Petunjuk Pemanfaatan Website
Agenda Buku Tamu
F.A.Q » Frequently Asked Question
Kembali ke halaman depan
Halaman Utama Percik » Kata-kata Mutiara Telaga » Kajian Tasawuf dan Tafsir Gemericik » Humor ala Gus Mus Embun » Budaya Teratai » Kisah Ringan Teladan Tepian » Komentar atas Berita dan Tulisan Rumput » Dunia Santri Gerimis » Doa-doa Tunas » Kiprah Pemuda Muara » Catatan Kritis dan Analisis Aktual
« Mei 2013 »
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

PERCIK » Kata-kata Mutiara
»Abadikan (20 April 2011 02:10:26)
»Menjaga perasaan (25 Nopember 2010 13:08:34)

TELAGA » Kajian Tasawuf dan Tafsir
»MBAH DULLAH (28 Juli 2011 04:27:39)
»Bahasa Geram (18 Juni 2010 14:00:10)

GEMERICIK » Humor ala Gus Mus
»Kecap dan Jeruk Nipis (4 Mei 2010 12:08:39)
»"Ora Usah Melu Macam-macam" (7 Desember 2009 13:04:04)

EMBUN » Budaya
»SELAMAT IDUL FITRI (29 Agustus 2011 16:43:58)
»doa (13 Agustus 2011 15:54:39)

TERATAI » Kisah Ringan Teladan
»Iwan Fals Kagumi Gus Mus (5 Juli 2010 23:02:53)
»Prof. Dr. Mahmud MD, Bercermin pada Wafatnya Gus Dur (4 Mei 2010 12:14:35)

TEPIAN » Komentar atas Berita dan Tulisan
»doa (27 Juli 2011 14:17:16)
»Gus Mus: Tindak Tegas Kelompok Radikal (23 Juni 2011 13:08:44)

RUMPUT » Dunia Santri
»Maulana Abdulmalik Israel: Yahudi Penyebar Islam Tanah Jawa (4 Mei 2010 12:03:01)
»KH ZAINUL ARIFIN; Mengenang Seabad Sang Wakil Perdana Menteri (14 Nopember 2009 10:09:40)

GERIMIS » Doa-doa
»DOA IJAZAH RASULULLAH SAW KEPADA SHAHABAT ABU BAKAR ASH-SHIDDIEQ R.A. (30 Nopember 2008 08:31:08)
»Doa Ma'tsurat (16 Agustus 2008 11:39:51)

TUNAS » Kiprah Pemuda
»Pengkaderan Tunas Muda NU Yang Mengkhawatirkan (Sebuah Usulan Untuk Muktamar NU) (16 Februari 2010 00:38:20)
»Pesantren Kilat MataAir Sukses Masuk PTN 2009: "From Pesantren to PTN" (28 Januari 2010 07:03:25)

MATA AIR » Napak Tilas
»LEBARAN (1 September 2011 05:56:29)
»HAKIKAT IKHLAS (25 Desember 2010 05:19:37)

MUARA » Catatan Kritis dan Analisis Aktual
»KEGETIRAN dan HARAPAN (6 Januari 2011 03:40:39)
»Permainan Sepakbola (16 Juni 2010 17:02:26)

Keluarga besar Komunitas MataAir menyampaikan "Selamat Tahun Baru Hijriyah 1433. Semoga dalam tahun baru ini, kehidupan kita duniawi maupun ukhrawi, lebih baik dari tahun sebelumnya. Wakullu 'aamin waAntum bikhair...
TELAGA » Kajian Tasawuf dan Tafsir

Olah Raga dan Olah Jiwa
10 Agustus 2006 21:53:02 | Share

Oleh: A. Mustofa Bisri

“Bangunlah jiwanya,bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya!” Begitu antara lain kita, sebagai bangsa, selalu menyanyi. Kita memang selalu mengatakan,”jiwa raga, bukan ”raga jiwa".




Mendahulukan ungkapan “jiwa” dari “raga”. Mendahulukan kata ”jiwa “dari kata”raga”,sebagaimana Wage Rudolf Soepratman mendahulukan “membangun jiwa” dari “membangun badan”, agaknya memang dimaksudkan bukan sekedar pantas-pantasan atau kebetulan.

