Salah satu ibadat yang tak begitu berat, yang sangat dianjurkan dan besar sekali pahalanya adalah I’tikaf, orang hanya perlu masuk dan berdiam diri di mesjid- menurut ulama fiqih, sebentar pun jadi- dengan niat mendekatkan diri kepada Tuhan.
Beri’tikaf di mesjid, bertafakur mendekatkan diri kepada Allah merupakan mendekatkan diri kepada Allah merupakan salah satu kelanggengan Nabi dan para Mukmin pendahulu kita, umumnya di bulan Ramadhan. Mereka bahkan nabi yang begitu dekat dengan Allah, memerlukan beri’tikaf disela-sela kegiatan keseharian yang rata-rata masih dalam lingkup ibadat. Seringkali bahkan mereka menetap beberapa lama di mesjid, sehingga harus dikirimi makanan oleh keluarga mereka. Terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan, Nabi saw.- sebagaimana diceritakan oleh istri beliu sendiri, Sayyidatina Aisyah- mengkhususkan waktu untuk beri’tikaf dimesjid.
Boleh jadi di zaman sibuk dan modern ini, beri;tikaf terasa tidak popular. Bagaimana di dunia yang bersemboyan waktu adalah uang’ begini, orang sudi meluangkan waktu untuk berdiam di mesjid seperti pengangguran? Bahkan menganjurkannya saja mubaliq pun kayanya sungkan.
Namun, bukankah justru di zaman dimana aktifitas kejasadan dan kebendaan mendominasi kehidupan seperti sekarang, kita sangat memerlukan paling tidak sesekali meliburkan diri dari kerutinan pemanjaan jasad. Memberi bagian rohani kita untuk berkomunikasi sendiri dengan Al-Khaliq, menyerap cahaya dari Nur-Nya yang agung bagi kepentingan janji pertemuan kita kelak dengan-nya.
Ya, sejenak dalam kehidupan keseharian-disela-sela kesibukan memakmurkan bumi- berdiam diri dirumah Tuhan, bertakafur dan bersendiri dengan Tuhan, agaknya sangat kita perlukan. Sungguh tidak masuk akal bila untuk perjalanan singkat, rencana cermat kita buat, segala daya, pikiran dan waktu kita kerahkan untuk membekalinya; sementara untuk perjalanan panjang mengahadap-Nya, kita tidak mengambil kesempatan apa saja yang kita harapkan dapat membantu mempermudah dan memperlancarnya.
Bukankah kita perlu pengenalan, syukur keakraban, yang cukup terhadap. Siapa kita kelak menghadapnya? Ataukah kita tak peduli kita tak dianggap atau diabaikan-Nya.
KOMENTAR
andi nurdin (pendil) menulis: opini yang ringan namun sangat menyentuh jika kita renungkan, memang akibat kita tidak pandai memfilter budaya kapitalisme global hampir saja hubungan dengan Tuhan kita dikerdilkan. sehari-hari kita dikondisikan dalam hidup berorientasi pada dunia saja dan mengabaikan kehidupan kekal kelak. oleh karena itu mari kita mulai dalam bulan ramadhan (menurut saya tdk hanya dalam bulan ramadhan) ini untuk lebih menyeimbangkan komposisi orientasi hidup kita salah satunya melalui i'tikaf. syukron
ronny eko susanto (ronny) menulis: mungkin karena kita mempunyai anggapan bahwa Allah itu Maha Mengerti sehingga kita sering bermain2 dengan pengampunan.....(ironi dengan semakin maraknya formalisasi agama)
mungkin perlu sosok yang egois dan kaku untuk "kembali " kepada orientasi Ruh, dan membentur2 "kepala" kebendaan....maukah anda..?
tunggul djundanto (tunggul) menulis: Ini rasanya bukan untuk dikomentari, tapi mesti dicoba dilaksanakan. Pasalnya, memulai sesuatu yang baru pastinya sulit utk dilakukan. Tapi bagaimanapun, ini penting setidaknya bagi saya sendiri (yang merasa tidak pernah siap untuk kelak menghadap-Nya)
Fikri Sulthoni (Fikri) menulis: sifat manusia terkadang menyepelekan. ibadah yang ringan seperti i'tikaf sangat jarang sekali dilakukan. padahal ibadah ini berpahala sangat besar. Rahmat Allah begitu besar, dan manusia sering kali mengingkari.
hamam nasirudin (hamam) menulis: M A S J I D (Manusia Akan Segar Jika I'tikaf Di masjid )
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.