Perkenankanlah Aku Mencintaimu 1 Februari 2007 14:13:59 | Share
Oleh: A. Mustofa Bisri
Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan
baru yang menjanjikan
Perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikanku
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku
2000
KOMENTAR
Muh. Ulil Amri (Amri) menulis: subhanallah.....aku paling suka dengan puisi-puisi gus Mus. Puisinya sarat akan nilai-nilai keilahian. Berkaryalah terus Mbah Yai
Olas Novel (Olas) menulis: Puisi Irfan.....
kalau saya lagi menikmati puisinya gus mus, ibarat mengaca syairnya J Rumi, Sya'di, dan Hafidz.
syarat dengan Irfan
lanjut Gus....
yanto (yanto) menulis: rahmat-Mu seakan tanpa batas tapi kenapa manusia hanya bisa melihat ketidakadilan menurut kacamata hawa nafsu yang serakah dan nista.
wijiwilopo (wiji) menulis: dan kita bagian alam semesta bertasdih
dan kita tersimpuh di keheningan hati
dan kita melinangkan airmata kerinduan
dan kita akan sendiri di malam tanpa bintang dan rembulan
terima kasih gus
aku mau pamit untuk jalan lagi
Sapto Raharjo (Mbah Sapto) menulis: Kenyataan adalah (takdir dan irodat) yang terbaik menurut Allah. Allah memang bukan pesuruh yang harus memenuhi permintaan-permintaan kita. Namun Allah berkehendak yang kadang sesuai dengan keinginan kita, kadang tidak sama dengan harapan kita.
ahmad zarkasi (zarkasi) menulis: Allah memang maha Adil dengan segala ketetapannya yang tak pernah memberatkan kita.
dewanto (anto) menulis: sepertinya frekuensi kita sama nih gus :-)
Prapto (Prapto) menulis: Memang puisi yang dibuat mbah Yai
selalu menusuk dihati....
Memang hanya Dia yang pantas untuk kita cintai.....
BADRUDDIN (BOY) menulis: manusia hidup tanpa arah
menengadah tanpa harapan
itulah sang hamba yang selalu ...
Dengan sang penciptalah yang memberikan semua apa-apa yang dimaui oleh hamba.
M. Nur Joko Pitoyo (Joko Pitoyo) menulis: setiap karya bernakna..
yang bermakna memiliki rahasia
rahasia yang bermakna...
kulo ngikut baca puisinya simbah..
saya bersal dari daerah simbah...doakan kulo mbah...
Muhammad susanto (Anto) menulis: Cinta sejati hanyalah untuk Allah swt semata.
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Kepentingan pembangunan–seperti juga pada jaman revolusi, yaitu kepentingan revolusi–ternyata tidak hanya memerlukan dalil aqli, tapi juga dalil naqli. Apalagi jika masyarakat menjadi subyek–atau obyek–pembangunan justru “kaum beragama”.
Apabila pembangunan itu menitikberatkan pada pembangunan material (kepentingan duniawi), meski konon tujuannya material dan spiritual (kepentingan akhirat), maka perlu dicarikan dalil-dalil tentang pentingnya materi. Minimal pentingnya menjaga “keseimbangan” antara keduanya (material bagi kehidupan dunia dan spiritual bagi kehidupan akhirat).
Maka, dalil-dalil tentang mencari–atau setidak-tidaknya tentang peringatan untuk tidak melupakan–kesejahteraan dunia, pun perlu “digali” untuk digalakkan sosialisasinya.
Tak jarang semangat ingin berpartisipasi dalam pembangunan material-- yang menjadi titik berat pembangunan– ini mendorong para dai dan kyai justru melupakan kepentingan spiritual bagi kebahagiaan akhirat. Atau, setidaknya, kurang proporsional dalam melihat kedua kepentingan itu.
Ketika berbicara tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, biasanya para dai tidak cukup menyitir doa sapu jagat saja: Rabbanaa aatinaa fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah. Biasanya, mereka juga tak lupa membawakan Hadist popular ini: I'mal lidunyaaka kaannaka ta'iesyu abadan wa'mal liakhiratika kaannaka tamuutu ghadan, yang galibnya berarti “Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi dan beramallah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi”. Kadang-kadang, dirangkaikan pula dengan firman Allah dalam Surat al-Qashash (28), ayat 77:“Wabtaghi fiimaa aataakallahu 'd-daaral aakhirata walaa tansanashiebaka min ad-dunya....” yang menurut terjemahan Depag diartikan,“Dan carikan pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi…”.