketika Anda sudah tidak takut dengan polisi dan aparat penegak hukum di negeri ini, takutlah Anda kepada kematian yang pasti akan menghampiri setiap orang. Takutlah pada kematian yang sepi dan tidak terhomat dengan sedikit pelayat dan orang yang mendoakan, karena kejahatan yang Anda perbuat.” Demikian, sambutan ketua MK, Mahfud MD pada malam acara tahlilan di rumah Gus Dur dalam rangka memperingati seratus hari wafatnya Gus Dur awal April lalu.
“Di dunia ini hanya sedikit tokoh yang kematiannya membuat banyak orang berduka dan kehilangan. Yang pertama, mungkin presiden Kennedy Amerika, Mahadma Gandhi di India dan juga Imam Khomeini di Iran. Itupun yang saya tahu paling berdukanya hanya beberapa hari saja,” tambahnya.
Bagi tokoh kelahiran Madura ini, sosok Gus Dur sangat fenomenal, hingga ketika wafatnya pun ribuan orang mengantarkan dan tiada henti orang mendoakannya. Makamnya pun hingga sekarang tidak pernah sepi oleh penziarah. “Kita semua pasti sangat mendambakan kematian yang terhormat seperti Gus Dur yang diantarkan ribuan pelayat dan terus didoakan banyak orang hingga sekarang,” ujarnya memungkasi sambutan. {mz}
KOMENTAR
Agus Hartono (agushar) menulis: Salam,
Memang benar prof. takutlah pada kematian yang tidak diperdulikan orang. Karena hanya pada saat kematiannya saja seseorang bisa dikatakan "mayat" manusia atau "bangkai". Banyak manusia menggunakan prinsip "pokok`e" di berbagai kepentingan hidupnya, tapi sedikit dari kita yang berprinsip" pokok mati". Kenapa? karena ketakutan akan kematian itu begitu besar pada diri mereka. Kebanyakan dari kita tidak menginginkan mati dalam keadaan "melet" mati dalam keadaan "mendelik", mati terlindas Truc Treler, mati dibunuh orang, atau mati dimangsa binatang buas. Tapi dalam kenyataan sehari-hari kita tidak pernah mengusahakan untuk tidak mati dalam keadaan menggenaskan tersebut. Kita tidak pernah perduli tentang kematian sebelum diri kita mau mati. Kita tidak pernah percaya kalau kita akan mati. Sehingga dalam hidup, kita tidak usah mempersiapkan kematian itu. Baru pada saat benar-benar "sekarat" kita percaya kalau kita akan mati. Dan yang tidak kita sadari adalah semua sudah terlambat. dan tak mungkin lagi akan kembali.
Miftakhul Adhim (cak adhim) menulis: Assalaamualaikum Wr. Wb
Bercermin dari GUS DUR, untuk dicintai rakyat atau umat, maka jadi apapun (pejabat atau kiyai )semasa hidupnya harus selalu mencitai rakyat atau umat, melayani umat, bukan bersikap " juragan " yang minta dilayani terus.
Seporanah PAK !!!
MK tdk ingat kpd peringatan ALLAH, dimana pemerintah wajib melindungi semua warganya dari penindasan2 dan diskrimnatif karena; agama, suku, gender dan umur dll
Semoga MK dapat mengapuskan UU PPA tesebut masa2 mendatang,amien
salam
latifabdul (latif) menulis: GUS Dur juga saya yakin kecewa atas putusan MK tentang UU PPA tersebut.Dimana MK mebiarkan perlaukan zolim dari ulama2 wahabi-salafy garis keras (FPI,HTI cs)
Kalau sayang atau pendukung GUS DUR haruslah dapat menagbulkan permitaan dan perjuangan GusDUr selama ini.
Alangkah indah risalah kematianmu
Tanah-tanah ilmu
Melepasmu dengan doa cumbu
Sementara dunia mengamini langkahmu
Menemui Tuhan yang kau rindu
Selamat bermusyahadah
Guru bangsa yang penuh gairah
Al-AMien, 2009-2010
saifun nasihin (apun) menulis: assalamu alaikum
rasanya tidak etis kalau saya ikut2 komentar. masih kurang ilmu.
yang jelas, orang baik akan lebih dapat dirasakan kebaikannya setelah mangkat.
suwun
Mas Nurch. (Noer) menulis: Prof.udah ganti nama nih... mumpung masih di MK tolong dong suarakan anti kekerasan dan diskriminasi... suwun.
wawan setiawan (haidar st) menulis: GUS DUR . . . . do'akan kami untuk menjadi umat yang mulia.
dudung solahudin (udung) menulis: komen saya...... luar biasa
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.