MATA AIR » Napak Tilas
Doa 8 Februari 2006 23:43:55 | Share
Biarlah para elite politik sibuk mengurus posisi mereka dalam konstelasi kekuasaan negeri ini. Biarkan mereka beradu taktik dan strategi untuk memenangkan kelompok masing-masing dalam perebutan kepemimpinan nasional. Biarkan para pengamat asyik beradu argumen dan ramalan-ramalan politik. Biarkan para broker dan calo menikmati kesempatan ngobyek yang tidak setiap tahun datang. Kita yang rakyat jelata ini, tak perlu ikut bersitegang. Jangan hiraukan manuver-manuver mereka yang berambisi kecuali untuk menandai layak-tidaknya pemilik manuver itu kita pilih. Kita tahu dalam kondisi semcam ini berbagai manuver dilakukan oleh mereka yang bersaing. Ada manuver yang cantik ada yang kotor. Ada yang cukup dengan menampilkan komitmen-komitmennya. Ada yang sekadar memuji diri. Tapi ada juga yang kurang pe-de jika tanpa menjelek-jelekkan lawan bersaingnya. Bagi kita cukuplah membuka mata, membuka telinga, dan membuka mata hati bagi menentukan pilihan nanti. Siapakah yang layak kita jadikan imam.
Dan, tidak kalah pentingnya bagi kita-kita ini, berdoa kepada Allah Yang Mahakuasa. Orang sering lupa--terutama karena terlampau mengandalkan akalnya--bahwa semua, termasuk soal kekuasaan ini, Allahlah yang menentukan. Yu'thil mulka man yasyaa, Ia memberikan kekuasaan kepada orang yang Ia kehendaki; wayanzi'ul mulka mimman yasyaa, dan mencabut kekuasaan dari orang yang Ia kehendaki; yu'izzu man yasyaa, Ia memenangkan orang yang Ia kehendaki; wayudzillu man yasyaa, dan mengalahkan orang yang Ia kehendaki; biyadihil khair, di tangan-Nya-lah segala kebaikan.
Ada sebuah doa yang sangat populer yang menurut hemat saya, saat ini, sangat penting untuk kita panjatkan ke hadlirat Allah. Doa itu berbunyi, ''Allahumma laa tusallith 'alainaa bidzunuubinaa man laa yakhaafuKa walaa yarhamunaa!'' Dan, sebaiknya doa itu dibaca sesudah shalat dan beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Satu dan lain hal karena doa yang makbul tergantung waktu, tempat, dan siapa yang berdoa. Waktu dan tempat yang terbaik untuk doa di sini--bukan di tanah suci--ialah sesudah shalat di mushalla. Sedangkan doa hamba yang bersih dari dosa tentu lebih mujarab dari doa pendosa. Maka kita beristighfar dulu untuk membersihkan diri sebelum memanjatkan doa.
Agar doa kita benar-benar merupakan permohonan, kita perlu mengerti dan menghayati makna doa kita. Doa yang saya anjurkan itu bermakna, ''Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah kuasakan atas kami--karena dosa-dosa kami--penguasa yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas-kasihan kepada kami!'' Menilik doa ini, jangan-jangan karena dosa-dosa kita (rakyat) sendirilah maka kita dihajar dengan diberi pemimpin yang tidak takut kepada Allah dan tidak mempunyai belas-kasihan kepada kita. Maka, kita memang perlu beristighfar secara nasional, bukan?
Terlepas dari kriteria-kriteria kepemimpinan yang dibuat orang-orang pintar, menurut saya, dua hal ini--takut kepada Tuhan dan belas-kasihan kepada rakyat--merupakan sesuatu yang pokok. Penguasa yang zalim, otoriter, atau korup pastilah jenis makhluk yang tidak mempunyai rasa takut kepada Tuhan dan tidak memiliki rasa belas-kasihan kepada rakyat. Kalau soal pintar dan menguasai masalah-masalah ketatanegaraan, misalnya, mungkin kita memiliki banyak tokoh pilihan. Namun, bagaimanapun pintar dan ahlinya seorang pemimpin atau penguasa, apabila tidak mempunyai rasa takut kepada Tuhannya dan tidak mempunyai rasa belas-kasihan kepada rakyatnya, pastilah merupakan malapetaka bagi rakyat yang dipimpinnya.
Mudah-mudahan Tuhan mengulurkan rahmat-Nya dan kali ini menganugerahi kita pemimpin nasional yang memiliki rasa takut kepada Tuhan dan belas-kasihan kepada rakyat dengan menggerakkan hati rakyat pemilih untuk memilih yang benar. Mudah-mudahan pemimpin kita adalah pemimpin yang benar-benar mencintai kita dan kita cintai. Bukan pemimpin yang kita benci dan membenci kita. Amin.
| KOMENTAR |
rais sonaji (rais) menulis: Assalammuallaikum wr.wb.,
Pak Kyai, sungguh do'a Bapak tersebut sangat indah dan menyentuh hati sanubari. Menurut hemat saya, untuk mengharapkan kemunculan seorang pemimpin nasional yang kekuasaannya bersifat menolong dan menjadi rahmat bagi semuanya, kiranya dibutuhkan upaya kedua belah pihak, agar tidak bertepuk sebelah tangan. Bukankah ada mutiara hikmah yang isinya jika sebuah masyarakat/negara sebagian besar dari rakyatnya zalim, maka Allah SWT akan memberikan pemimpin yang juga zalim bagi masyarakat tersebut. Maka menurut hemat saya yang masih bau kencur ini, kiranya selain diajak berdoa, rakyat juga harus diajak untuk berbenah diri untuk mempersiapkan kondisi yang cocok untuk menyambut kedatangan pemimpin yang diharapkan tersebut. Sebagaimana layaknya kebiasaan para petani, sebelum menyambut musim hujan, kiranya lebih baik para petani mempersiapkan (menyiangi &menggermburkan) lahannya, agar ketika hujan datang, tanah tsb sudah siap untuk menampung hujan yang sangat bermanfaat bagi kelestarian usaha pertaniannya.
Wallahua'lam bishawab,
Wasalam,
|
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar | « Kembali ke arsip Mata Air
|