TELAGA » Kajian Tasawuf dan Tafsir
Dakwah vs Menakut-nakuti 21 April 2010 13:23:57 | Share
Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri
Seorang kawan budayawan dari satu daerah di Jawa Tengah yang biasanya hanya SMS-an dengan saya, tiba-tiba siang itu menelpon. Dengan nada khawatir, dia melaporkan kondisi kemasyarakatan dan keagamaan di kampungnya.
Keluhnya antara lain,“Kalau ada kekerasan di Jakarta oleh kelompok warga yang mengaku muslim terhadap saudara-saudaranya sebangsa yang mereka anggap kurang menghargai Islam, mungkin itu politis masalahnya. Tapi ini di kampung, Gus, sudah ada kelompok yang sikapnya seperti paling Islam sendiri. Mereka dengan semangat jihad, memaksakan pahamnya ke masyarakat. Sasarannya jamaah-jamaah di masjid dan surau. Rakyat pada takut. Bahkan, na’udzu billah, Gus, saking takutnya ada yang sampai keluar dari Islam. Ini bagaimana? Harus ada yang mengawani masyarakat, Gus. NU dan Muhammadiyah kok diam saja ya?”
Kondisi yang dilaporkan kawan saya itu bukanlah satu-satunya laporan yang saya terima. Ya, akhir-akhir ini sikap perilaku keberagamaan yang keras model zaman Jahiliyah semakin merebak. Hujjah-nya, tidak tanggung-tanggung seperti membela Islam, menegakkan syariat, amar makruf nahi munkar, memurnikan agama, dsb. Cirinya yang menonjol : sikap merasa benar sendiri dan karenanya bila bicara suka menghina dan melecehkan mereka yang tidak sepaham. Suka memaksa dan bertindak keras dan kasar kepada golongan lain yang mereka anggap sesat. Seandainya kita tidak melihat mereka berpakaian Arab dan sering meneriakkan “Allahu Akbar!”, kita sulit mengatakan mereka itu orang-orang Islam. Apalagi bila kita sudah mengenal pemimpin tertinggi dan panutan kaum muslimin, Nabi Muhmmad SAW.
Seperti kita ketahui, Nabi kita yang diutus Allah menyampaikan firman-Nya kepada hamba-hamba-Nya, adalah contoh manusia paling manusia. Manusia yang mengerti manusia dan memanusiakan manusia. Rasulullah SAW seperti bisa dengan mudah kita kenal melalui sirah dan sejarah kehidupannya, adalah pribadi yang sangat lembut, ramah dan menarik. Diam dan bicaranya menyejukkan dan menyenangkan. Beliau tidak pernah bertindak atau berbicara kasar.
روى البخاري عن أنس رضي الله عنه قال: لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم سبابا ولا لماما ولا فاحشا
Sahabat Anas r.a yang lama melayani Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan imam Bukhari, menuturkan bahwa Rasulullah SAW bukanlah pencaci, bukan orang yang suka mencela, dan bukan orang yang kasar.
وروى الترمذي عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال: لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاحشا ولا متفاحشا ولا صخابا في الأسواق
Sementara menurut riwayat Imam Turmudzi, dari sahabat Abu Hurairah r.a: Rasulullah SAW pribadinya tidak kasar, tidak keji, dan tidak suka berteriak-teriak di pasar.
Ini sesuai dengan firman Allah sendiri kepada Rasulullah SAW di Q. 3: 159, “Fabima rahmatin minallaahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhalqalbi lanfadhdhuu min haulika …” , Maka disebabkan rahmat dari Alllah, kamu lemah lembut kepada mereka. Seandainya kamu berperangai keras berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…”
Jadi, kita tidak bisa mengerti bila ada umat Nabi Muhammad SAW, berlaku kasar, keras dan kejam. Ataukah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka yang begitu berbudi, lemah- lembut dan menyenangkan; atau mereka mempunyai panutan lain dengan doktrin lain.
Atau mungkin sikap mereka yang demikian itu merupakan reaksi belaka dari kezaliman Amerika dan Yahudi/Israel. Kalau memang ya, bukankah kitab suci kita al-Quran sudah mewanti-wanti, berpesan dengan sangat agar kita tidak terseret oleh kebencian kita kepada suatu kaum untuk berlaku tidak adil. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah (bukan karena yang lain-lain!), menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Baca Q. 5: 9).
Hampir semua orang Islam mengetahui bahwa Rasulullah SAW diutus utamanya untuk menyempurnakan budi pekerti. Karena itu, Rasulullah SAW sendiri budi pekertinya sangat luhur (Q. 68: 4). Mencontohkan dan mengajarkan keluhuran budi. Sehingga semua orang tertarik . Ini sekaligus merupakan pelaksanaan perintah Allah untuk berdakwah. Berdakwah adalah menarik orang bukan membuat orang lari. (Baca lagi Q. 3: 159!). Bagaimana orang tertarik dengan agama yang dai-dainya sangar dan bertindak kasar tidak berbudi?
