MUARA » Catatan Kritis dan Analisis Aktual
Celaka 13! 18 Juli 2008 16:57:44 | Share
Oleh: A. Mustofa Bisri
Sejak PKB dideklarasikan, saya selalu disebut-sebut sebagai salah seorang deklarator; bahkan tidak jarang foto saya ikut mejeng di belakang gambar Gus Dur di baliho-baliho atau spanduk-spanduk. Kabarnya, kemarin di MLB Parung maupun Ancol pun terpasang spanduk yang juga ada gambar saya.
Meskipun saya tidak hadir di Ciganjur saat deklarasi PKB yang konon sangat meriah, dulu saya diam saja disebut-sebut sebagai salah satu deklarator. Saya pikir, wong hanya begitu saja; lagi pula deklarator disebut-sebut kan sebelum ada muktamar. Nanti kalau sudah ada muktamar kan tidak akan disebut-sebut lagi.
Ternyata, saya salah. Sampai 7 (tujuh) kali muktamar PKB (kebanyakan muktamar luar biasa), nama saya sebagai deklarator masih disebut-sebut.
Semula PKB kompak dan hasilnya lumayan. Namun, mungkin karena hasilnya lumayan itulah, kekompakannya mulai terganggu.
Misalnya, mulai timbul kubu-kubuan. Mulai kubu Gus Dur/Alwi v kubu Matori; kubu Gus Dur/Alwi v kubu Saifullah/beberapa kiai; kubu Gus Dur/Muhaimin v kubu Saifullah/Anam/Alwi/beberapa kiai; sampai terakhir kubu Gus Dur/Yenny/Ali Masykur v Muhaimin cs.
Saya pun mulai malu dan dari saat ke saat semakin malu dikait-kaitkan dengan pendeklarasian PKB. Klimaksnya adalah menyaksikan tontonan perkelahian telanjang Yenny dengan Muhaimin di depan para pimpinan partai dan khalayak Indonesia. Maka, sebelum amplop nomor undian PKB dibuka, saya pun sudah ingin nyeletuk: "Celaka 13!"
Sebelumnya, saya terheran-heran mendengar komentar dari DPP PKB yang menyatakan kaget jago PKB di Pilgub Jawa Tengah kalah. Saya terheran-heran kok ya ada pimpinan PKB yang kaget mendengar calon PKB kalah; wong calon-calonnya sendiri tidak kaget. Berarti memang ada pimpinan PKB di atas yang tidak mudheng dengan kondisi riil di bawah.
Pantas saja mereka seperti tidak prihatin dengan kebingungan konstituen mereka sendiri di bawah dan dengan ndableg-nya terus bertikai yang entah berebut apa.
Tiba-tiba saya teringat analisis seorang kawan yang melihat Gus Dur /PKB dari prespektif "kewalian". Dia memulai dengan menceritakan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir.
Seperti dikisahkan dalam kitab suci Alquran, Nabi Musa tidak kunjung paham dengan apa yang dilakukan Nabi Khidir sebagai orang yang akan diikutinya. Berkali-kali Nabi Musa yang ilmunya "baru" syariat menegur dan mengecam apa yang dilakukan Nabi Khidir yang berilmu hakikat. Melihat Nabi Khidir merusak perahu nelayan yang ditumpanginya, Nabi Musa kontan menegur dengan nada menyalahkan. Melihat Nabi Khidir membunuh anak kecil, Nabi Musa menegur dan mengecam.
Pun juga melihat Nabi Khidir memperbaiki dinding orang yang akan roboh, Nabi Musa menegur dan mengecam. Akhirnya, Nabi Khidir pun mengucapkan selamat berpisah kepada Nabi Musa.
Intinya, kawan saya ini ingin menganalogkan apa yang dilakukan Gus Dur dengan apa yang dilakukan Nabi Khidir dan ketidakpahaman orang dengan ketidakpahaman Nabi Musa.
"Kalau kiai-kiai yang dulu mati-matian mendukung Gus Dur itu paham, mereka tidak akan mendirikan partai baru," katanya. "Mereka mendirikan partai baru karena jengkel dengan kelakuan awur-awuran Gus Dur dalam memimpin PKB. Padahal, Gus Dur memang sengaja membuat mereka jengkel agar mereka benci dan meninggalkan kehidupan kepartaian yang awur-awuran."
