Ahmad Faisol (Faisol) menulis: untuk kita yang selalu melupakan-Nya..membaca puisi Gus Mus, aku jadi bertanya kepada diri sendiri apakah dalam keseharian aku selalu mengingat Tuhan
hamam nasirudin (hamam) menulis: bukankah nanti di akhirat bumi akan berkata"hambamu ini telah sujud mengharap keridloanmu".memang dahaga akan terus dirasakan oleh para pemujanya (bumi;harta) dan terus bertanbah dahaga namun bagi orang yang tangisan di hadapan hambanya,bagaikan menemukan air di padang gurun luas.
subhan mohammad (aan) menulis: kanapa kita tidak pernah mengingatnya dikala kita sedang senang dan kita hanya ingat kepadanya dikala kita mengalami kesusahan, cobaan, penderitaan. kenapa dia hanya dijadikan tempat keluh kesah saja walaupun kita yakin dia tidak akan bosan-bosannya mendengarkan keluh kesah kita. kenapa kita sering lupa disaat kita senang sedangkan dia tidak pernah melupakan hambanya walapun sedetik. kenapa.......? kenapa........? dan kenapa........?
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.