Menjaga perasaan orang lain, termasuk dalam menyampaikan apa yang kita anggap sebagai kebenaran, termasuk kearifan dan keluhuran budi.
KOMENTAR
hamam nasirudin (mam) menulis: begitu juga tidak ada paksaan dalam agama, kebenaran itu dalam agama
Puguh Slamet (Puguh) menulis: Banyak orang terkadang dengan mengatasnamakan kebenaran, menelanjangi harga diri seseorang tanpa melihatnya sebagai manusia, bahkan merendahkanya layaknya binatang
Muhmmad Irfan (Irfan) menulis: Lalu Dos Pundi.... cara mendudukkan hal tersebut dengan benar kaitannya dengan amar ma'ruf dan Nahi munkar...?
rajabi akbar (akbar) menulis: mengungkapkan kebenaran memang baik namun lebih indah dengan menjaga perasaan orang lain ....arogansi adalah sifat setan dan setan bukanlah sumber kebenaran......cinta kasih, kearifan, merupakan inti dari kebenaran yang dicontohkan manusia paling benar sejagad raya Muhammad SAW.........
sri puri surjandari (puri) menulis: bener Gus... menjaga perasaan orang lain agar tak tersakiti itu penting, karena sekali melukai perasaan, maka orang tak akan lupa rasa sakitnya....
rezki khainidar (rezki) menulis: tampaknya memang penting meluruskan niat, kalau niat belum lurus, lebih baik tidak berkata dulu. Niat buruk dapat menumpang dalam perbuatan yang kelihatan, ataupun, kedengaran baik
muhammad yusron mahmudi (kak yus) menulis: nuwun sewu, saya pernah mesantren cukup lama dan sekolah tinggi bahkan hampir ke tingkat profesor, tapi soal menjaga perasaan, masih saja ada orang yang kecewa dan merasa kurang nyaman terhadap penyampaian saya. Apa ada obat lain yang lebih mujarrab selain berkumur saat wudlu?
Eka Herawati Rahayuningsih (Ayu/ Hera) menulis: Menang tanpa bala/ Menyerang tanpa pasukan....menang tanpa Ngasorake/ Menang tanpa merendahkan...Sakti tanpa Ajian/ Kesaktian tanpa ajian...
Ahmad Jalaluddin (Jalal) menulis: inggih Gus,,
Ahmad Jalaluddin (Jalal) menulis: inggih Gus..
Anda harus menjadi anggota dan login terlebih dahulu untuk bisa memberikan komentar
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.