Yang Sesat dan Yang Ngamuk 23 April 2008 09:26:45 | Share
Oleh: A. Mustofa Bisri
Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.
Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.
Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Artinya, orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Mahaesa dan berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat imam-imam mereka yang beragitasi dengan garang di layar kaca itu kebanyakan mengenakan busana Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, mengapa mereka tampil begitu sangar, mirip preman? Seolah-olah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW.
Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa dimengerti. Mereka hanyalah mengikuti telunjuk imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang mengaku pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan ciri Islam yang rahmatan lil ’aalamiin, tidak hanya rahmatan lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri). Masak mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam, Rasulullah SAW, adalah pemimpin yang akhlaknya paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat "Ya ayyuhalladziina aamanuu kuunuu qawwamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi…al-aayah" (Q. 5: 8). Artinya, wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak-penegak kebenaran karena Allah dan saksi-saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeret kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.
Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan kelapangdadaan Nabi Muhammad SAW atau membaca firman Allah kepada beliau, "Fabimaa rahmatin minaLlahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min haulika… al-aayah" (Q. 3: 159). Artinya, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan berhati kejam, niscaya mereka akan lari menjauhimu…"
Tak Mengerti
Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa yang merasuki pikiran mereka sehingga mereka tidak mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman seperti dicontoh-ajarkan Rasulullah SAW di saat menang. Atau, sekadar membayangkan bagaimana seandainya mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) dan kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas (menang).
Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali -seperti kata orang Jawa- tidak tepa salira. Apakah mereka mengira bahwa Allah senang dengan orang-orang yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang jelas Allah, menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati mereka yang tidak berbelas kasihan kepada orang.
Saya heran mengapa ada -atau malah tidak sedikit- orang yang sudah dianggap atau menganggap diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku kasar dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan kelembutan Sang Rasul, pembawa Islam itu sendiri. Mereka malah mencontoh dan menyugesti kebencian terhadap mereka yang dianggap sesat.
Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah? Ataukah, mereka memahami dakwah sebagai hanya ajakan kepada mereka yang tidak sesat saja?
Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka sengaja berniat membantu menciptakan citra Islam sebagai agama yang kejam dan ganas seperti yang diinginkan orang-orang bodoh di luar sana. Tapi…
KOMENTAR
Wahhib P Pamungkas (Waheb) menulis: Ya mungkin mereka sudah tahu Gus, cuman lupa saja hahaha... Tapi bagus juga tulisan Njenengan ini, moga2 bisa membantu mengingatkan mereka!
Imam Shofwan (Imam) menulis: Saya Imam Shofwan, wartawan pantau, saya juga prihatin dengan kekerasan yang menimpa saudara-saudara Ahmadiyah dan yang lebih menyedihkan lagi kekerasan ini dilakukan oleh saudara-saudara Muslim yang lain.
Kalau diperkenankan saya ingin memuat tulisan ini diblog saya.
EDY RUSLYANTO (RUSLY) menulis: memang kita harus bijaksana yang salah harus diluruskan, kalau tidak mau lurus ya biar terus bengkok, kan itu hak mereka mau sesat atau mau lurus kan kewajiban kita juga sudah hilang untuk meluruskan,.. dan sebaiknya Ahmadiyah juga mengikuti aturan dan tatacara yang ditetapkan oleh pemerintah (MUI). itu lebih baik dan kemarahan bisa sedikit teredam...
Ridwan Baidlowi (Baidhowie) menulis: Ya mungkin orang orang itu lagi khilaf atau lupa tapi saya cukup sedih dengan sikap mereka yang telalu anarkis dalam mensikapi hal seperti itu dan yang jelas semua itu malah menghancurkan citra islam itu sendiri ! gimana kita mau menjadi muknin yang baik kalau tetap saja menggunakan metode metode yang salah dalam menyelesaikan masalah.....EEE YA JANGAN LUPA ayat di dalam Alquran yang artinya berlomba lombalah dalam kebaikan ok!
Ridwan Baidlowi (Baidhowie) menulis: Saya sangat setuju dengan tulisan Kyai dan memang kayaknya mereka perlu sekali membaca tulisan Panjenengan biar kepalanya dingin alias tidak salah kaprah dalam bertindak...
syamsud dhuha (syadhu) menulis: Ass. saya samsud anggota PMII Univ.Brawijaya.ini tidak bisa lepas dari peran pemerintah, dimana sistem penyaringan ideologi, aliran tidak ada dan saya curiga pada mereka yang mengaku membela ISLAM didanai pihak asing untuk menciptakan citra yang keras terhadap agama ALLAH SWT ini.. tidak ada dalam sejarah ISLAM orang mau memeluk agama ISLAM dengan cara kekerasan,,mereka saudara kita sendiri yang terpengaruh pikiran asing yang di(masuk)kan untuk memecah belah bangsa ini..matur nuwun
Ridwan Baidlowi (Baidhowie) menulis: yang jelas kayaknya mereka mereka yang bertindak anarkis itu tidak tepat sasaran dalam menyelesaikan masalah sehingga yang terjadi bukan masalahnya yang selesai tapi justru melahirkan masalah masalah baru bahkan malah lebih besar..... mari kita berlomba lombalah dalam kebaikan www.baidhowie.blogspot.com
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain. Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional. Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian seterusnya.
Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain: personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan membantu--menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.