harianto salamun (har) menulis: wahhh wahh...kalimat ini emang nampak simpel,,tp susah dilakukan Bah..uuuuuabot,
anang thohir (anang) menulis: Ass...mungkin itu cara tepat untuk IKHLAS, seperti halnya..maaf..waktu BAB, kita tidak fikirkan apa dan sedang bersama siapa ketika makannya...wass
ike nur cahyani (ike) menulis: niku ewot mbah.....
Nurchasanah (nur) menulis: definisi lain dari ikhlas....
muhtarom (tarom) menulis: singkat tapi padat .
mushokhikhah shofy (ndok mosh) menulis: mugi saged mekaten gus
salma munawwaroh cholid (salma) menulis: menyadari diri ternyata jauh dari baik
Muhammad Zubaidi (Zubaidi) menulis: Assalamu'alaikum wr.wb. Susahnya melupakan yang satu ini Kyai. Bagi kebanyakan orang mungkin sebuah kebaikan adalah sebuah 'alat' yang harus selalu ada dan tersedia untuk memetik, kesombongan, keangkuhan, kesewenang-wenangan dan memaksa orang lain untuk 'membalas budi'. Na'udzubiLlahi min dzaalik. Wassalamu'alaikum wr. wb.
Dail Amaludin (Dail) menulis: harus benar2 ikhlas...wah harus banyak belajar lage buat melupakan kebaikan
risi (ahmad dzurriy) menulis: mohon saya minta caranya...?
trmkasih...
hamam nasirudin (mam) menulis: itulah cara terbaik untuk kemajuan dan menimbulkan kekuatan yang selalu survive, langgeng, aman ,nyaman dan dan kekuatan yang luar biasa
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.