Khofifah: Pelajar NU Terpola dengan Pemikiran Liberal 26 Juni 2009 14:06:14
Gerakan kaum pelajar-mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU), seperti IPNU, IPPNU, dan PMII, kembali menuai kritikan pedas. Setelah Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, kini giliran Khofifah Indar Parawansa, Ketua Muslimat NU menilai kaderisasi di kalangan pelajar yang kurang berkembang.
Khazanah tasawuf mengenal sebuah kitab sufi klasik berjudul Kasyful Mahjub. Kitab ini ditulis oleh al-Hujwiri yang hidup pada abad kelima Hijriyah. Dari segi fikih, al-Hujwiri mengikuti Imam Abu Hanifah. Dalam Kasyful Mahjub, al-Hujwiri banyak bercerita tentang kisah gurunya itu.
Meski kemudian ada kontroversi mengenai tonggak penetapannya, namun karena sudah terlanjur ditetapkan, maka kita pun tetap memperingati Hari Kebangkitan Nasional (HKN) pada tanggal 20 Mei. Karena tonggak untuk penetapannya adalah kelahiran Boedi Oetomo (BO), 20 Mei 1908, maka peringatan HKN kali ini dianggap sebagai peringatan yang ke 101.
Ketika Bima Arya Menjadi Minoritas 5 Mei 2009 12:54:09
“Tidak banyak dalam hidup saya ketika saya menjadi minoritas. Seingat saya hanya dua kali saja. Yang pertama, setahun yang lalu ketika saya menjadi moderator di acara diskusi perempuan dalam politik yang dihadiri sekitar 60 orang dan laki-lakinya hanya dua orang", curhat Bima Arya Sugiarto, pengamat politik.
Apakah cermin dan definisi tentang cermin, pengungkapan kata cermin memiliki arti yang luas, karena dengan cermin kita bisa melihat dunia bahkan melihat ketampanan wajah kita. Lewat cermin keindahan akan nampak, dan wajah-wajah teman kita juga terlihat di cermin, namun cermin tak selamanya memperlihatkan keindahan adakalanya cermin merupakan wajah buruk bagi kita. Seperti kita ketahui, melihat orang lain adalah lebih mudah dan jelas ketimbang melihat diri sendiri. Marilah kita lihat orang lain, kita lihat aib-aib dan kekurangan-kekurangannya, lalu kita rasakan respon diri kita sendiri terhadap aib-aib dan kekurangan-kekurangan orang lain.
Pembaca. Hari-hari ini telinga dan mata kita masih harus menikmati berita-berita dan wacana seputar koalisi pemilihan Presiden yang ironisnya lebih bersifat transaksional daripada menyentuh hal-hal substansial yang terkait dengan amanat penderitaan rakyat. Edisi kali ini, kami mencoba mengupas seputar wacana pemilihan imam atau pemimpin negara dari pandangan Islam. Sebagai agama yang tidak hanya mengatur masalah ubudiyah, Islam telah memberikan panduan dan rambu-rambu yang jelas tentang prinsip memilih seorang pemimpin. Kami juga coba memotret kepemimpinan figur Muslim di negara Muslim Turki. Ulasan ini sebagai “penguat” dalam memahami bagaimana sesungguhnya kepemimpinan (imam) dalam pandangan Islam. Di edisi ini, pembaca juga bisa menikmati wawancara MataAir dengan Prof. Dr. Jimly Ashshidiqie, Lukman Hakim Saifuddin dan Prof. Dr. Musdah Mulia.
Mula-mula adalah dua sejoli ”imigran” dari sorga, Adam dan Hawa, yang diserahi Tuhan mengelola bumi ini. Kemudian, mereka menurunkan keturunan yang disebut manusia. Manusia berkembang semakin lama semakin banyak meramaikan planet ini. Ketentuan-ketentuan Tuhan yang dibawa dan diajarkan Adam a.s. sebagai panduan untuk mengelola bumi dan wasilah untuk kembali ke sorga, menuju kepada-Nya, semula dipatuhi dan ditaati oleh semua anak-cucunya. Namun dengan perjalanan waktu, kian lama ketentuan-ketentuan itu dilupakan dan diabaikan oleh cicit-cicit Adam yang datang belakangan.