Donny G. Adian Tidak Takut Bareskrim 26 Nopember 2009 11:15:16 | Share
Donny Gahral Adian, sang doktor filsafat UI mengaku tidak takut dilaporkan ke Bareskrim (Badan Reserse dan Kriminal) Polri karena mengatakan Pancasila cenderung kekiri-kirian. Apa pasal? Soalnya, Donny yang juga suami artis Rieke Diah Pitaloka menemukan bukti akademis bahwa para founding father RI seperti Soekarno dan Hatta mengambil sebagian ajaran Pancasila dari ide-ide sosialisme-marxisme.
”Sila ke-5 Pancasila itu nyata-nyata diambil dari ajaran Marx”, tandas Donny ketika menjadi pembicara dalam Seminar ”Pancasila dan Tantangan Ideologi Global” yang diselenggarakan Lembaga Demografi UI, di Kampus UI Depok, 25 November 2009. Menurut Donny, ide-ide sosialisme bersama integralisme dan islamisme menjadi inspirasi bagi penyusunan Pancasila. Dengan demikian menurut Donny, Pancasila tidaklah otentik digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, melainkan juga diimpor dari luar. Wah, ternyata yang diimpor bukan hanya mobil mewah, tapi juga dasar negara! Dahsyat! (Alf)
KOMENTAR
Mundhori (Mundhori) menulis: Wah..debatnya mesti diperluas. Kesempatan memberi bertukar lidah bagi yg tdk sependapat . Pembahasan yg lebih serius perlu digelar, agar persepsi masyarakat tdk lalu timbul keraguan. Sebab menyangkut dasar negara, yg liputannya pasti meluas. Tugas para ahli, para teoritikus dan politisi. Walau momentumnya tdk begitu tepat. Mengingat negeri ini sedang dlm kondisi resah gelisah oleh karena bencana, komplikasi hokum dan kesulitan perekonomian. Namun karena sudah terekspose, harapannya agar segera selesai pembicaraan. Atau tak perlu diteruskan. Terserah saja.
Wibowo Setyo Utomo (Bowo) menulis: .... sumbernya darimana pun sebetulnya tdk jadi masalah. Baru jadi masalah kalau nurani kita mengatakan pancasila itu identik dg komunis Apa seperti itu... ? Bang Donny yg ngejawab, Bareskrim lagi di buat pusing Anggoro/do jangan di bawa-bawa
Danny Yogasmara (Yoga Asmara) menulis: Memangnya yg berkaitan dgn keadilan sosial hanya ide dari sosialisme-marx. Sy rasa mengemukakan pendapat bahwa Pancasila itu dipengaruhi produk asing, adalah kurang bijak. Sebaiknya kita belajar & bangga atas kearifan lokal kita sendiri.
Yg pasti, bg sy Pancasila itu digali dari nilai2 luhur bangsa Indonesia. Yg namanya nilai2 luhur tentu saja bangsa lain jg punya, krn nilai2 luhur adlh esensi dr kebaikan (/pencapaian spiritual) bangsa tsb. Dan suatu ide seiring dgn berjalan waktu akan makin berkembang & disempurnakan. Atas dasar ini, sebenarnya bisa saja pancasila dipengaruhi oleh berbagai ide2 dr luar ataupun dari dalam negeri sendiri. Tapi mengemukakan pancasila dipengaruhi produk asing adalah lain soal.
Bagaimanapun Pancasila adalah sebuah Konsep, Pancasila versi Soekarno, Moh.Yamin dan Soepomo pun berbeda. Terlepas dari itu semua, yg perlu diingat, Pancasila diramu oleh para Founding father kita. Mereka dgn bangganya mengatakan bahwa "Pancasila digali dari nilai2 luhur bangsa Indonesia".
Untuk itu, sebaiknya kita jangan mengecilkan diri sendiri, kita harus bangga atas produk dalam negeri. Kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia.
Jangan lupa, Soekarno pernah mempersembahkan Pancasila kepada dunia.
Pancasila adalah berkah Tuhan atas kemajemukan kita, dan ini terjadi atas usaha para Founding father kita.
Trims
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.