Bandingkan dengan orang Arab -yang bahasanya banyak mempengaruhi bahasa kita– misalnya. Mereka mengatakan “Jisman wa ruhan”, “raga dan jiwa”. Dikatakan juga ada aliran kebatinan (dari asal kata arab bathin) dan tak ada aliran kejasadan atau aliran keragaan.

Namun entah mengapa –apakah karena penekanan pembangunan kita yang terlalu pada ekonomi?- dan kapan mulainya, tiba-tiba saja terkesan hanya mengurusi raga dan merupakan jiwa ; tidak sekedar mendahulukan raga dari jiwa?

Lihatlah kesibukan kita sehari-hari: berapa persen jatah untuk dan dalam rangka jiwa kita, dibanding prosentase bagi raga? Lihatlah supermarket-supermaket, pasar-pasar swalayan; restoran-restoran yang terus tumbuh dan kita padati demi pemanjaan kita kepada raga-raga kita. Lihatlah pula iklan-iklan yang setiap saat dijejalkan ke rumah-rumah kita; mulai dari rokok, segala macam jenis makanan, berbagai jenis pakaian, perumahan indah, hingga penyedap bau badan.

Dan, bukan sekedar slogan bila kita meneriakkan dakwah “memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat”.

Olahragawan yang berprestasi, kita elu-elukan sebagai pahlawan bangsa, kita banjiri dengan hadiah-hadiah yang sering kali lebih besar daripada hadiah yang diperolehnya dalam satu turnamen atau kompetisi, dan kita ekpose besar-besar di media kita.

Bandingkan itu dengan perilaku kita terhadap kegiatan mereka yang ‘berolah jiwa’. Berapa di antara kita yang mendengar misalnya, tentang Syeikh Yusuf Al- Makasari, (dari makasar) yang menjadi Maha Guru Jiwa di Afrika Selatan, Syeikh Yasin Al- Fadani (dari Padang), Syeikh Nawawi Al-Bantani (dari Banten ), Syeikh Machfudz At-Turmuzi (dari Termas, Pacitan) dan Syeikh Sayid Asad Syihab (kakek Dr. Quraisy Syihab) yang- tanpa kehilangan rasa kebangsaan dan patriotisme mereka menulis puluhan kitab berbahasa Arab termasuk tentang tokoh dan pahlawan-pahlawan Indonesia ?

Selain tentang mereka itu, beberapa orang pula diantara kita tahu, bahwa tokoh-tokoh kita seperti misalnya Kiai Hasyim Asy’ari, Sudjatmoko, Affandi , HB. Jassin, Bagong Kusudiarjo, Pramudya Ananta Toer, Abdurrahman Wahid, Rendra, dan masih banyak lain, mempunyai pretasi yang diakui dan mendapat penghargaan di luar negeri dalam ‘olah pikir’ dan mendapat penghargaan diluar negeri dalam ‘olah pikir dan ‘olah jiwa ?

Itu belum lagi bila kita berbicara tentang karya betapa njomplangnya dan tidak seimbangnya perlakuan dan penghargaan ‘pemerintah’ kita antara terhadap kegiatan olah raga dan olah jiwa itu sendiri. (Tengok misalnya untuk cabang-cabang olah raga para menteri turun tangan sendiri memimpin; sementara untuk kegiatan olah jiwa masih saja terdengar adanya hambatan-hambatan oleh sementara ‘kebijakan’; masih terdengar adanya budayawan atau karyanya yang dicekal, masih ada praktik mempersulit perizinan pengajian yang konon kata peraturannya tak perlu izin)

Lalu jika begitu benar, lalu apa maksud kita dengan tekad membangun manusia dan masyarakat Indonesia seutuhnya?


KOMENTAR
12 Agustus 2006 09:41:16 hamam nasirudin (hamam) menulis:
keyakinan itu masih ada bahwasanya bangsa ini belum di tinggal lari jauh oleh jiwa-jiwanya sendiri,momen 17 agustus merupakan peneguh ikatan simpul jiwa indonesia.
12 Agustus 2006 14:40:36 Singgih Wahyudiyana (Singgih) menulis:
Assalamualaikum Wr Wb.
Nuwun sewu... dalem bade urun pendapat Gus. Pendapat inipun dari dari orang yang masih pelo berbicara tentang agama. Oleh karenanya saya terus belajar, salah satunya dari penjenengan melalui mata air.

