TELAGA » Kajian Tasawuf dan Tafsir
Selamat Tahun Baru 31 Desember 2006 11:44:32 | Share
Oleh: A. Mustofa Bisri
Sampai sekarang saya belum paham persis mengapa setiap tahun baru datang, orang-orang menyambutnya dengan suka cita. Terkadang –terutama di kota-kota besar—sambutan malah berlebihan. Sering kali dengan pesta pora gegap gempita.
Suka cita orang yang menyambut tahun baru itu apakah karena besarnya optimisme akan datangnya masa yang lebih cerah, atau merupakan luapan rasa lega dengan ditinggalkannya masa lalu yang parah? Ataukah itu hanya seperti kesukaan lumrah orang kepada setiap yang baru.
Padahal, bukankah tahun baru merupakan rambu-rambu penanda jarak mendekati batas akhir perjalanan hidup yang berarti pengurangan umur? Bagi orang yang menyadari batas akhir sejak melangkah dalam perjalanan hidup, seperti Sutardji Calzoum Bachri yang bersajak “maut menabungku/ segobang segobang”, tahun baru tentu tidak serta merta disambut dengan gembira. Tapi terlebih dulu dengan perenungan.
Apabila tahun yang lewat mencatat masukan-masukan positif bagi bekal perjalanan selanjutnya, maka sudah selayaknya tahun yang baru datang disyukuri. Namun apabila sebaliknya, tahun yang lalu memperlihatkan rapor buruk; maka kegembiraan menyambut tahun yang baru sungguh sulit dimengerti.
Sebagai hamba Allah yang diangkat sebagai khalifahNya di muka bumi, sudah sepatutnya, dalam menyambut tahun baru, kita merenungkan perjalanan hidup yang sudah kita lalui bagi melanjutkan perjalanan menjelang tempuhan yang akan. Jangan-jangan selama ini, kita terlampau sadar dengan kekhalifan kita hingga melupakan kehambaan. Atau sebaliknya terlalu sadar akan kehambaan kita lalu tidak berbuat apa-apa, hanya menunggu nasib dan lupa untuk apa kita diangkat sebagai khalifahNya.
Kadang-kadang kita menyadari kehambaan dan kekhalifahan kita, tapi kita kurang memahami apa yang harus kita lakukan sebagai hamba dan apa yang harus kita lakukan sebagai khalifahNya. Maka bisa saja terjadi hanya kita yang merasa hamba, sedangkan Tuhan sendiri tidak menganggap. Na’udzu billah. Atau kita merasa sebagai khalifah bumi, padahal saat demi saat kita merusaknya
Jangan-jangan selama ini kita malah melupakan kedua-duanya. Melupakan kehambaan dan kekhalifahan kita, karena kita melupakan Tuhan yang mengangkat kita sebagai khalifahNya. Dalam kitab suciNya, Allah berfirman kepada kaum beriman: “Walaa takuunu kalladziina nasuuLlaha fa ansaahum anfusahum; ulaa-ika humul-faasiquun” (Q. 59: 19), “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa akan Allah lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri; mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Orang yang lupa diri akibat lupa Allah, bagaimana bisa diharapkan ingat akan yang lain; ingat tempatnya, lingkungannya, keluarganya, saudaranya, dlsb. Orang Indonesia yang lupa diri, akan lupa negerinya, lupa bangsanya, lupa kewajibannya. Bila orang yang lupa diri ini termasuk rakyat jelata, mungkin tidak seberapa pengaruhnya terhadap kehidupan. Tapi bila dia termasuk elite, termasuk pemimpin, Anda bisa bayangkan –atau malah bisa membuktikan— sendiri betapa buruk dampak yang diakibatkannya. Bayangkan pemimpin yang lupa diri dan lupa amanah serta tanggungjawab yang dipikulnya. Bayangkan pejabat yang lupa diri dan lupa bahwa tidak semua yang ada ditangannya adalah miliknya dan bahwa dia tidak selamanya menjabat. Bayangkan orang berilmu yang lupa diri dan lupa memanfaatkan serta mengamalkan ilmunya. Bayangkan kiai yang lupa diri dan lupa maqamnya. Bayangkan …apa jadinya.
