Gus Mus: Tradisi NU Dipimpin Pejabat harus Dihindari 11 Januari 2010 13:49:39 | Share
Mustasyar PBNU KH Mustofa Bisri mengemukakan tradisi warga NU suka dipimpin oleh para pejabat saat ini sudah saatnya untuk mulai dihindari dan digantikan oleh orang yang sepenuhnya mampu mengurus NU, bukan hanya sebagai sambilan.
Hal ini dikatakan menanggapi terpilihnya kembali Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dalam konferensi wilayah NU DKI yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Sabtu malam (9/1).
“Tradisi bahwa orang NU, suka dipimpin oleh pejabat harus dihindari. Apa ia, kalau sudah begitu, kerjanya bisa efektif atau tidak,” katanya kepada NU Online, Ahad (10/1) di Jombang.
Dikatakan oleh pengasuh pesantren Roudhotut Thalibien Rembang ini bahwa orang NU harus mentradisikan efektifitas kerja dalam kepemimpinannya, tak bisa sembarangan orang dijadikan pemimpin hanya karena ia pejabat.
“Padahal, mestinya, NU seperti DKI, dipimpin oleh orang yang minimal sejajar dengan gubernur, bukan dirangkap,” terangnya.
Ia mengisahkan, pada masa KH Wahid Hasyim dan KH Mahfud Siddiq, mereka bekerja secara maksimal dan hasilnya baik. “Nah sekarang apakah, kita lihat DKI tambah baik NU nya atau tidak, namun saya fakir, ini bukan sesuatu yang baik untuk ditiru,” tegasnya. (mkf/nuonline)
KOMENTAR
huda albaroni (huda) menulis: setuju gus..apalagi klo gus mus sendiri mau mimpin nu..insyaAlloh tujuan nu melayani dn membimbing ummat beribadah kpd Alloh akan lebih tercapai..amiin
achmad chanafi (chanafi) menulis: sutuju Gus...
Wawan Sukmana Irawan (kang Wawan) menulis: Sebagai warga NU Kota saya sangat setuju ..... Gus !
Didin Riswanto (Didin) menulis: totalitas dalam mengemban amanah sangat berpengaruh terhadap kinerja.
Ridwan Baidlowi (Baidhowie) menulis: sebaiknya fokus dalam satu kepemimpinan
Abahna Jihan (Abah) menulis: Panjenengan aja GUS jadi ketua PBNU
Wibowo Setyo Utomo (Bowo) menulis: Dengan ompong perotnya simbah cerita tradisi spt itu adl feodal spt zaman londo, termasuk hrs minta restu pejabat
Zaenal (Lek nal) menulis: Nggih Gus...kalo perlu tradisi ketua NU mencalonkan diri sebagai pejabat juga dihilangkan,biar NU tidak menjadi ancek ancek mereka yang haus jabatan
hizbullah qibth ova (qibth ova) menulis: saya amin dengan gus. hal itu tidak bisa ditiru. karena pejabat lebih banyak kepentingannya, sedangkan NU lebih banyak pada pengabdiannya. ndak bisa ditiru.. ini adalah catatan bagi para pengurus NU. Apa mungkin para pengurus NU sudah mendudukkan dirinya sebagai PEJABAT NU sehingga suka NU dipimpin pejabat... ? Menyedihkan......
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.