Memang... Nampaknya masih selalu dihadapkan pada situasi yang penuh dilema dan paradoks atas dua paradigma yang yang oleh sebagian besar masyarakat kita selalu diyakini "kebenarannya / keutamaanya" hanya salah satu diantarannya,--- bukan meletakkan kedua duanya dengan sesmestinya.
Pembangunan ekonomi dengan dengan keyakinan tricle down effect nya telah menisbikan peran penting pembangunan sosial yang sesungguhnya apabila disinergikan dengan pembangunan ekonomi secara proporsional akan berdampak pada pertumbuhan dan pemerataan.
Dalam membangun masyarakatpun para perencana, LSM, tampaknya terlampau meyakini apabila masyarakat diberi bantuan uang - modal - atau kredit ( yang bersifat "nampak" fisik) pasTI Akan akan mampu mengatasi masalah hidupnya ; petani akan berhasil ; kemiskinan akan terentas. Tanpa mengajak saudara kita untuk terbiasa mengolah fikirnya yang hasilnya terwujud dalam bentuk kesadaran akan realitas dan kesadaran untuk bangkit melalui upaya membangun yang transformatif.
Banyak lagi fakta-fakta... cara pikir kita, perilaku kita watak kita yang hanya mementingkan sesuatu yang nampak, sesuatu yang terdengar.

Kebanyakan dari kita Masih gampang terpesona, gampang 'ndlongop' dan gampang senang dengan fenomena-fenomena instrumental--- dan bukan sesuatu yang substansial dan yang mencerahkan pikir kita.

Saya sependapat dengan tulisan Gus Mus.... bahwa Olah Jiwa, Cara berfikir, keyakinan, kejernihan hati, kesadaran,semestinya menjadi sesuatu yang harus kita tempat sebagai target pertama dalam upaya apapun tanpa meninggalkan unsur /aspek raga.
Termasuk katanya dalam buku-kuku, yang menyatakan bahwa kita berubah atau tidak, kita berhasil atau tidak, kita sukses atau tidak sesunggungnya tergantung pada pikiran kita.

Matur nuwun Gus... nyuwun pangapunten, meniko namung pendapat dari "santri" Gus Mus yang masih terus belajar. Assalamualaikum Wr Wb.

Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar

« Kembali ke arsip Telaga

LEBARAN
1 September 2011 05:56:29

 

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.

(0 komentar) | Selengkapnya »

Napak Tilas lainnya:
»HAKIKAT IKHLAS (25 Desember 2010 05:19:37)
»NU dan Garasinya (15 Maret 2010 20:14:41)
»FID-DUNYA HASANAH WAFIL-AKHIRATI HASANAH (16 Nopember 2009 10:17:04)
»Idul Fitri dan Menjaga Kebersamaan (2 September 2009 10:44:48)

Login Anggota
Email:
Password:
  
Lupa Password
Daftar Menjadi Anggota
Tentang Komunitas Mata Air

Palung » Galeria

Doctor Honoris Causa Gus Mus


"SK penganugerahan ini tidak akan dicabut;" kata Rektor...

Arsip Palung » Galeria

RIAK » Video

Lihat Detail | Arsip Riak

Jajak Pendapat
Kasus moral dan kesusilaan kembali merebak setelah beredarnya video porno yang mirip artis. Menurut Anda, bagaimanakah peran pemerintah dalam mencegah berulangnya kasus serupa di masa mendatang?
Hukum pelaku penyimpangan moral seberat-beratnya
Berlakukan sensor yang ketat terhadap media massa khususnya internet
Mendorong peran Ormas keagamaan untuk melakukan pembinaan moral masyarakat
Lihat Hasil | Arsip
Kerikil »

 

Ruyati, TKI di Saudi Arabia dihukum pancung tanpa diketahui pemerintah

tidak tahu atau tidak mau tahu?
 

© 2005 GusMus.NET. Managed by Komunitas Mata Air. Powered by TRANSFORMATIKA.