Dengan merenung, kita jadi sadar bahwa hidup di dunia ini ternyata memang sangat singkat. Kemarin baru tahun 2006, tak terasa sekarang sudah tahun 2007. Yang kemarin belum lahir, kini sudah lahir, Yang kemarin masih bersama kita, kini telah tiada. Yang kemarin belum balig sekarang sudah dewasa. Yang kemarin belum menikah, sekarang sudah punya anak. Yang kemarin …, sekarang …
Hidup di dunia ini bagaikan waktu Asar, sangat singkat. Dan perjalanan setelah itu sangat jauh. Sebelum lupa, mari kita ingat-ingat: tahun-tahun kemarin seberapa banyak kita mengumpulkan bekal dan seberapa banyak kita mensia-siakan bahkan membuang-buang bekal? Tahun ini, apakah kita akan melanjutkan pemupukan dan mengembangan perolehan positif kita bagi kepentingan kebahagiaan hakiki dan abadi kita? Ataukah kita akan terus mengulang-ulang rutinitas kesia-siaan kita; meski Tuhan bersama alamNya terus mengingatkan kita?
“Demi waktu Asar, sungguh manusia itu benar-benar dalam kerugian; kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasehati bagi menegakkan kebenaran dan saling menasehati untuk sabar.” (Q. 103)
Selamat Tahun Baru! Selamatlah Tahun ini!
| KOMENTAR |
dewanto (anto) menulis: Gus, tolong dong dijelasin lebih gamblang tugas kita sebagai khalifah itu apa aja, demikian juga sbg hamba ? Matur suwun banget sakderengipun. |
wijiwilopo (wiji) menulis: tahun baru......
menghantar ku pelan pelan masuk keliang lahat gus |
K u s w a n t o (K u s) menulis: Kadang-2 saya juga gumun dan bertanya-2, yach seperti pertanyaan peceramah pada tanggal 1 Januari 2007 ba'da sholat subuh di salah satu Mesjid di Rungkut Surabaya.
Pertanyaannya begini :
1. Apa kalau tidak diraya'no, tanggalnya 31 Desember terus ?
2. Atau kalau tidak dirayakan, tanggal 1 Januari tidak datang ?
3. Atau kalau tidak dirayakan, habis bulan Desember terus berubah bulan Agustus ?
Dan masih banyak pertanyaan lainnya.
Padahal dengan tidak merayakan tahun baru, Sholat subuh tidak ketinggalan, tidak boros, kesehatan terjaga, dijauhkan dari maksiat Serta banyak manfaat yang lainnya. |
amay (amay saja) menulis: dirayakan atau tidak,kita tetap aja kudu beli kalender baru. |
Sapto Raharjo (Mbah Sapto) menulis: Sebenarnya tahun baru moment evaluasi diri. Merayakannya ya yang proporsional. Ibarat orang berdagang menghitung-untung rugi. Perniagaan dlm kehidupan kita rugi (dosa) atau untung (pahala). banyak kebaikannya atau keburukannya? Kalau perayaan (hura-hura dan maksiat) tidak perlu kita bahas. Bangsa Indonesia ini memang aneh, kotoran kuda (kemaksiatan) diributkan, mutiara (kebenaran) dicuekin. Kita ini sering membesar-besarkan hal yang kecil, dan meremehkan hal yang penting. Sebenarnya yang perlu kita rayakan itu 01 MUHARRAM 1428 H (Tahun baru Islam) yang tinggal beberapa hari lagi (20 Januari 2007 insya Allah bertepatan dengan 01 Muharram 1428 H). Di Al-Zaytun Indramayu data sementara tamu yang akan hadir di acara tahun baru Islam ini 15 ribu orang, berdasarkan surat yang masuk ke panitia Peringatan 01 Muharram 1428 Hijriyah. Yang sudah menyatakan mau hadir diantaranya Wapres Yusuf kalla dan Ian Kasela Vokalis Radja. Sebenarnya yang terbaik bagaimana kita menyikapi pergantian tahun baru itu, bukan perayaannya. Yang terpenting bagaimana agar kualitas hidup kita lebih baik dari hari ke hari. |
hamam nasirudin (hamam) menulis: tugas baru, atau korupsi baru
ilmu baru, atau baru lupa yang kemarin
semangat baru, atau mau coba-coba yang baru.
sayangnya diperbaharui, atau istri baru???????????????????? |
yanto (yanto) menulis: tahun baru tahun muhasabah tahun intrsopeksi diri lah ingat kesempatan semakin terbatas dengan pengurangan umur yang ada wis dadio wong rumangsa aja gawe neko-2. |
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar | « Kembali ke arsip Telaga
|