"Sekarang ini," kata si kawan melanjutkan "analisis"-nya, "justru menjelang Pemilu 2009 Gus Dur seperti sengaja membunuhi anak-anaknya sendiri dan merusak perahunya yang bernama PKB. Karena "perahu" itu milik orang-orang miskin; jangan sampai dirampas dan dipakai oleh orang-orang yang hanya ingin memperkaya diri, termasuk anak-anaknya sendiri."
Meskipun analisis itu kedengaran konyol dan ngoyoworo, melihat kelakuan para pimpinan PKB yang sama-sama ngotot berebut benar sampai saat ini dan mengingat semakin dekatnya jadwal pemilu, saya kok jadi khawatir: jangan-jangan… Wah, celaka tiga belas!
| KOMENTAR |
adhiyan wahyudi (adhiyan) menulis: Gus dur itu memang sangat aneh.Tetapi yang paling aneh adalah orang yang mati logikanya.Tatkala Gus dur mengatakan Al-Quran itu adalah kitab porno/telanjang maka semua orang pada ribut.Tetapi coba ketika ditanya"Jadi Al-Quran itu berpakaian.Ditutup-tutupi?".Pasti semua orang akan berkata"Iya..ya.Al-Quran itu memang kitab yang terbuka" |
Wahhib P Pamungkas (Waheb) menulis: Sebagai orang NU tentu kita semua malu Bah dengan ketidakakuran yang terjadi, dan itu umumnya muncul karena kecintaan yang tinggi kepada NU. Bagi saya mereka yang ngga malu itu patut dipertanyakan rasa cintanya pada NU dengan ajaran-ajarannya? Ya suudzonnya jangan-jangan mereka memiliki kecintaan terhadap diri sendiri lebih tinggi sehingga merasa enjoy saja dengan kondisi seperti sekarang bahkan masih bisa merasa diuntungkan setidaknya bagi dirinya sendiri atau golongannya.
Apa yang dilakukan Gus Dur ("merusak PKB") saya kira tidak tepat dikatakan sebagai bagian dari konsepnya yang dijalankan secara konsisten, akan lebih baik jika ini disebut sebagai bagian dari respon semata. Bahwa paradigma yang digunakan Gus Dur dalam memandang konflik PKB saat ini adalah bukan berakar dari internal partai tersebut melainkan didalangi oleh pihak luar termasuk oknum pemerintah sendiri (penguasa) didalamnya, dari sinilah kemudian dapat diambil suatu konklusi bahwa yang ingin merusak PKB adalah oknum di pemerintahan (eksternal) dan ini diperkuat dengan munculnya istilah "pemerintah terlalu mencampuri".
Sebagai sosok yang dikenal sebagai tukang kampanye ANTI KEKERASAN tidak heran jika Gus Dur kemudian merespon proses 'perusakan PKB' dengan mengemukakan sistem yang bobrok dan dilanjutkan dengan ancaman golput kolektif setelah pada periode pilpres yang lalu sempat melakukan golput individu, padahal dia adalah penganut keyakinan kekerasan hanya boleh dilakukan jika 'rumahnya' diobrak-abrik orang lain. Jelas disini entah jadi dilakukan atau tidak yang pasti terjadi peningkatan level responsi atas kebobrokan sistem yang terjadi. Secara garis besar kita semua tahu bahwa Gus Dur adalah tipe orang yang tidak bisa tinggal diam ketika ada ketimpangan. Wallahu a'lam bishawab. |
Nuning Vita H (Nuning) menulis: Assalamualaikum..,
terus terang saya juga sangat miris dengan kondisi PKB sekarang..
bahkan sampai di tingkatan yang paling bawah, PKB rasa2nya sudah acak adul.
banyak orang yang tadinya simpati dengan PKB, justru akhirnya berbalik arah. Jadi sebenarnya, mau dibawa kemana PKB ini? |
farid fanani (farid) menulis: salam
saya kira al-mukarrom gus mus memang deklarator PKB, saya baru tau dari tulisan beliau di atas bahwa beliau bukan deklarator PKB, pdhl saya sering cangkruk di gusmus.net.......
