TELAGA » Kajian Tasawuf dan Tafsir
Olah Raga dan Olah Jiwa 10 Agustus 2006 21:53:02 | Share
Oleh: A. Mustofa Bisri
“Bangunlah jiwanya,bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya!” Begitu antara lain kita, sebagai bangsa, selalu menyanyi. Kita memang selalu mengatakan,”jiwa raga, bukan ”raga jiwa".
Mendahulukan ungkapan “jiwa” dari “raga”. Mendahulukan kata ”jiwa “dari kata”raga”,sebagaimana Wage Rudolf Soepratman mendahulukan “membangun jiwa” dari “membangun badan”, agaknya memang dimaksudkan bukan sekedar pantas-pantasan atau kebetulan.
Bandingkan dengan orang Arab -yang bahasanya banyak mempengaruhi bahasa kita– misalnya. Mereka mengatakan “Jisman wa ruhan”, “raga dan jiwa”. Dikatakan juga ada aliran kebatinan (dari asal kata arab bathin) dan tak ada aliran kejasadan atau aliran keragaan.
Namun entah mengapa –apakah karena penekanan pembangunan kita yang terlalu pada ekonomi?- dan kapan mulainya, tiba-tiba saja terkesan hanya mengurusi raga dan merupakan jiwa ; tidak sekedar mendahulukan raga dari jiwa?
Lihatlah kesibukan kita sehari-hari: berapa persen jatah untuk dan dalam rangka jiwa kita, dibanding prosentase bagi raga? Lihatlah supermarket-supermaket, pasar-pasar swalayan; restoran-restoran yang terus tumbuh dan kita padati demi pemanjaan kita kepada raga-raga kita. Lihatlah pula iklan-iklan yang setiap saat dijejalkan ke rumah-rumah kita; mulai dari rokok, segala macam jenis makanan, berbagai jenis pakaian, perumahan indah, hingga penyedap bau badan.
Dan, bukan sekedar slogan bila kita meneriakkan dakwah “memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat”.
Olahragawan yang berprestasi, kita elu-elukan sebagai pahlawan bangsa, kita banjiri dengan hadiah-hadiah yang sering kali lebih besar daripada hadiah yang diperolehnya dalam satu turnamen atau kompetisi, dan kita ekpose besar-besar di media kita.
Bandingkan itu dengan perilaku kita terhadap kegiatan mereka yang ‘berolah jiwa’. Berapa di antara kita yang mendengar misalnya, tentang Syeikh Yusuf Al- Makasari, (dari makasar) yang menjadi Maha Guru Jiwa di Afrika Selatan, Syeikh Yasin Al- Fadani (dari Padang), Syeikh Nawawi Al-Bantani (dari Banten ), Syeikh Machfudz At-Turmuzi (dari Termas, Pacitan) dan Syeikh Sayid Asad Syihab (kakek Dr. Quraisy Syihab) yang- tanpa kehilangan rasa kebangsaan dan patriotisme mereka menulis puluhan kitab berbahasa Arab termasuk tentang tokoh dan pahlawan-pahlawan Indonesia ?
Selain tentang mereka itu, beberapa orang pula diantara kita tahu, bahwa tokoh-tokoh kita seperti misalnya Kiai Hasyim Asy’ari, Sudjatmoko, Affandi , HB. Jassin, Bagong Kusudiarjo, Pramudya Ananta Toer, Abdurrahman Wahid, Rendra, dan masih banyak lain, mempunyai pretasi yang diakui dan mendapat penghargaan di luar negeri dalam ‘olah pikir’ dan mendapat penghargaan diluar negeri dalam ‘olah pikir dan ‘olah jiwa ?
Itu belum lagi bila kita berbicara tentang karya betapa njomplangnya dan tidak seimbangnya perlakuan dan penghargaan ‘pemerintah’ kita antara terhadap kegiatan olah raga dan olah jiwa itu sendiri. (Tengok misalnya untuk cabang-cabang olah raga para menteri turun tangan sendiri memimpin; sementara untuk kegiatan olah jiwa masih saja terdengar adanya hambatan-hambatan oleh sementara ‘kebijakan’; masih terdengar adanya budayawan atau karyanya yang dicekal, masih ada praktik mempersulit perizinan pengajian yang konon kata peraturannya tak perlu izin)
Lalu jika begitu benar, lalu apa maksud kita dengan tekad membangun manusia dan masyarakat Indonesia seutuhnya?
| KOMENTAR |
hamam nasirudin (hamam) menulis: keyakinan itu masih ada bahwasanya bangsa ini belum di tinggal lari jauh oleh jiwa-jiwanya sendiri,momen 17 agustus merupakan peneguh ikatan simpul jiwa indonesia. |
Singgih Wahyudiyana (Singgih) menulis: Assalamualaikum Wr Wb.
Nuwun sewu... dalem bade urun pendapat Gus. Pendapat inipun dari dari orang yang masih pelo berbicara tentang agama. Oleh karenanya saya terus belajar, salah satunya dari penjenengan melalui mata air.
Memang... Nampaknya masih selalu dihadapkan pada situasi yang penuh dilema dan paradoks atas dua paradigma yang yang oleh sebagian besar masyarakat kita selalu diyakini "kebenarannya / keutamaanya" hanya salah satu diantarannya,--- bukan meletakkan kedua duanya dengan sesmestinya.
Pembangunan ekonomi dengan dengan keyakinan tricle down effect nya telah menisbikan peran penting pembangunan sosial yang sesungguhnya apabila disinergikan dengan pembangunan ekonomi secara proporsional akan berdampak pada pertumbuhan dan pemerataan.
Dalam membangun masyarakatpun para perencana, LSM, tampaknya terlampau meyakini apabila masyarakat diberi bantuan uang - modal - atau kredit ( yang bersifat "nampak" fisik) pasTI Akan akan mampu mengatasi masalah hidupnya ; petani akan berhasil ; kemiskinan akan terentas. Tanpa mengajak saudara kita untuk terbiasa mengolah fikirnya yang hasilnya terwujud dalam bentuk kesadaran akan realitas dan kesadaran untuk bangkit melalui upaya membangun yang transformatif.
Banyak lagi fakta-fakta... cara pikir kita, perilaku kita watak kita yang hanya mementingkan sesuatu yang nampak, sesuatu yang terdengar.
Kebanyakan dari kita Masih gampang terpesona, gampang 'ndlongop' dan gampang senang dengan fenomena-fenomena instrumental--- dan bukan sesuatu yang substansial dan yang mencerahkan pikir kita.
Saya sependapat dengan tulisan Gus Mus.... bahwa Olah Jiwa, Cara berfikir, keyakinan, kejernihan hati, kesadaran,semestinya menjadi sesuatu yang harus kita tempat sebagai target pertama dalam upaya apapun tanpa meninggalkan unsur /aspek raga.
Termasuk katanya dalam buku-kuku, yang menyatakan bahwa kita berubah atau tidak, kita berhasil atau tidak, kita sukses atau tidak sesunggungnya tergantung pada pikiran kita.
Matur nuwun Gus... nyuwun pangapunten, meniko namung pendapat dari "santri" Gus Mus yang masih terus belajar. Assalamualaikum Wr Wb.
|
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar | « Kembali ke arsip Telaga
|