KH Hafidz Utsman, Tegas Memimpin Sidang Muktamar NU 6 April 2010 12:45:50 | Share
Melihat sosoknya, jarang yang menyangka bahwa KH Hafidz Utsman dapat memimpin sidang-sidang Muktamar NU ke-32 dengan tegas dan cekatan. Namun, Kiai Hafidz yang juga Rais Syuriah PBNU yang berjanggut tebal ini terlihat tegas dan cekatan dalam memimpin persidangan di Muktamar NU terutama sidang tata-tertib dan komisi organisasi yang umumnya “panas” dan sulit dikendalikan.
KH Hafidz Utsman yang lahir di Pandeglang Banten 14 Januari 1940 pun kerapkali melontarkan joke-joke dan humor segar yang dapat mencairkan suasana sidang yang panas. Kalau sudah begitu, para peserta sidang yang kerapkali ngotot mengusulkan pendapat atau interupsi pun biasanya “mengalah” dan hanya bisa tersenyum mendengar joke spontan KH Hafidz Utsman. Persidangan pun berjalan lancar atas kepemimpinan yang tegas dan cekatan oleh Kiai Hafidz.
KH Hafidz Utsman adalah ulama senior NU yang dipercaya menjadi Ketua Panitia Muktamar NU ke-32 di Makassar bulan Maret lalu. Jejak perjuangannya di NU dimulai sejak menjadi Pandu Ansor Cabang Menes (1954 - 1956) dan Wakil Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Pandeglang (1956 - 1958). Beliau pernah juga sebagai Bendahara IPNU di Amuntai Kab. Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan (1958 - 1960) dan di Fakultasnya juga tercatat sebagai Sekretaris Senat Mahasiswa FHl-Kullyatul Qadla UNNU di Surakarta (1960-1964) serta Komisaris Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Surakarta (1962 - 1964).
Kiprahnya di politik dimulai dengan menjadi anggota DPRD Tk I Propinsi Jawa Barat Fraksi Nahdlatul 'Ulama (Ketua) di Bandung (1971 1977), Anggota DPR / MPR RI Fraksi Persatuan Pembangunan (1977 -1982) dan Anggota DPRD Tk I Propinsi Jawa Barat Fraksi Persatuan Pembangunan di Bandung (1982 - 1987). Saat ini beliau menjadi Rais Syuriah PBNU dan Ketua MUI Jawa Barat. (Alf)
KOMENTAR
Miftakhul Adhim (cak adhim) menulis: Assalaamualaikum Wb. Wb.
Selamat kepada panitia muktamar yang dapat melahirkan sosok pimpinan NU yang ideal, meski agak diwarnai ketegangan masalah tatib, namun mestinya sebelum tatib dibuat dikonsultasikan dengan kyai sepuh dulu.
Jauhar (Joe) menulis: Semoga nahdliyin, khususnya para masyayikh ngeten sedoyo
m45dar Mim (m45dar) menulis: saya sangat bengga memiliki tokoh-tokoh seperti mereka..
dari merekalah kita bisa meneladani rosulullah SAW..
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.