tapi saya baca di web nya komunitas mata air surabaya http://mataairsurabaya.blogspot.com/
tertulis di resensi buku nya gus mus; Gusdur garis miring PKB, bahwa gus mus juga seorang penggagas/deklarator dari PKB. kalau memang al-mukarrom gus mus bukan sebagai deklarator mohon untuk di konfirmasikan saja di komunitas mata air surabaya.
hal ini penting, agar tidak mempermalukan gus mus seperti apa yang beliau tulis diatas, karena kondisi PKB saat ini memang memalukan. |
wahyudi (wahyudi) menulis: Sebagai bagian dari NU.....(melihat dari sejarahnya bahwa PKB tidak bisa lepas dari NU), saya juga malu atas konflik berkepanjangan yang menimpa PKB (apalagi menjelang pemilu). apalagi menyaksikan tayangan di TV yang meliput "perkelahian telanjang" antara mbak yenny dan cak imin secara tidak langsung juga menampilkan, inilah etika politik dari warga NU (baca PKB)?
saya berharap konflik di tingkat atas, tidak dibawa-bawa ke tingkat bawah, karena kalau begitu akan selaras dengan istilah "Gajah berperang sama gajah, pelanduk mati di tengahnya"......yang pada akhirnya umat yang tidak tahu apa-apa jadi korbannya..........
|
Muhammad Putut Solichin (Putut) menulis: ah PKB(partai kelahi bareng) aduh.... |
Masruiyatul Hikmat (Mamat) menulis: Saya jadi bingung.....Jujur saya adalah simpatisan PKB meskipun tidak memiliki kartu anggota PKB,lebih bingung lagi melihat PKB sekarang ini saat mendekati pemilu,haruskah loncat pagar?????bagaimanapun kondisi PKB hendaknya tidak membuat kita sesama Nahdliyyin saling terpecah,tetaplah solid dan selalu kita memohon kesejukan dari fatwa-fatwa para Kyai dan Ulama agar hidup kita tidak kegerahan |
Sang Penjala kalbu (Kalbu) menulis: semuanya tidaklah salah, karena tetaplah ada hikmah karunia dari kehendak yang kuasa.......bukankah dengan kejadian2 ini semakin meningkatkan kedewasaan dalam melihat, mendengar, dan dilanjutkan dengan memperbaiki ataupun memperbaharui. Sekarang juga saatnya bagi para Kyai, maupun ulama2 untuk lebih bijak dalam membimbing dan menuntun umat2-"Nya". Janganlah Diperkeruh dengan keberpihakan salah satu, tetapi jadilah penengah yang bijak, semua ini ada maksud dari Nya yang tersembunyi.
Semoga dengan kesederhanaan dan kesabaran dari para kyai dan ulama, mampu membuat NU lebih besar dan lebih arif dikemudian Hari....amieeen (semoga diijinkan Nya pengharapan ini) |
Shofiyudin Musthofa (Shofi) menulis: Saya terlahir dari keluarga NU. Saya merasa malu dengan yang akhir2 ini terjadi di PKB/NU. Saya melihat banyak yang mulai mengejar keduniawian dengan berbagai motifnya. Sehingga di Jateng,PKB kalah.Begitu juga yang akan terjadi di Jatim.Padahal Jatim adl basis NU. Semoga semuanya kembali ke ajaran NU. |
doni saputro (doni) menulis: Assalamu'alaikum Wr Wb...
Saya lebih cenderung setuju dengan sikap gusdur karena menurut penilaian saya mungkin gusdur ada indikasi tentang sterilisasi dalam PKB ituh sendiri..karena banyak yang merasa paling benar sendiri n mementingkan pribadi daripada golongan...
Mungkin dengan kejadian ini semua buat pembelajaran kita yang masih muda2 dalam mempelajari sisi lain ttg oraganisasi...
semoga NU selalu lebih solid karena mereka membawa umat untuk menjadi suri tauladan....Amin Allahumma amin |
Hendra Sugiantoro (Hendra) menulis: PKB=(P)erlu (K)uatkan (B)arisan |
mustofa (tofa) menulis: semoga saja kisruh yang terjadi di pkb cepat selesai, tolong pak muhaimin sebagai orang yang lebih muda dan merasa di besarkan oleh gusdur, bok ya tolong yang ngalah |
Deden Rudiansyah (Kang Deden) menulis: Ternyata dari kenyataan dan diskusi ini, saya tersadarkan:
"Kita tidak layak berfanatik dengan sesuatu yang simbolik"
mungkin, gusdur mencoba menyadarkan kepada kita, bahwa konsep perjuanganlah yang harus dipertahankan, bukan partainya.