Melihat perilaku mereka yang bicara kasar dan tengik, bertindak brutal sewenang-wenang sambil membawa-bawa simbol-simbol Islam, saya kadang-kadang curiga, jangan-jangan mereka ini antek-antek Yahudi yang ditugasi mencemarkan agama Islam dengan berkedok Islam. Kalau tidak, bagaimana ada orang Islam, apalagi sudah dipanggil ustadz, begitu bodoh: tidak bisa membedakan antara dakwah yang mengajak orang dengan menakut-nakuti yang membuat orang lari. Bagaimana mengajak orang mengikuti Rasulullah SAW dengan sikap dan kelakuan yang berlawanan dengan sikap dan perilaku Rasulullah SAW?
| KOMENTAR |
Agus Hartono (agushar) menulis: Saya pernah menulis di blog saya tentang perbedaan adalah rahmat. Saya sependapat dengan abah di paragraph terakhir. Mungkin mereka antek Yahudi yang menyusup ke dalam Islam. Kalaupun bukan mereka itu manusia setengah Iblis. yang merasa dirinya paling baik, paling benar. Mereka memahami kitab secara parsial. Dan mungkin juga mengingkari sebuah ayat yang berbunyi : "Katakanlah, tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya". Dan mungkin juga mereka mengingkari kalau tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam. Rasulullah tidak pernah memaksa-maksa. "aminuu au laa tu`minuu" . lebih baik tunggulah, kami semua juga menunggu. siapa diantara kita yang paling benar. Tak akan lama lagi kok. Tinggal menunggu selama sisa umur kita. |
Ah. Samsul Bachri (samsul/bachri) menulis: Assalamu'alaikum Wr. Wb.
punten Pak Kyai, nuwun sewu sedoyo kelapatan dalem.saya pribadi juga merasa ngeri bila melihat kenyataan sekarang ini.saya kira saatnya IPNU/IPPNU atau IRM menjadi garda terdepan dalam mengcaunter pemuda pemuda Indonesia khususnya yg di kampung2 supaya memberikan penjelasan yg komperhensip tentang wajah Islam yg sebenarnya.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb. |
Miftakhul Adhim (cak adhim) menulis: Assalaamualaikum Wr. Wb.
Jangankan sekarang sejak dulu juga ada.
Mengatasnamakan kelompok islam yang inginya menang sendiri, benar sendiri demi kepentingan politik praktis(kekuasan) misal: golongan syiah dengan golongan khawarij yang ekstrim , sampai mengkafirkan saudaranya sendiri seislam. maka para tabiin menawarkan aswaja, yang moderat "wa satho" ( tengah-tengah),tidak ekstrim yang dianut oleh NU, sehingga sesuai wahyu ALLOH SWT dan bisa diterima akal.
Semoga NU menjadi jalan menuju rahmatal lil aalamin. Ngapunten !!!
|
Yazid Muttaqin (Yaz) menulis: Ngapunten sak derengipun Gus.
Melihat bahasa Gus Mus yang digunakan, saya rasa tidak seperti biasanya yang sedikitpun tak menunjukkan "kekerasan bahasa". Saya merasakan Gus Mus begitu tak menyukai dengan fenomena keislaman sekarang ini. Suwun
|
Muhammad Arwani Munib (Munib) menulis: Assalamu'alaikum wr. wb
selanjutnya langkah apa yang harus kita ambil gus menawi menghadapi fenomena kados mekaten |
Anuar musyadad (Adak) menulis: Pa munib, nunut, pripun pa kiyai |
Didin Riswanto (Kang DidinMERAHPUTIH) menulis: Islam Ko medeni.....
Gusti Allah kui Apikan ko... umate do senengane mekso
koyo koyo wis paling bener
padahal merasa benar itu yang salah...
hayo.... |
muhammad agung (agung) menulis: inilah ketika dakwah bil jahil dan jahil dalam berdakwah |
latifabdul (latif) menulis: Kader2 Islam garis keras sudah masuk kemana mana, mesdjid2NU, On LIne NU, Muhamadiyah dan pemerintah SBY,MUI dll.
Mereka betul2 aktif dama berjuang dgb cara baik dan kasar,asal tujuan tercapai.
PBNU sekarng ini mudah2an dapat membersihkan lembaga2 NU,kalau tidak mereka akan mengusai NU.
salam
|
mochamad rizak (rizak) menulis: Saya cuma ingat tulisan panjenengan yang mengatakan bahwa NAHI MUNKAR pun harus dilakukan dengan cara yang MA'RUF. Mereka yang berbuat demikian pasti tidak mengenal Gus Mus, apalagi Salafus Soleh, Sahabat......lebih-lebih pada Baginda Rasulullah SAW. |
Setyo Pratomo (Tomo) menulis: Assalaamualaikum Wr. Wb.
Nuwun sewu gus, yang seperti itu biasa saya sebut "koyo islam2-o dhewe"...
Mohon ijin tulisan ini saya share on facebook gus...
Matur sembah nuwun
Salam hormat |
latifabdul (latif) menulis: Akar konflik dlm islam dikerenakan ada Hadits palsu yg bertentangan dgn ayat2 ALLAH.
HADITS PALSU.
"Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran,hendaklah is mengubah
dengan TANGAN MU:jika tidak mempu, hendaklah dengan lisannya; jika tidak mampu
hendaklah dengan hatinya.Akan tetapi,yang demikian adalah selemah lemahnya
iman.HR.Muslim"
Dengan tangan diartikan membuat undang2 untuk melarang firqoh2 islam yg berbeda
dgn mereka, danbahkan dgn tangan mereka merusak dan membunuh lawan2nya.
ALQURAN DLM MENEGAKAN AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR.
Maka berilah PERINGATAN ,(kepada peminum2alkohol, wanita2 penari,penjudi2 atau
kepada penyembah2 berhala, ajaran2 sesat dll) karena sesungguhnya kamu hanyalah
orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa( diktator, atau
orang yang memaksa) atas mereka. Tetapi orang yang
berpaling,khafir(ingkar,melawan), maka ALLAH akan mengazabnya dengan azab yang
besar..(QS.88;21-22).
"Tugas kamu(Muhammad) hanya menyampaikan saja. Kami lah yang menghisab
perbuatan2 mereka" dan QS.13:40.
"Jika sekiranya kamu bersikap keras,kasar,jahat budi pekerti, berhati kasar
(tidak lemah lembut, tidak senyum ), niscaya larilah tamu-tamu itu dari kamu."
(QS.3:159 ). (Anti kekerasan).
Jika mereka tetap berpaling,maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atas
kamu(Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat ALLAH ) dgn terang Qs 16 :82.
Semoga ayat2 ALLAH itu dapat memperbaiki aqidah kita selama ini,terutama saudara2 dr islam garis keras.
salam |
Azwar Syarfanie (Hadopan Az) menulis: Islam agama rahmat, dakwah tetaplah, teror, menakut-nakuti, mecela yg lain tetaplah kebathilan... |
mohammad irfan (irfan) menulis: Assalamu alaikum, gus ...
saya sudah membaca pandangan / dakwah Gus Mus di atas dan saya setuju dengan Gus Mus .....
masalahnya dakwah Gus Mus itu apa sudah disampaikan kepada kalangan umat islam di jawa tengah khususnya atau hanya di "gusmus.net" aja yang tahu ...
karena suatu gagasan, ide, atau pemikiran kalau tidak di-informasi-kan, kan tidak ada gunanya ......
matur nuwun gus,
wassalam ..... |
Moh. Ghufron Cholid (Moh. Ghufron Cholid) menulis: Dakwah itu hadir dihadirkan dengan wajah yang riang, sehingga tak ada perang........ |
Mutya Dyan Asthami (Mutya) menulis: Assalaamu'alaykum wr wb.
Salam kenal Gus Mus. Saya adalah penggemar baru Gus Mus sejak beberapa bulan yang lalu *hehehe... telat*
Ketika membaca artikel ini, saya merasa ada ganjalan dengan kalimat "sikap merasa benar sendiri dan karenanya bila bicara suka menghina dan melecehkan mereka yang tidak sepaham" yang ditujukan Anda untuk mereka.
Tapi di sisi yang lain, Gus menulis "Melihat perilaku mereka yang bicara kasar dan tengik, bertindak brutal sewenang-wenang sambil membawa-bawa simbol-simbol Islam, saya kadang-kadang curiga, jangan-jangan mereka ini antek-antek Yahudi yang ditugasi mencemarkan agama Islam dengan berkedok Islam. Kalau tidak, bagaimana ada orang Islam, apalagi sudah dipanggil ustadz, begitu bodoh: tidak bisa membedakan antara dakwah yang mengajak orang dengan menakut-nakuti yang membuat orang lari."
Saya takut telah salah paham dengan melihat adanya pertentangan dalam kalimat yang pertama dengan kalimat yang terakhir. Mohon penjelasannya Gus. Matur nuwun :D |
hamdan marsilan (hamdanmars) menulis: pancen leres gus, zaman sekarang banyak banget aliran atau paham yang menyesatkan, saya berharap dari para tokoh NU bisa memberikan pemahman kepada umatnya tentang aqidah yang benar, ternyata keresahan ini sudah sampai kekampung-kampung yang notabene mereka hanya sami'na wa atho'na ma kyainya, sekarang peran para kyai benar-benar harus berjuang keras.... |
robbah mahzumi Alawy (robbah) menulis: setuju tentunya.....
tentu yang harus bertindak bukan hanya kalangan NU ataupun MU saja.
semua orang islam yang mengenal dan memahami Islam dengan Nabi Muhammad SAW. harus ikut ambil andil....
minimal mengingatkan kelompok itu. ditambah lagi Indonesia kan republik yang demokratis...
pembenaran secara sepihak atas satu kelompok karena ketidaksenangan terhadap kelompok lain kan bisa dituntut....
menyelesaikan persoalan di indonesia tidaklah cukup dengan dalih-dalih agama...
Indonesia bukanlah negara Islam
bawa aja mereka ke ranah hukum dengan kawalan ormas-ormas islam yang sadar akan pentingnya dakwah bilhikmah wal mauidzoyi hasanah. selesai juga kan urusannya....
wassalam |
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar | « Kembali ke arsip Telaga
|