Gus Mus Berdakwah dengan Ipad 23 Juni 2011 12:52:53
Dulu, kiai salaf di pondok pesantren selalu identik dengan kitab kuning yang lusuh. Kini, identitas itu tak lagi berlaku bagi Gus Mus. Perkembangan teknologi membuat Gus Mus - pangilan akrabnya - membaca kitab-kitab kuning tak lagi dengan membawa kitab kuning, tetapi ia memanfaatkan fasilitas komputer tabled buatan Apple. "Kita sangat terbantu dengan teknologi modern ini," ujar Gus Mus
Berkenaan dengan haul Simbah KH. Abdullah Salam Kajen, rahimahuLlah, aku turunkan kembali tulisanku saat itu. Saat kudengar kepulangan orang hebat ini ke hadirat Ilahi 25 Sya'ban 1422. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
Tak terasa Januari 2011 sudah berkurang beberapa hari. Padahal kenangan getir tahun 2010 masih belum benar-benar sirna dari pikiran kita. Apalagi kegetirann tahun lalu itu masih terus berlanjut. Ya, bencana-bencana yang membuat pahit kehidupan di negeri kita tahun yang lalu, masih terus berlanjut. Bencana-bencana yang tampak ‘alami’ seperti debu vulkanik, tanah longsor, banjir, dlsb; maupun yang dipaksakan tampak ‘alami’ seperti lumpur Lapindo, kecelakaan kereta api, dlsb, masih berlanjut. Belum lagi bencana-bencana yang sulit sekali disebut sebagai ‘alami’ seperti korupsi, mafia kasus, kekerasan sosial, dan kekonyolan-kekonyolan lain yang tak kunjung henti.
Diam- diam Iwan Fals mengagumi sejumlah tokoh NU. Legenda musik Indonesia tersebut ternyata paham benar karakter para tokoh NU. Salah satunya adalah yang dikenal nyentrik namun berwibawa. Tokoh tersebut tak lain adalah KH Mustofa Bisri, kiai sekaligus budayawan yang kini dipercaya sebagai Wakil Rais Aam PBNU.
Edisi 36 "Radikalisme Masuk Desa" 7 Mei 2010 13:26:09
Di edisi ini, kami mengangkat tema tentang masuknya gerakan radikalisme ke desa-desa. Tampaknya, saat ini fakta “radikalisme masuk desa” laiknya adagium “sarjana masuk desa” atau istilah lain yang sepadan, sudah menjadi perbincangan public. Mungkin sudah bukan rahasia umum, para aktivis gerakan Islam yang puritan maupun radikal telah merengsek memasuki desa-desa demi merekrut para pendukung. Kita juga dibelalakkan oleh fakta, ternyata para teroris yang sudah ditangkap beberapa waktu lalu juga banyak yang berasal dari desa. Gerakan mereka ini seringkali bertabrakan dengan tradisi keagamaan yang sudah diamalkan oleh masyarakat desa dimana mereka masuk. Dari mulai melontarkan bid’ah hingga mencuci otak warga desa untuk dirasuki pikiran-pikiran keagamaan yang radikal.
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.