"Malulah mencaci orang yang jika ada kau puji setinggi langit dan memuji orang yang jika tidak ada kau caci setengah mati"
KOMENTAR
amay (amay saja) menulis: tidak ada yang namanya manusia sempurna yang ada mungkin malah manusia semprul.selagi masih merasa jadi manusia emang baiknya jangan mencaci orang lain,meskipun katanya mencaci itu paling enak kalo ga ada orangnya he he.tapi memang lebih bagus kalo kita "mencuci" diri sendiri.
hamam nasirudin (hamam) menulis: tidak sepantasnya engkau menipu diri sendiri, hargai dirimu, dan jentelmen
wijiwilopo (wiji) menulis: ruwet...gus...
mbok seng eteng eteng wae...
contohne, ojo ngaji karo kyai sing jek mangan sego
ngene lak enteng gus
tapi prasaan jero yen gelem gali
Sapto Raharjo (Mbah Sapto) menulis: Jangan menjadi munafiq tulen. Belajarlah jujur pada nuranimu sendiri, sampaikan kritik dengan bajik dan bijak, jangan menyakiti tapi bisa menyentuh hati. Jika perlu pinjam ilmu Abu Nawas, yang mempunyai ilmu nglurug tanpa bolo, menang tanpa ngasorake.
Muhammad Labib (Labib) menulis: yo, ngono iku menungso
abi fawwaz (fawwaz) menulis: malu lah di saat sedih dan senang
yanto (yanto) menulis: coz mencaci orang sama saja mencaci diri sendiri. tahu gak kalau anatomi kita sama saja nggak ada bedanya.
nida'ul ikromah (nida) menulis: bener......kang yanto,kita kan sama...........sama-sama punya kaki,punya tangan ,sama-sama punya mulut punya kuping punya mata punya telinga punya hati juga punya nafsu,alias sama-sama manungsone..........
mencaci saudara sama halnya mencaci diri sendiri.............
arief musthofifin (arief) menulis: Tidak ksatria. Beraninya ngomel di belakang.
Achmad Purwanto (Purwanto) menulis: yaa..begilah kira kira.....ada ajah...
afridatul luailiyah (avree) menulis: inilash kebiasaan para penjilat yang sangat banyak kita temuai bahkan terkadang sadr atau tidak kita juga berda di dalamnya tapi kiat selalu merasa paling suci diantara mereka yang ada padahal klo kita mau bercermin sebentar saja kita akn jijik dengan segala tingkah kita yang sok dan terkesan paling benar dan orang lain tentunya salah dong...!
andi nurdin (pendil) menulis: itu akibat kebiasaan terlalu hormat sama sesama yang sudah membudaya pada diri kita, astaghfirullahi.., maturnuwun
Ari Muharam Milani (Ari) menulis: Tidak ada Kebajikan bilamana tidak ada pembuktian.
amalia wulansari (lia) menulis: aduh Gus,memang benar kok...
kapan ya kita bisa tidak munafik pada diri sendiri atau pun orang lain???
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.