Edisi 33 "Geliat Niaga, Umat Berlaga" 9 Februari 2010 22:36:07 | Share
Edisi ini, kami mengangkat tema seputar geliat ekonomi dikalangan kelompok-kelompok Islam. Dengan ungkapan lain, kami ingin menguak bangkitnya “ekonomi identitas”. Maksudnya, fakta saat ini menunjukkan bangkitnya kesadaran dan tindakan dari ormas-ormas Islam baik yang sudah lama berpijak di bumi pertiwi ini maupun yang dalam hitungan waktu termasuk baru. Fenomena ini menyodok pertanyaan, apakah ini merupakan “kebangkitan ekonomi umat” atau bangkitnya “ekonomi identitas”?
Kami berhasil meliput kegiatan ekonomi kelompok Islam seperti Jamaah Salafi, LDII, Jamaah Ahmadiyah dan Jamaah Rufaqa. Tak dinyana, mereka telah membangun unit-unit usaha yang tingkat eskalasinya boleh dikata luar biasa.
Dalam rangka membangun pemahaman yang utuh, kami menghadirkan wawancara dengan Jubir HTI, Ismail Yusanto, Zaim Saidi, tokoh yang getol mengkampanyekan mata uang dinar dan dirham, Dr. Anwar Abbas, ketua bidang ekonomi Muhammadiyah dan Zuhairi Misrawi, intelektual muda NU. Dapatkan majalah MataAir di toko buku Gramedia se-Jakarta atau hubungi kami di 021-8297329.
KOMENTAR
Belum ada komentar untuk tulisan ini
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.