GusDur bukanlah anak2, yang nekad bikin keributan, padahal pintu pemilu sudah dekat.
Bagi yang membaca dengan hati, maka dapat dirasakan adanya tujuan lebih penting di dalam konflik PKB. |
EDY RUSLYANTO (RUSLY) menulis: Hakekat tidak bisa dilontarkan kepublik yang masih SYARIAT karena akibatnya akan salah paham, tapi kita sebagai umat yang berpikir harus mampu berjiwa besar, apa boleh didalam Islam bertengkar kalau urusannya hanya seperti ini? Politik memang kotor dan kita akan malu jika kita bertengkar dengan orang yang sepaham NU, seagama ISLAM, senegara INDONESIA, apa yang akan kita cari?...... |
MOHAMAD RIFA'I (RIFA'I) menulis: Gus Dur.......
Moga beliau ridho atas Ridho-Nya...
Amiin Yaa Robbal'alamiin. |
Zulfiadi Suprayitno (Prayit) menulis: KH. Abdurrahman Wahid sebagai mantan Ketua Umum PBNU, mantan Presiden RI ke-4 serta guru bangsa dalam kehidupan sosial adalah salah satu politikus ulung yang masih setia berpolitik karena politik itu sendiri yang penuh dengan intrik politik. Melihat kemampuan beliau yang memang kita akui kelihaiannya dalam berpolitik yang telah dengan mulus melewati lawan-lawan politiknya di dalam organisasi NU juga dalam Pilpres 1999 yang saat itu penuh dengan gejolak euforia politik. Bagiku sikap, langkah dan kebijakan Gus Dur saat ini tidak lain adalah untuk kepentingan politik juga (kemungkinan sekali dirancangnya sendiri) agar masyarakat luas terutama konstituen PKB bisa belajar banyak dari hal-hal yang dilakukannya. Ibarat guru mengajar murid dengan cara praktek langsung tanpa teori, sebagian murid bisa menerima dan sebagian murid tidak bisa menerima (tergantung kemampuan masing-masing murid). Itulah pertandingan politik yang disuguhkan Gus Dur dalam menghadapi Pemilu dan Pilpres 2009. Tanpa disadari media massa memberitakan PKB tanpa harus kampanye secara langsung. Itulah politik. |
Abdal Malik (Abdal) menulis: Boleh lho... kita kembali ke Partai Persatuan Pembangunan. |
Surawan Tri Atmaja (Al Fakir) menulis: Tiap kali Gus Dur melakukan manuver 'aneh', sejauh ini warga NU masih bisa menjelaskannya kepada orang-orang bahwa sesugguhnya yang dimaksud Gus Dur bukan begitu, tapi begini, begini dan begini.
Gus Dur membuat ontran2 di PKB, Teman Gus Mus bilang, kita tdk perlu risau karena level kita dgn Gus Dur jauh. Ibaratnya Gus Dur selevel Nabi Khidir, kita (maksudnya warga NU, kalau non NU saya gak tahu) awam seperti Nabi Musa.
Mas Prayit bilang, justru itu kesengajaan untuk agar mendapat liputan pers sehingga PKB populer (walaupun populer buruknya tentu saja).
Semoga ke depan warga NU tetap memiliki kreativitas yang tinggi untuk melakukan pembelaan terhadap Gus Dur. Saran saya jangan terlalu sering untuk mengutip kisah Nabi Khidir ini dalam melakukan pembelaan kepada Gus Dur. Ibarat riwayat ini sudah terlalu mutawatir. Warga NU di mana2, di kantor, kampung, warung kopi memakai jurus ini : Anda tidak paham Gus Dur, ibaratnya Anda ini Nabi Musa, Gus Dur Nabi Khidir. Dan... diskusi pun selesai.
|
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar | « Kembali ke arsip Muara
|