Kali ini, kami mengangkat tema tentang “buku-buku penebar teror”. Mungkin tema ini sedikit lebih “angker” atau malah dipandang hiperbolis. Tapi, kami mempunyai pertimbangan bahwa buku atau bacaan tertulis apapun bisa menjadi “cermin” untuk melihat pemikiran, sikap dan perilaku seseorang. Dulu, KH Hasyim Muzadi pernah mengungkapkan bahwa orang itu tergantung bacaannya. Orang bisa radikal atau moderal dan bahkan liberal tergantung pada apa yang dibacanya. Pernyataan ini agaknya menarik dan bisa direpresentasikan dalam melihat keterkaitan antara buku dengan faham seseorang.
Faktanya, selama ini seperti kasus-kasus penggerebekan teroris selalu saja di situ ditemukan buku-buku yang berfaham atau setidaknya mendorong bertindak radikal. Fakta ini bisa menjadi “kaca benggala” bahwa umumnya seseorang terbentuk pemikirannya karena hasil dari pergulatan dia dalam membaca yang kemudian diimplementasikan dalam praktik.
Nah, untuk edisi ini kami menampilkan beberapa narasumber yang dipandang otoritatif seperti Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj MA dan Adian Huseini untuk menyoroti fenomena buku pemicu radikalisme. Dan seperti bisa, rubrik-rubrik lama kami hadirkan plus ada tambahan rubrik “Muamalah” yang membidik soal geliat perekonomian di negeri kita termasuk ekonomi syariah. Semua ini demi kepuasan pembaca. Hubungi kami di 021-8297329.
KOMENTAR
Belum ada komentar untuk tulisan ini
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.