Farha Ciciek Prihatin Radikalisme Pelajar 8 Maret 2010 15:51:37 | Share
Intelektual perempuan NU, Farha Ciciek prihatin atas terjadinya fenomena radikalisme di kalangan pelajar yang justru marak di sekolah-sekolah negeri umum yang dikelola pemerintah bukan di pesantren.
Farha Ciciek yang juga menjadi peneliti di Rahima menyampaikan fakta hasil penelitiannya terhadap gejala radikalisme pelajar di sekolah-sekolah negeri pada Rapimnas IPNU di Wisma Makara UI Depok beberapa waktu lalu. Menurut Farha, radikalisme pelajar di sekolah-sekolah tersebut sebagai dampak dilarangnya organisasi pelajar Islam moderat yang berwawasan kebangsaan seperti IPNU (Ikatan Pelajar NU) dan IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) untuk masuk ke sekolah negeri oleh pemerintah Orde Baru yang berlanjut hingga kini.
Farha Ciciek yang lahir 26 Juni 1963 di sisi lain juga mengungkapkan keprihatinannya bahwa aktivis pelajar Islam moderat seperti IPNU kurang optimal menggarap para pelajar muslim di sekolah-sekolah negeri sehingga mereka terseret pada radikalisme agama.
"IPNU perlu menghidupkan kembali ruh jihadnya" pungkas Farha Ciciek kepada peserta Rapimnas yang dihadiri oleh puluhan pengurus wilayah IPNU se-Indonesia, sejumlah mahasiswa UI dan ratusan pelajar dari berbagai pesantren dan SMA se-Depok. (alf)
KOMENTAR
MUKARROMAH (MUMAH) menulis: memang kajian kajian di sekolah sekolah umum harus selalu diawasi oleh guru dan seringkali ada kajian kajian dari luar yang tidak terkontrol oleh pihak sekolah, maka itu diharapkan kembalinya pemuda pemuda NU dan Muhamadiah untuk turut serta bergabung dengan siswa siawa SMA utamanya di sekilah sekolah negeri
MUKARROMAH (MUMAH) menulis: saya setuju kalau ipnu ippnu dan ikatan pemuda muhamadiah ikut menggarap parapemuda muslim di sekolah sekolah negeri
Mundhori (Mundhori) menulis: Radikalsime tercipta karena ada ruang lelauasa terbentang melalui pintu system demokrasi dan dibantu dikembang biakkan secara bebas oleh media. Kebebasan demokrasi mendorong orang memaksakan kehendak dengan berbagai cara apabila tidak berhasil, dalam suatu perjuangan yang akhirnya dipakai cara yang radikal. Demo, intimidasi, kekerasan adalah unsure radikalsime Hamper semua dinamika (politik) punya alur sama pada akhir perjuangannya yaitu radisklasme.. Pimimpin, baik eksekutif, legislative, maupun yudikatif dan masyarakat mempunyai karakter yg sama ketika ingin mengaktualisasikan dirinya, pahamnya, idologi dengan sejanta mutakhir, yaitu radikalisme. Pelajar yang masih diluar jangkauan politikpun tinggal ngopy saja, baik secara sadar ataupun kebanyakan tidak sadar terhadap pola pola yg sudah terbentuk di masyarakat.
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.