"Pengobatan alternatif" demikian Salim menyebutnya, "Bila Anda batuk, maka minumlah perasan jeruk nipis dicampur kecap. Sementara, jika Anda mencret dan diare, minumlah teh pahit yang kental"
Dan alhamdulillah, lepas apakah uji klinis membenarkan pengobatan alternatif tersebut, para santri selama ini sudah merasakan keampuhan dan khasiatnya. Terkecuali Zaidun. Sudah dua hari Zaidun terserang batuk, dan Salim sudah menganjurkannya meminum campuran jeruk nipis-kecap. Namun, virus batuk itu belum juga pergi darinya.
Sebenarnya, Zaidun telah melaksanakan saran dari Salim, hanya saja caranya berbeda. Jikalau Salim menganjurkannya memeras air jeruk nipis langsung dicampur dengan kecap, Zaidun malahan pergi ke warung Bang Ilham untuk memesan nasi goreng plus es jeruk. Logikanya, menurut Zaidun, "Nutrisi yang terkandung dalam jeruk nipis tidak akan hilang ketika dicampur es dan gula pemanis. Dan di waktu yang sama, nasi goreng Bang Ilham menggunakan kecap". Ah, ada-ada saja. (msi)
KOMENTAR
Belum ada komentar untuk tulisan ini
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.