kulihat semua bintang
menjelma purnama
dalam langit cahaya
tiada tara benderangnya
lalu semuanya tiada
semuanya lenyap
dalam senyap
semesta fana
tiba-tiba ya Ilahi
silau aku
oleh kilas
wajah
Mu
yang menderas
dalam takjubku
dan aku pun
tak ingin
yang lain
tak ingin yang lain
hanya Kau
dimana
Kau?
kemana
Kau?
Akhir Ramadan 1430
KOMENTAR
Mundhori (Mundhori) menulis: Ketakjuban terhadap Illahi senantiasa menjadi subtsansi sajak Gus Mus. Dengan penggambaran keindahan alam lewat bulan purnama, yang menciptakan seluruh penomena alam yang serba mengejutkan, selalu menjadi inspirasi untuk mengingat Allah dengan kekuasaanNya. Agar manusia menjadi hambaNya yang tahu diri, bahwa keberkatan, anugerah harus dimaknai sebagai kecintaan Allah kepada umatNya. Dan sebaliknya diharap manusia menjunjung tinggi ketaqwaan sebagai imbangan dari wujud kecintaan tsb. Amin, semoga Gus Mus selalu dalam konidisi sehat dan bahagia.
CHOIRUL HUDDA (CHOIRUL/HUDDA/SALIM) menulis: Begitu singkatnya waktu, begitu berharganya waktu kadang terbuang waktu dengan sia2... aq banyak lupa kpd Allah walau hanya sedetik untuk mengingatNYA, mk hilanglah kesempatan berkencan dengan Allah spt yg tergambar dlm puisi diatas... terimakasih telah diingatkan... dan jangan bosan2 mengingatkan umat ya GUS...!!! Hal yg demikian senantiasa menjadikan ibadah dan amal sholeh...Amien.!!!
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.