Mahfud MD: MPR Tak Perlu Keluarkan Tap Maaf Terhadap Gus Dur 8 Februari 2010 13:39:07 | Share
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud M.D. menyarankan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tak mengeluarkan Ketetapan (Tap) permohonan maaf terhadap mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
"Saya sudah katakan kepada mereka (MPR), Gus Dur tidak butuh Tap itu," katanya saat memberikan sambutan acara peringatan 40 hari wafatnya Gus Dur, di Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Ahad (7/2) malam.
Pernyataan itu untuk menanggapi permintaan maaf mantan Ketua MPR Amien Rais maaf atas pemberhentian Gus Dur sebagai Presiden RI pada 2001.
Kemudian beberapa kalangan mendesak agar MPR mengeluarkan Tap permintaan maaf karena sebenarnya Gus Dur tidak bersalah, apalagi penyelewengan dana nonbujeter Bulog dan dana bantuan pemerintah Brunei yang dituduhkannya tidak pernah terbukti hingga kini.
"Tidak perlu dibuatkan Tap, Gus Dur sudah memaafkan MPR dan lawan-lawan politiknya. Bahkan, Gus Dur tidak memiliki dendam terhadap siapa pun," kata mantan Menhan di era Presiden Gus Dur itu.
Menurut Mahfud, saat itu masih sangat memungkinkan Gus Dur berkuasa hingga 2004. "Saya tahu kondisi saat itu karena saya yang mengawal beliau," katanya.
Saat itu, lanjut dia, lawan-lawan politik Gus Dur berjanji tidak akan menjegalnya di tengah jalan, asalkan mantan Ketua Umum PBNU itu bersedia merombak jajaran kabinetnya.
"Tawaran itu sudah saya sampaikan kepada Gus Dur. Tapi beliau tidak mau jual-beli jabatan dalam kabinet yang dipimpinnya. Makanya beliau memilih berhenti," katanya.
Justru sebaliknya, lawan-lawan politik Gus Dur banyak yang terharu, ketika melihat Gus Dur dengan ikhlas turun dari jabatan yang belum genap dua tahun diembannya itu.
"Setelah Gus Dur lengser pun beliau tidak melakukan perbuatan yang dapat mengganggu stabilitas negara," kata Mahfud. (ant/mad/nuonline)
KOMENTAR
Heri Setyawan (Heri) menulis: saya tahu niat baik Gus Dur, hanya banyak orang yang belum paham, begitu kejadian baru percaya, beliau benar-benar tulus dan ber-visi kedepan
Abdul Hamid Al Musthofa (Mas Kamid) menulis: Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Gak perlu pake TAP2an segala. Yang mereka inginkan sudah terkabul (bisa lengserin Gusdur). Orang yang paling bertanggungjawab atas lengsernya Gusdur adalah Amien Rais dan Megawati. Kenyataannya mereka juga gak bisa mimpin Indonesia ini.
Maaf atas kiriman saya ini tapi saya omong dari hati nurani saya.
Ahmad Rifai (Pay) menulis: Akur kang
huda albaroni (huda) menulis: gus dur sdh memaafkan sebelum di minta..sebagai orang yang cinta gus dur,kita pun jg harus memaafkan..
sofwan eka kurniawan (sofwan / wawan) menulis: sungguh prilaku yang luhur, yang diwarisi dari para sesepuh beliau yang mulia
Muhammad Arif Rifan Naula (Rifan) menulis: Alfaatichah...
Ahmad Ali Husain (Husain) menulis: saya sangat setuju dengan hal ini, tapi menurut saya untuk pengkajian historis kronologis turunnya gusdur dari kursi presiden seyogyanya harus di kaji lebih jauh. Sebab bagi generasi mendatang di khawatirkan akan menyalah tafsirkan keruntuhan pemerintahan gusdur di tahun tersebut sebagai imbas dari akumulasi kesalahan dalam beliau memerintah.. harus ada pengkajian hukum yang jelas sehingga dapat dijadikan acuan literasi yang dapat di pertanggungjawabkan.. Sejarah indonesia selama ini pemerintahan selalu lengser karena sesuatu kesalahan yang komplek baik kebijakan maupun perilaku presiden sebagai pemegang tampuk kekuasaan.. yang mengakibatkan tidakada acuan yang paling obyektif mengenai sejarah tersebut.. ya mumpung belum kadung.... mumpung durung kadung saksi dan aktor sejarah tiada, bukankankah hal itu sebaiknya disegerakan.... sehingga dapat diperolehdata yang akurat valid dan otentik.
Didin Riswanto (Didin) menulis: beliau sudah tenang disana, ko masih ribut.
ada komentar dari beberapa teman saya peng-idola gusdur. mereka mengatakan bahwa diwaktu hidup gusdur banyak memberikan pencerahan. bahkan setelah beliau meninggalpun banyak perut lapar menjadi kenyang.
edan to iki...
tapi bener..
ada temen saya sedang kelaparan. dia jamaah di sebuah mesjid. dan kebetulan sedang ada acara mitung dina wafatnya gusdur. ada selamatan dan kebagian berkatnya.
whelah gus dur, wus ninggal wae isih ngrejekeni tenan..
saya berkeyakinan beliau sudah memaafkan. lha sing rumangsa salah ya minta maaf kepada beliau dengan cara yang sifatnya pribadi.
MPR ko ngurusi hal-hal yang begituan.
begitu saja ko repot...
uruslah urusan yang lebih penting biar Gus Dur lebih bisa memaafkannya.
achmad saifullah (saiful) menulis: Sungguh semua itu tak perlu, apapun atributable untuk Gus Dur tak bisa menggantikan ke sungguhannya mengalir dalam ridho Allah.
Wawan Sukmana Irawan (kang Wawan) menulis: Juga buat "ikhwan dan akhwat" yang sudah terlanjur merinci keburukan Gus Dur nggak usah khawatir beliau sudah memaafkan Antum semua ......
Ahmad Syaikhu (Syaikhu) menulis: Begitulah sifat sufi Sejati, Saya teringat Gus Dur waktu ceramah di Ujungpangkah, Gresik beberapa tahun lalu, "jabatan itu bukan apa-apa di mata orang yang dekat dengan Allah."
Mochamad Wartono (tonie) menulis: di turunkannya gusdur membuka mata kita kalau jabatan dapat membuat orang jadi penghianat
Shofiyudin Musthofa (Shofi) menulis: Saya sependapat dengan Pak Mahfud. Gus Dur sudah memaafkan semua yang bersalah kepadanya baik diminta maupun tidak. I love you, Gus!
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.